Jumat, 29 April 2016

sistep pembelajaran PAI



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Sistem
            Istilah sistem berasal dari bahasa Yunani “systema” yang mempunyai pengertian :
1.      Suatu keseluruhan yang tersususn dari sekian banyak bagian (“whole compounded of several parts”) – Shorde fan Voich, 1974 : 115
2.      Hubungan yang berlangsung diantara satuan-satuan atau komponen secara teratur ( “an organized, functiong relationship among units or compoments”).
            Menurut N. Jordan dalam bukunya Some Thinking about System (1960) yang dikutip dalam Tatang M. Amirin (1984 : 6) ada 15 macam sistem yang harus diketahui agar dalam penggolangannya tidak salah. Salah satunya :
a.       Sistem yang digunakan untuk menunjuk suatu kumpulan atau himpunan benda-benda yang dipadukan oleh suatu bentuk yang berkaitan. Contoh : sistem tata surya.
b.      Sistem yang digunakan untuk menyebutkan alat-alat atau organ secara keseluruhan. Contoh : system saraf.
c.       Sistem yang menunjukan sehimpunan gagasan (ide) yang tersusun dan terorganisasikan. Contoh : sistem pemerintahan.
d.      Sistem yang digunakan untuk menunjukan suatu hipotesis atau suatu teori. Contoh : sistematik.
e.       Sistem yang digunakan dalam tata cara atau metode. Contoh : sistem modul dalam pelajaran.
f.       Sistem yang dipergunakan untuk menunjukan pengertian skema atau metode pengaturan organisasi atau susunan, atau mode tatacara. Contoh : sistem pengelompokan bahan pustaka.

