BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Sistem
Istilah
sistem berasal dari bahasa Yunani “systema” yang mempunyai pengertian :
1.
Suatu keseluruhan yang tersususn dari sekian
banyak bagian (“whole compounded of several parts”) – Shorde fan Voich, 1974 :
115
2.
Hubungan yang berlangsung diantara
satuan-satuan atau komponen secara teratur ( “an organized, functiong relationship
among units or compoments”).
Menurut
N. Jordan dalam bukunya Some Thinking about System (1960) yang dikutip dalam
Tatang M. Amirin (1984 : 6) ada 15 macam sistem yang harus diketahui agar dalam
penggolangannya tidak salah. Salah satunya :
a.
Sistem yang digunakan untuk menunjuk suatu
kumpulan atau himpunan benda-benda yang dipadukan oleh suatu bentuk yang
berkaitan. Contoh : sistem tata surya.
b.
Sistem yang digunakan untuk menyebutkan
alat-alat atau organ secara keseluruhan. Contoh : system saraf.
c.
Sistem yang menunjukan sehimpunan gagasan (ide)
yang tersusun dan terorganisasikan. Contoh : sistem pemerintahan.
d.
Sistem yang digunakan untuk menunjukan suatu
hipotesis atau suatu teori. Contoh : sistematik.
e.
Sistem yang digunakan dalam tata cara atau
metode. Contoh : sistem modul dalam pelajaran.
f.
Sistem yang dipergunakan untuk menunjukan
pengertian skema atau metode pengaturan organisasi atau susunan, atau mode
tatacara. Contoh : sistem pengelompokan bahan pustaka.
Jadi, menurut kedua pengarang
tersebut sistem menunjukan dua hal yaitu :
a.
Sistem sebagai suatau wujud (entitas)
Suatu
sistem biasa dianggap merupakan “ suatu himpunan bagian yang saling berkaitan
yang membentuk satu keseluruhan yang rumit atau kompleks tetapi merupakan satu
kesatuan. Misalnya sistem dari suatu mobil, paguyuban, dan lembaga. Sistem ini
pada dasarnya bersifat deskriptif yaitu bersifat menggambarkan karena berwujud
yang kadang kala malah mempermudah dalam pemecahan suatu masalah jika dilihat
dari segi sistemnya.
b.
Sistem sebagai suatu Metode
Dalam
hal ini metode lebih menunjukan pada tatacara (prosedur) sehingga lebih
bersifat metodelogik yang maknanya lebih secara rasional dan logika jika
memecahkan suatu masalah. Contoh dari perbedaan sistem sebagai suatu wujud dan
system sebagai suatu metode.
·
Untuk wujud: Jika ada sebuah mobil versus.
·
Untuk metode: Ada mobil versus yang bisa
memberikan layanan transportasi yang ekonomis.
Jadi
yang dinamakan sistem itu menurut rumusan lengkap adalah sehimpunan unsur yang
melakukan suatu kegiatan atau menyusun skema atau tatacara melakukan suatu
kegiatan pemrosesan untuk mencapai sesuatu atau beberapa tujuan dengan cara
melakukan pengolahan suatu barang atau energi dalam waktu tertentu dan
menghasilkan suatu informasiatau suatu benda.
B.
Komponen-Komponen Sistem Pembelajaran PAI
Belajar mengajar sebagai suatu sistem
instruksional mengacu kepada pengertian sebagai seperangkat komponen yang
saling bergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan. Agar tujuan itu
tercapai, semua komponen yang ada harus diorganisasikan secara sinergis dan
sistematik.
Sistem
adalah suatu kesatuan yang terdiri atas komponen-komponen yang terpadu dan
diproses untuk mencapai tujuan (Gordon, 1990; Puxty, 1990). Proses belajar
mengajar sebagai suatu sistem, komponen-komponennya terdiri atas:
1. Siswa
Teori didaktik metodik telah bergeser dalam
menempatkan siswa sebagai komponen Proses Belajar Mengajar (PBM). Siswa yang
semula dipandang sebagai objek pendidikan, bergeser menjadi subjek pendidikan
sebagai subjek, siswa adalah kunci dari semua pelaksanaan pendidikan. Tiada
pendidikan tanpa anak didik. Untuk itu, siswa harus dipahami dan dilayani
sesuai dengan hak-hak dan tanggung jawabnya sebagai siswa.
2. Guru
Guru adalah sebuah profesi. Oleh sebab itu,
pelaksanaan tugas guru harus profesional. Walaupun seorang guru sebagai
individu memiliki kebutuhan pribadi dan memiliki keunikan tersendiri sebagai
pribadi, namun guru mengemban tugas mengantarkan anak didiknya mencapai tujuan.
Untuk itu, guru harus menguasai seperangkat kemampuan yang disebut kompotensi
guru.
3. Tujuan
Tujuan yang dipahami oleh guru meliputi tujuan
berjenjang mulai dari tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional, tujuan
kulikuler, tujuan umum pembelajaran, samapai tujuan khusus pembelajaran. Proses
belajar mengajar tanpa tujuan bagaikan hidup tanpa arah. Oleh sebab itu,tujuan
pendidikan secara keseluruhan harus dikuasai dikuasai oleh guru.
4. Materi
Materi pembelajaran dalam arti luas tidak
hanya yang tertuang dalam buku paket yang diwajibkan, akan tetapi mencakup
keseluruhan materi pembelajaran. Setiap aktivitas belajar mengajar pasti harus
ada materinya.
5. Metode
Metode mengajar adalah cara atau teknik
penyampaian materi pembelajaran yang harus dikuasai oleh guru. Motode mengajar
ditetapkan berdasarkan tujuan dan materi pembelajaran, serta karakteristik
anak.
6. Sarana atau Alat
Agar materi pembelajaran lebih mudah dipahami
oleh siswa, maka dalam proses belajar
mengajar digunakan alat pembelajaran.
Alat pembelajaran dapat berupa benda yang sesugguhnya, imitasi atau
tiruan, gambar, bagan, grafik, tabulasi dan sebagainya, imitasi atau tiruan,
gambar, bagan, grafik, tabulasi dan sebagainya yang dituangkan dalam media.
7. Evaluasi
Evaluasi dapat
digunakan untuk menyusun gradasi kemampuan anak didik, sehingga ada
penanda simbolis yang dilaporkan kepada semua pihak.
·
Evaluasi dilaksanakan secara komprehensif, objektif, kooperatif, dan
efektif.
·
Evaluasi dilaksanakan berpedoman pada tujuan dan materi pembelajaran.
8. Lingkungan
Lingkungan pembelajaran merupakan komponen PBM
yang sangat penting demi suksesnya belajar siswa. Lingkungan fisik, lingkungan
sosial, lingkungan alam, dan lingkungan psikologis pada waktu PBM berlangsung.
Semua komponen PBM itu harus dikelola
sedemikian rupa, sehingga belajar anak dapat maksimal untuk mencapai hasil yang
maksimal pula.
Menurut
Wina Sanjaya (2011 : 9-13) Untuk penelahaan sistem pembelajaran secara mendalam
sesungguhnya dalam sistem pembelajaran terdapat beberapa komponen penyusun yang
berperan dalam pelancaran mekanisme organisasi pembelajaran. Di antara beberapa
komponen tersebut sangat berperan penting bagi terwujudnya tujuan pembelajaran,
bahkan diantaranya merupakan komponen utama dan yang paling vital. Diantara
beberapa komponen dalam sistem pembelajaran adalah:
a)
Peserta didik
Mahasiswa
sebagai peserta didik dalam sistem pembelajaran PAI merupakan komponen pertama,
utama, dan yang paling penting (vital). Dalam proses pembelajaran mahasiswa
harus dijadikan pusat dari segala kegiatan, keputusan, dan pembentukan suasana
pembelajaran. Dengan demikian berarti segala sesuatu yang berkaitan dengan
perencanaan dan desain pembelajaran harus disesuaikan dengan kondisi mahasiswa,
baik kondisi kemampuan dasar, minat, bakat, motivasi, dan berbagai keberagaman
di antara beberapa mahasiswa di lingkungan pembelajaran.
b)
Tujuan
Tujuan
merupakan salah satu komponen dalam sistem pembelajaran yang berkaitan dengan
misi dan visi suatu lembaga pendidikan. Dengan kata lain sebuah proses
pembelajaran pada mata kuliah PAI harus dimiliki tujuan pembelajaran yang
diturunkan dari tujuan institusional atau tujuan lembaga perguruan tinggi.
Komponen ini adalah komponen yang penting, oleh karena itu harus dituangkan
dalam bentuk tulisan pada sebuah draft perencanaan pembelajaran sehingga
komponen tujuan ini dirumuskan sejak awal untuk penentuan arah dan bahan apa
yang digunakan dalam pembelajaran.
c)
Kondisi
Kondisi
atau keadaan dalam proses pembelajaran diupayakan dapat menjadi penggugah
mahasiswa berperan aktif baik secara fisik maupun non fisik dalam pembelajaran,
berinisiatif dalam pemecahan masalah, dan dimilikinya nalar yang logis oleh
mahasiswa dalam penyampaian sebuah teori-teori yang ditemukannya dari beberapa
sumber. Oleh karena itu kondisi atau suasana pembelajaran dalam perkuliahan
dirancang secara matang agar tercapainya tujuan khusus yang telah disepakati
bersama.
d)
Sumber-Sumber Belajar
Sumber
belajar tidak hanya berupa buku ataupun sumber-sumber yang tertulis semata,
namun sumber belajar merupakan segala sesuatu yang punya kemampuan dalam
penambahan dan pengisian pengalaman-pengealaman pembelajaran bagi mahasiswa.