Jadi, menurut kedua pengarang tersebut sistem menunjukan dua hal yaitu :
a.       Sistem sebagai suatau  wujud (entitas) 
            Suatu sistem biasa dianggap merupakan “ suatu himpunan bagian yang saling berkaitan yang membentuk satu keseluruhan yang rumit atau kompleks tetapi merupakan satu kesatuan. Misalnya sistem dari suatu mobil, paguyuban, dan lembaga. Sistem ini pada dasarnya bersifat deskriptif yaitu bersifat menggambarkan karena berwujud yang kadang kala malah mempermudah dalam pemecahan suatu masalah jika dilihat dari segi sistemnya.
b.      Sistem sebagai suatu Metode
            Dalam hal ini metode lebih menunjukan pada tatacara (prosedur) sehingga lebih bersifat metodelogik yang maknanya lebih secara rasional dan logika jika memecahkan suatu masalah. Contoh dari perbedaan sistem sebagai suatu wujud dan system sebagai suatu metode.
·         Untuk wujud: Jika ada sebuah mobil versus.
·         Untuk metode: Ada mobil versus yang bisa memberikan layanan transportasi yang ekonomis.
            Jadi yang dinamakan sistem itu menurut rumusan lengkap adalah sehimpunan unsur yang melakukan suatu kegiatan atau menyusun skema atau tatacara melakukan suatu kegiatan pemrosesan untuk mencapai sesuatu atau beberapa tujuan dengan cara melakukan pengolahan suatu barang atau energi dalam waktu tertentu dan menghasilkan suatu informasiatau suatu benda.
B.     Komponen-Komponen Sistem Pembelajaran PAI
Belajar mengajar sebagai suatu sistem instruksional mengacu kepada pengertian sebagai seperangkat komponen yang saling bergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan. Agar tujuan itu tercapai, semua komponen yang ada harus diorganisasikan secara sinergis dan sistematik.
            Sistem adalah suatu kesatuan yang terdiri atas komponen-komponen yang terpadu dan diproses untuk mencapai tujuan (Gordon, 1990; Puxty, 1990). Proses belajar mengajar sebagai suatu sistem, komponen-komponennya terdiri atas:
1.      Siswa
Teori didaktik metodik telah bergeser dalam menempatkan siswa sebagai komponen Proses Belajar Mengajar (PBM). Siswa yang semula dipandang sebagai objek pendidikan, bergeser menjadi subjek pendidikan sebagai subjek, siswa adalah kunci dari semua pelaksanaan pendidikan. Tiada pendidikan tanpa anak didik. Untuk itu, siswa harus dipahami dan dilayani sesuai dengan hak-hak dan tanggung jawabnya sebagai siswa.
2.      Guru
Guru adalah sebuah profesi. Oleh sebab itu, pelaksanaan tugas guru harus profesional. Walaupun seorang guru sebagai individu memiliki kebutuhan pribadi dan memiliki keunikan tersendiri sebagai pribadi, namun guru mengemban tugas mengantarkan anak didiknya mencapai tujuan. Untuk itu, guru harus menguasai seperangkat kemampuan yang disebut kompotensi guru.
3.      Tujuan
Tujuan yang dipahami oleh guru meliputi tujuan berjenjang mulai dari tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional, tujuan kulikuler, tujuan umum pembelajaran, samapai tujuan khusus pembelajaran. Proses belajar mengajar tanpa tujuan bagaikan hidup tanpa arah. Oleh sebab itu,tujuan pendidikan secara keseluruhan harus dikuasai dikuasai oleh guru.
4.      Materi
Materi pembelajaran dalam arti luas tidak hanya yang tertuang dalam buku paket yang diwajibkan, akan tetapi mencakup keseluruhan materi pembelajaran. Setiap aktivitas belajar mengajar pasti harus ada materinya.
5.      Metode
Metode mengajar adalah cara atau teknik penyampaian materi pembelajaran yang harus dikuasai oleh guru. Motode mengajar ditetapkan berdasarkan tujuan dan materi pembelajaran, serta karakteristik anak.
6.      Sarana atau Alat
Agar materi pembelajaran lebih mudah dipahami oleh siswa,  maka dalam proses belajar mengajar digunakan alat pembelajaran.  Alat pembelajaran dapat berupa benda yang sesugguhnya, imitasi atau tiruan, gambar, bagan, grafik, tabulasi dan sebagainya, imitasi atau tiruan, gambar, bagan, grafik, tabulasi dan sebagainya yang dituangkan dalam media.
7.      Evaluasi
Evaluasi dapat  digunakan untuk menyusun gradasi kemampuan anak didik, sehingga ada penanda simbolis yang dilaporkan kepada semua pihak.
·         Evaluasi dilaksanakan secara komprehensif, objektif, kooperatif, dan efektif.
·         Evaluasi dilaksanakan berpedoman pada tujuan dan materi pembelajaran.