Dengan demikian maka lingkungan fisik seperti lingkungan pembelajaran, bahan
atau alat ajar, dosen, petugas perpustakaan atau siapa saja yang mampu berperan
dalam pemberian pengaruh baik langsung maupun tidak langsung untuk keberhasilan
dalam terwujudnya pengalaman pembelajaran disebut sumber belajar.
e)
Hasil Belajar
Dalam
sistem pembelajaran komponen hasil belajar menjadi tolak ukur tercapainya
kemampuan mahasiswa yang sesuai dengan tujuan khusus yang telah direncanakan.
Oleh karena itu diukur terlebih dahulu tingkat kemampuan dan pengetahuan
tentang agama serta intensitas keberagaman (heterogenitas) mahasiswa sebelum
penentuan dan pematokan target hasil belajarnya (tingkat pencapaian) yang
dirancang oleh dosen. Titik tekan hasil belajar akan berbeda dari rombongan
belajar yang satu dengan yang lain, sehingga diyakini setiap rombongan kelas
dimiliki karakter atau ciri khas yang berbeda.
Muhammad
Kholid Fathoni (2005 : 51) mengemukakan bahwa dari penjelasan di atas maka dapat dirumuskan
bahwa khusus untuk sistem pembelajaran PAI terdapat komponen khas yang menjadi
pembeda dengan sistem pembelajaran ilmu pengetahuan umum atau pada mata kuliah
umum lain di antaranya adalah dalam pelaksanaan pembelajaran PAI harus
dilandaskan pada nilai-nilai agama Islam. Dengan kata lain pembelajaran ilmu
PAI bukan sekedar upaya untuk pemberian ilmu pengetahuan yang berorientasi pada
target penguasan materi (peserta didik lebih banyak dalam penghafalan dan
pengimanan terhadap materi begitu saja) yang diberikan pendidik. Akan tetapi
sebagaimana menurut penjelasan di atas pendidik juga ikut andil dalam pemberian
pedoman hidup (pesan pembelajaran) misalnya tentang moralitas (akhlak) kepada
peserta didik yang dapat bermanfaat bagi dirinya dan manusia lain. Komponen
inilah yang ikut andil pada pemberian cetak biru khusus sehingga menjadi ciri
utama pembelajaran PAI.
Menurut
Muhammad Kholid Fathoni (2005 : 52-53) Ciri istimewa lainnya adalah dalam PAI
tidak hanya semata-mata digambarkan pada pembahasan tentang bagaimana umat
Islam dalam beragama namun secara umum ada pembahasan permasalahan yang lebih
luas tentang pentingnya konsep penciptaan ‘kesuksesan’ di dunia hingga akhirat.
Ini berarti dalam PAI seharunya juga ada ‘pendoktrinan’ peserta didik agar saat
fokus pada pembelajaran ilmu pengetahuan umum dimaksudkan untuk digunakan demi
kesejahteraan umat Islam dan tentunya juga bagi manusia lainnya secara umum.
Dapat disimpulkan pembelajaran PAI tidak hanya pengajaran kepada mahasiswa
tentang bagaimana cara bersyiar melalui ibadah dan dakwah yang bersifat
normatif. Namun menjadi pendorong bagi mahasiswa untuk bersyiar Islam dengan
cara dihasilkannya produk ilmu pengetahuan umum, budaya, dan gaya hidup yang
berlapiskan nilai-nilai Islam sehingga bisa bermanfaat bagi masyarakat.