8.      Lingkungan
Lingkungan pembelajaran merupakan komponen PBM yang sangat penting demi suksesnya belajar siswa. Lingkungan fisik, lingkungan sosial, lingkungan alam, dan lingkungan psikologis pada waktu PBM berlangsung.
Semua komponen PBM itu harus dikelola sedemikian rupa, sehingga belajar anak dapat maksimal untuk mencapai hasil yang maksimal pula.
Menurut Wina Sanjaya (2011 : 9-13) Untuk penelahaan sistem pembelajaran secara mendalam sesungguhnya dalam sistem pembelajaran terdapat beberapa komponen penyusun yang berperan dalam pelancaran mekanisme organisasi pembelajaran. Di antara beberapa komponen tersebut sangat berperan penting bagi terwujudnya tujuan pembelajaran, bahkan diantaranya merupakan komponen utama dan yang paling vital. Diantara beberapa komponen dalam sistem pembelajaran adalah:
a)      Peserta didik
            Mahasiswa sebagai peserta didik dalam sistem pembelajaran PAI merupakan komponen pertama, utama, dan yang paling penting (vital). Dalam proses pembelajaran mahasiswa harus dijadikan pusat dari segala kegiatan, keputusan, dan pembentukan suasana pembelajaran. Dengan demikian berarti segala sesuatu yang berkaitan dengan perencanaan dan desain pembelajaran harus disesuaikan dengan kondisi mahasiswa, baik kondisi kemampuan dasar, minat, bakat, motivasi, dan berbagai keberagaman di antara beberapa mahasiswa di lingkungan pembelajaran.
b)      Tujuan
            Tujuan merupakan salah satu komponen dalam sistem pembelajaran yang berkaitan dengan misi dan visi suatu lembaga pendidikan. Dengan kata lain sebuah proses pembelajaran pada mata kuliah PAI harus dimiliki tujuan pembelajaran yang diturunkan dari tujuan institusional atau tujuan lembaga perguruan tinggi. Komponen ini adalah komponen yang penting, oleh karena itu harus dituangkan dalam bentuk tulisan pada sebuah draft perencanaan pembelajaran sehingga komponen tujuan ini dirumuskan sejak awal untuk penentuan arah dan bahan apa yang digunakan dalam pembelajaran.
c)      Kondisi
            Kondisi atau keadaan dalam proses pembelajaran diupayakan dapat menjadi penggugah mahasiswa berperan aktif baik secara fisik maupun non fisik dalam pembelajaran, berinisiatif dalam pemecahan masalah, dan dimilikinya nalar yang logis oleh mahasiswa dalam penyampaian sebuah teori-teori yang ditemukannya dari beberapa sumber. Oleh karena itu kondisi atau suasana pembelajaran dalam perkuliahan dirancang secara matang agar tercapainya tujuan khusus yang telah disepakati bersama.
d)     Sumber-Sumber Belajar
            Sumber belajar tidak hanya berupa buku ataupun sumber-sumber yang tertulis semata, namun sumber belajar merupakan segala sesuatu yang punya kemampuan dalam penambahan dan pengisian pengalaman-pengealaman pembelajaran bagi mahasiswa. Dengan demikian maka lingkungan fisik seperti lingkungan pembelajaran, bahan atau alat ajar, dosen, petugas perpustakaan atau siapa saja yang mampu berperan dalam pemberian pengaruh baik langsung maupun tidak langsung untuk keberhasilan dalam terwujudnya pengalaman pembelajaran disebut sumber belajar.
e)      Hasil Belajar
            Dalam sistem pembelajaran komponen hasil belajar menjadi tolak ukur tercapainya kemampuan mahasiswa yang sesuai dengan tujuan khusus yang telah direncanakan. Oleh karena itu diukur terlebih dahulu tingkat kemampuan dan pengetahuan tentang agama serta intensitas keberagaman (heterogenitas) mahasiswa sebelum penentuan dan pematokan target hasil belajarnya (tingkat pencapaian) yang dirancang oleh dosen. Titik tekan hasil belajar akan berbeda dari rombongan belajar yang satu dengan yang lain, sehingga diyakini setiap rombongan kelas dimiliki karakter atau ciri khas yang berbeda.
            Muhammad Kholid Fathoni (2005 : 51) mengemukakan bahwa dari penjelasan di atas maka dapat dirumuskan bahwa khusus untuk sistem pembelajaran PAI terdapat komponen khas yang menjadi pembeda dengan sistem pembelajaran ilmu pengetahuan umum atau pada mata kuliah umum lain di antaranya adalah dalam pelaksanaan pembelajaran PAI harus dilandaskan pada nilai-nilai agama Islam. Dengan kata lain pembelajaran ilmu PAI bukan sekedar upaya untuk pemberian ilmu pengetahuan yang berorientasi pada target penguasan materi (peserta didik lebih banyak dalam penghafalan dan pengimanan terhadap materi begitu saja) yang diberikan pendidik. Akan tetapi sebagaimana menurut penjelasan di atas pendidik juga ikut andil dalam pemberian pedoman hidup (pesan pembelajaran) misalnya tentang moralitas (akhlak) kepada peserta didik yang dapat bermanfaat bagi dirinya dan manusia lain. Komponen inilah yang ikut andil pada pemberian cetak biru khusus sehingga menjadi ciri utama pembelajaran PAI.
            Menurut Muhammad Kholid Fathoni (2005 : 52-53) Ciri istimewa lainnya adalah dalam PAI tidak hanya semata-mata digambarkan pada pembahasan tentang bagaimana umat Islam dalam beragama namun secara umum ada pembahasan permasalahan yang lebih luas tentang pentingnya konsep penciptaan ‘kesuksesan’ di dunia hingga akhirat. Ini berarti dalam PAI seharunya juga ada ‘pendoktrinan’ peserta didik agar saat fokus pada pembelajaran ilmu pengetahuan umum dimaksudkan untuk digunakan demi kesejahteraan umat Islam dan tentunya juga bagi manusia lainnya secara umum. Dapat disimpulkan pembelajaran PAI tidak hanya pengajaran kepada mahasiswa tentang bagaimana cara bersyiar melalui ibadah dan dakwah yang bersifat normatif. Namun menjadi pendorong bagi mahasiswa untuk bersyiar Islam dengan cara dihasilkannya produk ilmu pengetahuan umum, budaya, dan gaya hidup yang berlapiskan nilai-nilai Islam sehingga bisa bermanfaat bagi masyarakat.
            Dengan demikian PAI sebagai materi dari salah satu mata kuliah yang diberikan pada mahasiswa bukan hanya sebagai bentuk doktrinasi yang dogmatis semata namun juga harus bisa menjadi pembangkit nalar logis mahasiswa untuk didalami secara ilmiah. Dengan kata lain materi PAI tidak dipandang sebagai sebuah materi khutbah Jumat atau materi ceramah keagamaan yang sering ditemui di masyarakat berisi tentang dalil-dalil, doktrin-doktrin, dan seruan-seruan mulia (moralitas)  yang bersifat dogma agama semata. Padahal nasehat-nasehat dan petuah-petuah semuanya itu sering kali berlawanan dengan kenyataan suasana lingkungan peserta didik, artinya terjadi disparitas suasana antara ajaran Islam dengan keadaan nyata yang jauh lebih komplek yang dihadapi oleh peserta didik. Sedang dari sudut pandang lain menurut Muhammad Kosim dikemukakan tentang PAI sangat sarat dengan nilai (full value), termasuk dalam penanaman nilai-nilai kasih sayang dan keharmonisan antar sesama manusia. (Muhammad Kosim 2009 : 219)
C.    Macam - macam Pendekatan Pembelajaran PAI
            Menurut Nur Uhbiyati (1997 : 18) Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, Pendekatan adalah proses perbuatan, cara mendekati dan usaha dalam rangka aktifitas penelitian untuk mengadakan hubungan dengan orang yang diteliti. Metode-metode untuk mencapai pengertian tentang masalah penelitian. Dalam bahasa Inggris, pendekatan diistilahkan dengan “approach” dalam bahasa arab disebut dengan “madkhol”.
            Sedangkan pendidikan islam adalah proses membimbing dengan dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan anak didik agar menjadi manusia dewasa sesuai tujuan pendidikan islam.
            Jadi pendekatan pendidikan agama islam adalah serangkaian asumsi mengenai hakikat pendidikan islam dan pengajaran agama islam serta belajar agama islam. Macam - macam Pendekatan Pembelajaran PAI
·         Macam-macam Pendekatan  Pengajaran  PAI
            Dalam pengajaran Pendidikan Agama Islam juga membutuhkan pendekatan dalam belajar mengajar, pendekatan ini merupakan system dalam suatu kesatuan dalam unsur-unsurnya meliputi : tujuan, materi, alat/sumber belajar dan penilaiannya yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Macam - macam Pendekatan Pembelajaran PAI Dalam pelaksanaan Pendidikan Agama Islam dipakai beberapa pendekatan, yaitu :
1.      Pendekatan Pengalaman
            Pendekatan  pengalaman  adalah  pemberian pengalaman kepada peserta didik  dalam proses pembelajaran. Dalam pendekatan ini, peserta didik diberi kesempatan untuk mendapatkan pengalaman  baik berupa pengalaman individu maupun pengalaman kelompok. Contoh metode yang digunakan antara lain metode ceramah  dengan menggunakan teknik/ strategi every one is a teacher dan listening teams, metode diskusi dengan menggunakan teknik/strategi  active knowledge sharing.