Dengan
demikian PAI sebagai materi dari salah satu mata kuliah yang diberikan pada
mahasiswa bukan hanya sebagai bentuk doktrinasi yang dogmatis semata namun juga
harus bisa menjadi pembangkit nalar logis mahasiswa untuk didalami secara
ilmiah. Dengan kata lain materi PAI tidak dipandang sebagai sebuah materi
khutbah Jumat atau materi ceramah keagamaan yang sering ditemui di masyarakat
berisi tentang dalil-dalil, doktrin-doktrin, dan seruan-seruan mulia
(moralitas) yang bersifat dogma agama
semata. Padahal nasehat-nasehat dan petuah-petuah semuanya itu sering kali
berlawanan dengan kenyataan suasana lingkungan peserta didik, artinya terjadi
disparitas suasana antara ajaran Islam dengan keadaan nyata yang jauh lebih
komplek yang dihadapi oleh peserta didik. Sedang dari sudut pandang lain
menurut Muhammad Kosim dikemukakan tentang PAI sangat sarat dengan nilai (full
value), termasuk dalam penanaman nilai-nilai kasih sayang dan keharmonisan
antar sesama manusia. (Muhammad Kosim 2009 : 219)
C.
Macam - macam Pendekatan Pembelajaran PAI
Menurut
Nur
Uhbiyati (1997 : 18) Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, Pendekatan adalah
proses perbuatan, cara mendekati dan usaha dalam rangka aktifitas penelitian
untuk mengadakan hubungan dengan orang yang diteliti. Metode-metode untuk
mencapai pengertian tentang masalah penelitian. Dalam bahasa Inggris,
pendekatan diistilahkan dengan “approach” dalam bahasa arab disebut dengan
“madkhol”.
Sedangkan
pendidikan islam adalah proses membimbing dengan dan mengarahkan pertumbuhan
dan perkembangan anak didik agar menjadi manusia dewasa sesuai tujuan
pendidikan islam.
Jadi
pendekatan pendidikan agama islam adalah serangkaian asumsi mengenai hakikat
pendidikan islam dan pengajaran agama islam serta belajar agama islam. Macam -
macam Pendekatan Pembelajaran PAI
·
Macam-macam Pendekatan Pengajaran
PAI
Dalam
pengajaran Pendidikan Agama Islam juga membutuhkan pendekatan dalam belajar
mengajar, pendekatan ini merupakan system dalam suatu kesatuan dalam
unsur-unsurnya meliputi : tujuan, materi, alat/sumber belajar dan penilaiannya
yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Macam - macam Pendekatan
Pembelajaran PAI Dalam pelaksanaan Pendidikan Agama Islam dipakai beberapa
pendekatan, yaitu :
1.
Pendekatan Pengalaman
Pendekatan pengalaman
adalah pemberian pengalaman
kepada peserta didik dalam proses
pembelajaran. Dalam pendekatan ini, peserta didik diberi kesempatan untuk
mendapatkan pengalaman baik berupa
pengalaman individu maupun pengalaman kelompok. Contoh metode yang digunakan
antara lain metode ceramah dengan
menggunakan teknik/ strategi every one is a teacher dan listening teams,
metode diskusi dengan menggunakan teknik/strategi active knowledge sharing.
Metode
ceramah merupakan cara menyampaikan materi ilmu pengetahuan dan agama kepada
anak didik dilakukan secara lisan. Yang perlu diperhatikan, hendaknya ceramah
mudah diterima, isinya mudah dipahami serta mampu menstimulasi pendengar (anak
didik) untuk melakukan hal-hal yang baik dan benar dari isi ceramah yang
disampaikan.
Dalam
proses pembelajaran di sekolah, tujuan metode ceramah adalah menyampaikan bahan
yang bersifat informasi (konsep, pengertian, prinsip-prinsip) yang banyak serta
luas.
Secara
spesifik metode ceramah bertujuan untuk:
a.
Menciptakan landasan pemikiran peserta didik
melalui produk ceramah yaitu bahan tulisan peserta sehingga peserta dapat
belajar melalui bahan tertulis hasil ceramah.
b.
Menyajikan garis-garis besar isi pelajaran dan
permasalahan yang terdapat dalam isi pelajaran.
c.
Merangsang peserta didik untuk belajar mandiri
dan menumbuhkan ras ingin tahu memalui pemerkayaan belajar.
d.
Memperkenalkan hal-hal baru dan memberikan
penjelasan secara gamblang.
e.
Sebagai langkah awal untuk metode yang lain
dalam upaya menjelaskan prosedur yang harus ditempuh oleh peserta didik.
Menurut
Abdul Majid (2008 : 137-138) Alasan guru menggunakan metode ceramah harus
benar-benar dapat dipertanggung jawabkan. Metode ceramah ini digunakan karena
pertimbangan :
a.
Anak benar-benar memerlukan penjelasan,
misalnya karena bahan baru atau guna menghindari kesalahpahaman.
b.
Benar-benar tidak ada sumber bahan pelajaran
bagi pserta didik.
c.
Menghadapi peserta didik yang banyak jumlahnya
dan bila menggunakan metode lain sukar diterapkan.
d.
Menghemat biaya, waktu dan peralatan.