            Metode ceramah merupakan cara menyampaikan materi ilmu pengetahuan dan agama kepada anak didik dilakukan secara lisan. Yang perlu diperhatikan, hendaknya ceramah mudah diterima, isinya mudah dipahami serta mampu menstimulasi pendengar (anak didik) untuk melakukan hal-hal yang baik dan benar dari isi ceramah yang disampaikan.
            Dalam proses pembelajaran di sekolah, tujuan metode ceramah adalah menyampaikan bahan yang bersifat informasi (konsep, pengertian, prinsip-prinsip) yang banyak serta luas.
            Secara spesifik metode ceramah bertujuan untuk:
a.       Menciptakan landasan pemikiran peserta didik melalui produk ceramah yaitu bahan tulisan peserta sehingga peserta dapat belajar melalui bahan tertulis hasil ceramah.
b.      Menyajikan garis-garis besar isi pelajaran dan permasalahan yang terdapat dalam isi pelajaran.
c.       Merangsang peserta didik untuk belajar mandiri dan menumbuhkan ras ingin tahu memalui pemerkayaan belajar.
d.      Memperkenalkan hal-hal baru dan memberikan penjelasan secara gamblang.
e.       Sebagai langkah awal untuk metode yang lain dalam upaya menjelaskan prosedur yang harus ditempuh oleh peserta didik.
            Menurut Abdul Majid (2008 : 137-138) Alasan guru menggunakan metode ceramah harus benar-benar dapat dipertanggung jawabkan. Metode ceramah ini digunakan karena pertimbangan :
a.       Anak benar-benar memerlukan penjelasan, misalnya karena bahan baru atau guna menghindari kesalahpahaman.
b.      Benar-benar tidak ada sumber bahan pelajaran bagi pserta didik.
c.       Menghadapi peserta didik yang banyak jumlahnya dan bila menggunakan metode lain sukar diterapkan.
d.      Menghemat biaya, waktu dan peralatan.
            Metode diskusi adalah salah satu teknik belajar mengajar yang dilakukan oleh seorang guru di sekolah. Di dalam ini proses belajar terjadi, di mana interaksi antara dua atau lebih individu yang terlibat, saling tukar menukar pengalaman, informasi, memecahkan masalah dapat terjadi juga semuanya aktif, tidak ada yang pasif sebagai pendengar saja.
Tujuan penggunaan metode diskusi adalah:
a.       Dengan diskusi peserta didik didorong mengguanakan pengalamannya untuk memecahkan masalah, tanpa selalu bergantung pada pendapat orang lain.
b.      Peserta didik mampu menyatakan pendapatnya secara lisan, karena hal itu perlu untuk melatih kehidupan yang demokratis.
c.       Diskusi memberi kemungkinan pada peserta didik untuk belajar berpartisipasi dalam pembicaraan untuk memecahkan suatu masalah bersama.
2.      Pendekatan  Pembiasaan
            Pembiasaan adalah suatu tingkah laku tertentu yang sifatnya otomatis tanpa direncanakan  terlebih dahulu dan berlaku begitu saja kadangkala tanpa dipikirkan. Pendekatan pembiasaan dalam pendidikan berarti memberikan kesempatan kepada  peserta didik terbiasa untuk melakukan sesuatu baik secara individual ataupun secara kelompok. Contoh  metode yang digunakan antara lain metode latihan dan metode resitasi (penugasan) dengan menggunakan teknik / strategi Card sort.
            Metode Latihan, Latihan bermaksud agar pengetahuan dan kecakapan tertentu dapat menjadi milik anak didik dan dikuasai sepenuhnya, sedangkan ulangan hanyalah untuk sekedar mengukur sejauh mana dia telah menyerap pengajaran tersebut. Metode melatih anak adalah suatu metode pendidikan dan pengajaran Islam dengan cara pendidik/guru memberikan latihan-latihan atau tugas-tugas kepada anak didik terhadap suatu perbuatan tertentu.(Zakiah Daradjat 2001 : 240-241)
            Mengenai pentingnya metode ini dalam pendidikan dan pengajaran Islam yang dinyatakan oleh al-Ghozali yaitu metode dengan memberikan latihan kepada anak-anak adalah termasuk hal yang sangat penting.
            Adapun tujuan umum dari metode ini adalah agar anak yang dilatih dapat membentuk kebiasaan-kebiasaan yang berguna didalam melakukan tugas-tugas atau kewajiban-kewajibannya. Sebab melalui latihan yang terus menerus maka hal-hal yang tadinya berat untuk dilaksanakan akan menjadi ringan. Sudah pasti latihan-latihan yang diberiakn ank haruslah direncanakan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah dirumuskan.
            Rasulullah saw juga memandang pentingnya pada metode latihan ini. hal ini terbukti pada perintah Rasulullah kepada setiap orang tua yang beriman untuk memerintahkan kepada anak-anaknya yang telah menginjak usia 7 tahun agar melakukan shalat.
            Metode Pemberian Tugas, Yang dimaksud dengan metode ini adalah suatu cara dalam proses belajar-mengajar bilamana guru  memberi tugas tertentu dan murid mengerjakannya, kemudian tugas tersebut dipertanggung jawabkan kepada guru. Dengan cara demikian diharapkan agar murid belajar secara bebas tapi bertanggung jawab dan murid-murid akan berpengalaman mengetahui berbagai kesulitan kemudian berusaha untuk ikut mengatasi kesulitan-kesulitan.
            Tujuan kegiatan metode ini berada pada murid-murid dan mereka disuguhi bermacam-macam masalah agar mereka menyelesaikan, menanggapi, dan memikirkan masalah itu.
            Yang penting bagaimana melatih murid agar befikir bebas ilmiah (logis dan sistematis) sehingga dapat memacahkan problem yang dihadapinya dan dapat mengatasi serta mempertanggung jawabnya. (Zakiah Daradjat 2001 : 298)
3.      Pendekatan Emosional
            Pendekatan emosional ialah usaha untuk menggugah perasaan dan emosi  peserta didik dalam meyakini ajaran islam serta dapat merasakan mana yang baik dan mana yang buruk. Emosi adalah gejala kejiwaan  yang ada didalam diri seseorang. Emosi berhubungan dengan masalah perasaan. Seseorang yang mempunyai perasaan pasti  dapat merasakan sesuatu, baik perasaan jasmaniah maupun perasaan ruhaniah. Di dalam perasaan ruhaniah tercakup perasaan intelektual, perasaan etis-estetis, perasaan sosial, dan perasaan harga diri.
            Emosi  berperan dalam pembentukan kepribadian seseorang. Untuk itu, pendekatan emosional perlu  dijadikan salah satu pendekatan. Metode yang digunakan seperti metode bercerita dengan menggunakan teknik/strategi assessment search.
            Metode cerita, Cerita termasuk salah satu media pengajaran yang sukses. Ia merupakan suatu cara pendidikan yang disenangi anak-anak dan orang dewasa. Murid-murid pada tingkatan umur menyukai cerita-cerita tertentu dan senang membacanya.
4.      Pendekatan Rasional
            Pendekatan rasional adalah suatu pendekatan  menggunakan rasio (akal) dalam memahami dan menerima materi pelajaran. Metode yang digunakan seperti diskusi dengan menggunakan  teknik active debate.
            Metode diskusi merupakan salah satu cara mendidik yang berupaya memecahkan masalah yang dihadapi, baik dua orang atau lebih yang masing-masing mengajukan argumentasinya untuk memperkuat pendapatnya. Dalam proses pembelajaran metode ini mendapatkan pehatian yang lebih khusus, karena dengan metode diskusi dapat merangsang siswa berpikir atau mengeluarkan pendapat sendiri. Selain untuk memecahkan suatu permasalahan, menjawab pertanyaan menambah dan pengetahuan siswa, juga untuk melatih siswa berfikir kritis terhadap permasalahan yang ada, dengan berlatih menemukakan pendapat sendiri.
            Metode diskusi bukan hanya percakapan atau debat biasa saja, akan tetapi diskusi timbul karena adanya permasalahan yang memerlukan jawaban  dan jalan keluarnya dari permasalahan tersebut, atau terdapat berbagai jawaban yang perlu diselesaikan. Oleh karena itu dalam pelaksanaannya, peranan guru sangat penting dalam rangka menghidupkan kegairaan siswa berdiskusi. Oleh karena itu, pertama guru harus berusaha semaksimal mungkin agar siwa turut aktif  dan berperan dalam diskusi tersebut. Kedua, berlaku bijasana dalam mengatur dan mengarahkan diskusi, agar berjalan dengan lancar dan aman. Ketiga, memberikan kesimpulan hasil diskusi.
5.      Pendekatan Fungsional
            Pendekatan fungsional adalah pendekatan yang menekankan pada kemanfaatan yang sedang diajarkan kepada peserta didik. Metode yang digunakan seperti demonstrasi dan eksperimen dengan menggunakan teknik atau strategi.
            Metode demonstrasi adalah cara penyajian materi pelajaran dengan meragakan atau mempertunjukkan kepada peserta didik suatu proses, keadaan atau benda tertentu yang sedang dipelajari, baik yang sebenarnya ataupun tiruan, yang sering disertai penjelasan lisan.