Metode
diskusi adalah salah satu teknik belajar mengajar yang dilakukan oleh seorang
guru di sekolah. Di dalam ini proses belajar terjadi, di mana interaksi antara
dua atau lebih individu yang terlibat, saling tukar menukar pengalaman,
informasi, memecahkan masalah dapat terjadi juga semuanya aktif, tidak ada yang
pasif sebagai pendengar saja.
Tujuan penggunaan metode diskusi
adalah:
a.
Dengan diskusi peserta didik didorong
mengguanakan pengalamannya untuk memecahkan masalah, tanpa selalu bergantung
pada pendapat orang lain.
b.
Peserta didik mampu menyatakan pendapatnya
secara lisan, karena hal itu perlu untuk melatih kehidupan yang demokratis.
c.
Diskusi memberi kemungkinan pada peserta didik
untuk belajar berpartisipasi dalam pembicaraan untuk memecahkan suatu masalah
bersama.
2.
Pendekatan
Pembiasaan
Pembiasaan
adalah suatu tingkah laku tertentu yang sifatnya otomatis tanpa
direncanakan terlebih dahulu dan berlaku
begitu saja kadangkala tanpa dipikirkan. Pendekatan pembiasaan dalam pendidikan
berarti memberikan kesempatan kepada
peserta didik terbiasa untuk melakukan sesuatu baik secara individual
ataupun secara kelompok. Contoh metode yang
digunakan antara lain metode latihan dan metode resitasi (penugasan) dengan
menggunakan teknik / strategi Card sort.
Metode
Latihan, Latihan bermaksud agar pengetahuan dan kecakapan tertentu dapat
menjadi milik anak didik dan dikuasai sepenuhnya, sedangkan ulangan hanyalah
untuk sekedar mengukur sejauh mana dia telah menyerap pengajaran tersebut.
Metode melatih anak adalah suatu metode pendidikan dan pengajaran Islam dengan
cara pendidik/guru memberikan latihan-latihan atau tugas-tugas kepada anak
didik terhadap suatu perbuatan tertentu.(Zakiah Daradjat 2001 : 240-241)
Mengenai
pentingnya metode ini dalam pendidikan dan pengajaran Islam yang dinyatakan
oleh al-Ghozali yaitu metode dengan memberikan latihan kepada anak-anak adalah
termasuk hal yang sangat penting.
Adapun
tujuan umum dari metode ini adalah agar anak yang dilatih dapat membentuk
kebiasaan-kebiasaan yang berguna didalam melakukan tugas-tugas atau
kewajiban-kewajibannya. Sebab melalui latihan yang terus menerus maka hal-hal
yang tadinya berat untuk dilaksanakan akan menjadi ringan. Sudah pasti
latihan-latihan yang diberiakn ank haruslah direncanakan dengan sebaik-baiknya
sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah dirumuskan.
Rasulullah
saw juga memandang pentingnya pada metode latihan ini. hal ini terbukti pada
perintah Rasulullah kepada setiap orang tua yang beriman untuk memerintahkan
kepada anak-anaknya yang telah menginjak usia 7 tahun agar melakukan shalat.
Metode
Pemberian Tugas, Yang dimaksud dengan metode ini adalah suatu cara dalam proses
belajar-mengajar bilamana guru memberi
tugas tertentu dan murid mengerjakannya, kemudian tugas tersebut dipertanggung
jawabkan kepada guru. Dengan cara demikian diharapkan agar murid belajar secara
bebas tapi bertanggung jawab dan murid-murid akan berpengalaman mengetahui
berbagai kesulitan kemudian berusaha untuk ikut mengatasi kesulitan-kesulitan.
Tujuan
kegiatan metode ini berada pada murid-murid dan mereka disuguhi bermacam-macam
masalah agar mereka menyelesaikan, menanggapi, dan memikirkan masalah itu.
Yang
penting bagaimana melatih murid agar befikir bebas ilmiah (logis dan
sistematis) sehingga dapat memacahkan problem yang dihadapinya dan dapat
mengatasi serta mempertanggung jawabnya. (Zakiah Daradjat 2001 : 298)
3.
Pendekatan Emosional
Pendekatan
emosional ialah usaha untuk menggugah perasaan dan emosi peserta didik dalam meyakini ajaran islam
serta dapat merasakan mana yang baik dan mana yang buruk. Emosi adalah gejala
kejiwaan yang ada didalam diri
seseorang. Emosi berhubungan dengan masalah perasaan. Seseorang yang mempunyai
perasaan pasti dapat merasakan sesuatu,
baik perasaan jasmaniah maupun perasaan ruhaniah. Di dalam perasaan ruhaniah
tercakup perasaan intelektual, perasaan etis-estetis, perasaan sosial, dan
perasaan harga diri.
Emosi berperan dalam pembentukan kepribadian
seseorang. Untuk itu, pendekatan emosional perlu dijadikan salah satu pendekatan. Metode yang
digunakan seperti metode bercerita dengan menggunakan teknik/strategi
assessment search.
Metode
cerita, Cerita termasuk salah satu media pengajaran yang sukses. Ia merupakan
suatu cara pendidikan yang disenangi anak-anak dan orang dewasa. Murid-murid
pada tingkatan umur menyukai cerita-cerita tertentu dan senang membacanya.
4.
Pendekatan Rasional
Pendekatan
rasional adalah suatu pendekatan
menggunakan rasio (akal) dalam memahami dan menerima materi pelajaran.
Metode yang digunakan seperti diskusi dengan menggunakan teknik active debate.
Metode
diskusi merupakan salah satu cara mendidik yang berupaya memecahkan masalah
yang dihadapi, baik dua orang atau lebih yang masing-masing mengajukan argumentasinya
untuk memperkuat pendapatnya. Dalam proses pembelajaran metode ini mendapatkan
pehatian yang lebih khusus, karena dengan metode diskusi dapat merangsang siswa
berpikir atau mengeluarkan pendapat sendiri. Selain untuk memecahkan suatu
permasalahan, menjawab pertanyaan menambah dan pengetahuan siswa, juga untuk
melatih siswa berfikir kritis terhadap permasalahan yang ada, dengan berlatih
menemukakan pendapat sendiri.
Metode
diskusi bukan hanya percakapan atau debat biasa saja, akan tetapi diskusi timbul
karena adanya permasalahan yang memerlukan jawaban dan jalan keluarnya dari permasalahan
tersebut, atau terdapat berbagai jawaban yang perlu diselesaikan. Oleh karena
itu dalam pelaksanaannya, peranan guru sangat penting dalam rangka menghidupkan
kegairaan siswa berdiskusi. Oleh karena itu, pertama guru harus berusaha
semaksimal mungkin agar siwa turut aktif
dan berperan dalam diskusi tersebut. Kedua, berlaku bijasana dalam
mengatur dan mengarahkan diskusi, agar berjalan dengan lancar dan aman. Ketiga,
memberikan kesimpulan hasil diskusi.
5.
Pendekatan Fungsional
Pendekatan
fungsional adalah pendekatan yang menekankan pada kemanfaatan yang sedang
diajarkan kepada peserta didik. Metode yang digunakan seperti demonstrasi dan
eksperimen dengan menggunakan teknik atau strategi.
Metode
demonstrasi adalah cara penyajian materi pelajaran dengan meragakan atau
mempertunjukkan kepada peserta didik suatu proses, keadaan atau benda tertentu
yang sedang dipelajari, baik yang sebenarnya ataupun tiruan, yang sering disertai
penjelasan lisan.
Contoh :
Pada
saat anak didik mendemonstrasikan shalat, guru harus mengamati langkah demi
langkah dari setiap gerak-gerik murid tersebut, sehingga kalau ada segi-segi
yang kurang, guru berkewajiban memperbaikinya. Guru memberi contoh lagi tentang
pelaksanaan yang baik dan betul pada bagian-bagian yang masih dianggap kurang
baik.
Dibidang
studi umum, studi olah ragalah yang paling tepat digunakan metode demonstrasi,
yaitu murid yang dianggap trampil mendemonstrasikan loncat tinggi, loncat
tinggi, loncat jauh dan sebagainya.
Metode
Eksperimen, Metode ini biasanya dilakukan dalam suatu pelajaran tertentu
seperti ilmu alam, ilmu kimia, dan sejenisnya, biasanya terhadap ilmu-ilmu alam
yang didalam penelitiannya menggunakan metode yang sifatnya objektif, baik
dilakukan di dalam / di luar kelas maupun dalam suatu laboratorium tertentu.
Metode
eksperimen ini hendaknya diterapkan bagi pelajaran-pelajaran yang belum
diterangkan/diajarkan oleh metode lain sehingga terasa benar fungsinya. Karena
setelah diadakan percobaan-percobaan barulah guru memberikan penjelasan atau
kalau perlu diadakan diskusi terhadap masalah-masalah yang ditemukan dalam
eksperimen tersebut.