Contoh :
            Pada saat anak didik mendemonstrasikan shalat, guru harus mengamati langkah demi langkah dari setiap gerak-gerik murid tersebut, sehingga kalau ada segi-segi yang kurang, guru berkewajiban memperbaikinya. Guru memberi contoh lagi tentang pelaksanaan yang baik dan betul pada bagian-bagian yang masih dianggap kurang baik.
            Dibidang studi umum, studi olah ragalah yang paling tepat digunakan metode demonstrasi, yaitu murid yang dianggap trampil mendemonstrasikan loncat tinggi, loncat tinggi, loncat jauh dan sebagainya.
            Metode Eksperimen, Metode ini biasanya dilakukan dalam suatu pelajaran tertentu seperti ilmu alam, ilmu kimia, dan sejenisnya, biasanya terhadap ilmu-ilmu alam yang didalam penelitiannya menggunakan metode yang sifatnya objektif, baik dilakukan di dalam / di luar kelas maupun dalam suatu laboratorium tertentu.
            Metode eksperimen ini hendaknya diterapkan bagi pelajaran-pelajaran yang belum diterangkan/diajarkan oleh metode lain sehingga terasa benar fungsinya. Karena setelah diadakan percobaan-percobaan barulah guru memberikan penjelasan atau kalau perlu diadakan diskusi terhadap masalah-masalah yang ditemukan dalam eksperimen tersebut.
Contohnya:
            Sebatang bibit belimbing ditanam berdampingan dengan sebatang bibit cabe. Dalam pertumbuhannya, sama-sama memerlukan zat-zat dari tanah, udara, cahaya, matahari, pupuk, dan sebagainya.tetapi setelah berubah, belimbing tetap menghasilkan buah belimbing yang rasanya asam-asam manis, cabe tetap menghasilkan cabe dengan rasanya yang pedas. Pada saat itu kita dapat berkata kepada murid-murid begitulah kebesaran Allah swt, yang telah mengatur alam semesta dan makhluk-makhluk termasuk pohon belimbing yang berdekatan dengan pohon cabe tersebut.
6.      Pendekatan Keteladanan
            Menurut Ahmad Falah (2010 : 90-91) Pendekatan keteladanan adalah pendekatan pendidikan dan pengajarannya dengan cara pendidik/guru memberikan contoh-contoh teladan yang baik kepada anak didik, agar ditiru dan dilaksanakan. Pendekatan ini sangat tepat apabila digunakan untuk mendidik atau mengajar akhlak, karena untuk pelajaran akhlak dituntut adanya contoh keteladanan dari pihak guru itu sendiri atau keteladanan seorang tokoh-tokoh besar seperti riwayat-riwayat orang besar, para pahlawan dan para syuhada’ termasuk para nabi. Apa lagi bagi anak usia MI atau SD ke bawah, yang masih yang masih didominasi oleh sifat menirunya terhadap apa yang didengarnya,dan diperbuat orang dewasa yang ada disekitarnya. Contoh metode yang digunakan seperti sosio-drama dengan menggunakan teknik role play.
Metode Sosiodrama
            Drama atau sandiwara dilakukan oleh sekelompok orang, untuk memainkan suatu cerita yang telah disusun naskah ceritanya dan dipelajari sebelum dimainkan. Adapun cara melakunya harus memahami lebih dahulu tentang peranan masing-masing yang akan dibawakannya.
            Metode sosiodrama adalah juga semacam drama atau sandiwara, akan tetapi tidak disiapkan naskahnya terlebih dahulu. Metode sosiodrama ini dapat dilaksanakan terutama dalam bidang studi kesenian atau dapat juga dilaksanakan dalam bidang sejarah. Dalam bidang studi Agama dapat dilaksanakan terutama dalam bidang Sejarah Islam. Metode sosiodrama ini dilakukan setelah guru menjelaskan tentang suatu hal yang menyangkut bidang studi agama.
Contoh :
            Misalnya bagaimana sikap sahabat Nabi diantaranya Umar bin Khattab tatkala masuk Islam. Semula dia adlah seorang yang keras menentang Islam tiba-tiba setelah mendengarkan berkumandangnya ayat-ayat al-Qur’an yang dibaca oleh adik kandungnya sendiri, maka tergugahlah untuk memluk agama Islam. Perubahan sikap dari pahlawan kafir quraisy menjadi pahlawan Islam dapat digambarkan dalam bentuk drama, yang dicoba diperankan oleh anak didik sendiri didepan rekan-rekannya.
            Kesan dari drama yang dimainkannya sendiri akan besar pengaruhnya pada perkembangan jiwa anak didik baik yang langsung berperan dalam sandiwara, maupun yang menyaksikannya. Oleh karena itu metode sosiodrama ini akn lebih banyak berpengaruh terhadap perubahan sikap kepribadian anak didik.