Contohnya:
Sebatang
bibit belimbing ditanam berdampingan dengan sebatang bibit cabe. Dalam
pertumbuhannya, sama-sama memerlukan zat-zat dari tanah, udara, cahaya,
matahari, pupuk, dan sebagainya.tetapi setelah berubah, belimbing tetap
menghasilkan buah belimbing yang rasanya asam-asam manis, cabe tetap
menghasilkan cabe dengan rasanya yang pedas. Pada saat itu kita dapat berkata
kepada murid-murid begitulah kebesaran Allah swt, yang telah mengatur alam
semesta dan makhluk-makhluk termasuk pohon belimbing yang berdekatan dengan
pohon cabe tersebut.
6.
Pendekatan Keteladanan
Menurut
Ahmad Falah (2010 : 90-91) Pendekatan keteladanan adalah pendekatan pendidikan
dan pengajarannya dengan cara pendidik/guru memberikan contoh-contoh teladan
yang baik kepada anak didik, agar ditiru dan dilaksanakan. Pendekatan ini
sangat tepat apabila digunakan untuk mendidik atau mengajar akhlak, karena
untuk pelajaran akhlak dituntut adanya contoh keteladanan dari pihak guru itu
sendiri atau keteladanan seorang tokoh-tokoh besar seperti riwayat-riwayat
orang besar, para pahlawan dan para syuhada’ termasuk para nabi. Apa lagi bagi
anak usia MI atau SD ke bawah, yang masih yang masih didominasi oleh sifat
menirunya terhadap apa yang didengarnya,dan diperbuat orang dewasa yang ada
disekitarnya. Contoh metode yang digunakan seperti sosio-drama dengan menggunakan
teknik role play.
Metode Sosiodrama
Drama
atau sandiwara dilakukan oleh sekelompok orang, untuk memainkan suatu cerita
yang telah disusun naskah ceritanya dan dipelajari sebelum dimainkan. Adapun
cara melakunya harus memahami lebih dahulu tentang peranan masing-masing yang
akan dibawakannya.
Metode
sosiodrama adalah juga semacam drama atau sandiwara, akan tetapi tidak
disiapkan naskahnya terlebih dahulu. Metode sosiodrama ini dapat dilaksanakan
terutama dalam bidang studi kesenian atau dapat juga dilaksanakan dalam bidang
sejarah. Dalam bidang studi Agama dapat dilaksanakan terutama dalam bidang
Sejarah Islam. Metode sosiodrama ini dilakukan setelah guru menjelaskan tentang
suatu hal yang menyangkut bidang studi agama.
Contoh :
Misalnya
bagaimana sikap sahabat Nabi diantaranya Umar bin Khattab tatkala masuk Islam.
Semula dia adlah seorang yang keras menentang Islam tiba-tiba setelah
mendengarkan berkumandangnya ayat-ayat al-Qur’an yang dibaca oleh adik
kandungnya sendiri, maka tergugahlah untuk memluk agama Islam. Perubahan sikap
dari pahlawan kafir quraisy menjadi pahlawan Islam dapat digambarkan dalam
bentuk drama, yang dicoba diperankan oleh anak didik sendiri didepan
rekan-rekannya.
Kesan
dari drama yang dimainkannya sendiri akan besar pengaruhnya pada perkembangan
jiwa anak didik baik yang langsung berperan dalam sandiwara, maupun yang
menyaksikannya. Oleh karena itu metode sosiodrama ini akn lebih banyak
berpengaruh terhadap perubahan sikap kepribadian anak didik.
D.
Pengembangan Pendekatan Belajar dan
Pembelajaran PAI
·
Pola Pengembangan
Pendidikan Agama Islam
Muhaimin (2004 : 156) Pola Pembelajaran adalah model yang
menggambarkan kedudukan serta peran guru dan pelajar dalam proses pembelajaran.
Pada awalnya, pola pembelajaran didominasi oleh guru sebagai satu-satunya
sumber belajar, penentu metode belajar, bahkan termasuk penilai kemajuan
belajar pelajar. Kondisi tersebut tampak pada pola pembelajaran sebagai
berikut:
|
|
|
|
Perkembangan pembelajaran telah mempengaruhi pola pembelajaran. Guru yang
semula sebagai satu-satunya sumber belajar, peranannya mulai dibantu media
pembelajaran sehingga proses pembelajaran tampak berubah lebih efisien. Pola
ini dapat diamati pada diagram berikut :
|
|
|
Pembelajaran terus mengalami perkembangan sejalan dengan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Karena itu, kuranglah memadai kalau sumber belajar
hanya berasal dari guru atau berupa media buku teks atau audio visual.
Kondisi ini mulai dirasakan perlu ada cara baru dalam mengkomunikasikan pesan
verbal maupun nonverbal. Kecenderungan pembelajaran dewasa ini adalah sistem
belajar mandiri dalam program terstruktur. Untuk itu perlu dipersiapkan sumber
belajar secara khusus yang memungkinkan dapat dipergunakan pelajar secara
langsung. Sumber belajar jenis ini lazimnya berupa media yang dipersiapkan oleh
kelompok guru dengan tenaga ahli media sehingga hasilnya dapat dimanfaatkan
sebagai media pembelajaran. Guru dan ahli media berinteraksi dengan pelajar
berdasarkan satu tanggung jawab bersama. Pola pembelajaran jenis ini dapat
dicermati pada diagram berikut:[2]
|
![]() |
|||

|
|
Dalam diagram tersebut terlihat kerjasama guru dengan guru ahli media,
sangat membantu kegiatan belajar pelajar dan di sisi lain peran guru dalam
pembelajaran terbantu oleh penggunaan media pembelajaran.
Sejalan dengan meningkatnya kebutuhan akan kualitas tenaga guru yang
profesional, salah satu jalan yang dapat ditempuh adalah dengan membekali para
guru agar mampu mengembangkan berbagai media pembelajaran. Guru dapat
mempersiapkan bahan pembelajaran yang sistematis dan terprogram seperti buku
ajar, modul atau media lain yang dapat menunjang kegiatan pembelajaran. Dengan
demikian, pelajar akan lebih mandiri dalam melakukan kegiatan pembelajaran.
|
|
|
Keempat pola dasar pembelajaran tersebut masih mungkin dikombinasikan
supaya proses pembelajaran sebagai suatu sistem dapat berjalan secara lebih
efektif dan efisien. Kombinasi keempat pola dasar pembelajaran tersebut dapat
diamati pada diagram berikut :[3]
Sistem
![]() |
|
|
|
|
Arus Balik
dan Evaluasi
Dari diagram tersebut tampak sekali bahwa pola pembelajaran dapat dijalani
melalui interaksi antara guru, guru media (media berfungsi guru), dan guru
dengan media dengan pelajar. Sumber belajar bagi pelajar bisa berupa guru,media
yang dirancang oleh guru, dan guru dengan media yang merupakan suatu sistem
dalam proses pembelajaran.
Dalam praktiknya tidak ada pola pembelajaran yang baku dan dapat digunakan
dalam berbagai kondisi pembelajaran. Berbagai pola tersebut saling berbaur dan
melengkapi satu dengan yang lainnya. Secara operasional, penerapan pola
pembelajaran tersebut mempunyai ciri pokok, antara lain :
·
Fasilitas fisik sebagai perantara
penyajian informasi.
·
Sistem pembelajaran dan pemanfaatan
fasilitas yang merupakan komponen terpadu.
Adanya pilihan yang memungkinkan terjadinya (1) perubahan fisik tempat
belajar, (2) hubungan guru dan pelajar yang dibantu media, (3) aktifitas
peserta didik yang lebih mandiri, (4) perlunya kerjasama lintas disiplin ilmu
seperti ahli instruksional, ahli media pembelajaran, (5) perubahan peranan dan
kecakapan mengajar, dan (6) keluwesan waktu dan tempat belajar.[4]
Dari model seperti itu selain ditunjang dengan adanya media ataupun sumber
belajar lain, disini kebeadaan guru juga harus bisa menyeimbangkan antar materi
yang akan disampaikan dengan keahlian yang dimiliki, karena hal ini sangat
membantu dalam proses pembelajaran.
BAB III
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Majid, Perencanaan
Pembelajaran, PT Remaja Rosdakarya, Bandung: 2008
Ahmad Falah, Aspek-aspek
Pendidikan Islam, Idea Press Yogyakarta, Yogyakart; 2010,
Heri Gunawan, Kurikulum dan
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Alfabeta, Bandung: 2012,
Muhaimin, Paradigma
Pendidikan Islam, Bandung : Remaja Rosdakarya, 2004.
Muhammad Kholid Fathoni, Pendidikan
Islam dan Pendidikan Nasional [Pardigma Baru], Jakarta: Depag RI Dirjen Kelembagaan
Agama Islam, 2005.
Muhammad Kosim, Sistem
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berwawasan Multikultural, dalam Pendidikan
Agama Islam dalam Prespektif Multikulturalisme, ed. Zainal Abidin &
Neneng Habibah, Jakarta: Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta, 2009.
Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan
Islam, Bandung : CV Pustaka setia, 1997.
Wina Sanjaya, Perencanaan dan
Desain Sistem Pembelajaran, Jakarta:
Kencana, 2011.
Zakiah Daradjat, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, Bumi
Aksara, Jakarta; 2001,


Tidak ada komentar:
Posting Komentar