D.    Pengembangan Pendekatan Belajar dan Pembelajaran PAI
·         Pola Pengembangan Pendidikan Agama Islam
Muhaimin (2004 : 156) Pola Pembelajaran adalah model yang menggambarkan kedudukan serta peran guru dan pelajar dalam proses pembelajaran. Pada awalnya, pola pembelajaran didominasi oleh guru sebagai satu-satunya sumber belajar, penentu metode belajar, bahkan termasuk penilai kemajuan belajar pelajar. Kondisi tersebut tampak pada pola pembelajaran sebagai berikut:
Penetapan Isi dan Metode Pembelajaran
 
Guru
 
Pelajar
 
Tujuan
 
 
 
 
Perkembangan pembelajaran telah mempengaruhi pola pembelajaran. Guru yang semula sebagai satu-satunya sumber belajar, peranannya mulai dibantu media pembelajaran sehingga proses pembelajaran tampak berubah lebih efisien. Pola ini dapat diamati pada diagram berikut :
Guru dengan media
 
Tujuan
 
Penetapan Isi dan Metode Pembelajaran
 
Text Box: Pelajar 
 

Pembelajaran terus mengalami perkembangan sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu, kuranglah memadai kalau sumber belajar hanya berasal dari guru atau berupa media buku teks atau audio visual. Kondisi ini mulai dirasakan perlu ada cara baru dalam mengkomunikasikan pesan verbal maupun nonverbal. Kecenderungan pembelajaran dewasa ini adalah sistem belajar mandiri dalam program terstruktur. Untuk itu perlu dipersiapkan sumber belajar secara khusus yang memungkinkan dapat dipergunakan pelajar secara langsung. Sumber belajar jenis ini lazimnya berupa media yang dipersiapkan oleh kelompok guru dengan tenaga ahli media sehingga hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Guru dan ahli media berinteraksi dengan pelajar berdasarkan satu tanggung jawab bersama. Pola pembelajaran jenis ini dapat dicermati pada diagram berikut:[2]
Guru dengan Audio Visual
 
 








 
Text Box: Pelajar
Tujuan
 
Penetapan Isi dan Metode Pembelajaran
 
 
 
Text Box: Media 

Dalam diagram tersebut terlihat kerjasama guru dengan guru ahli media, sangat membantu kegiatan belajar pelajar dan di sisi lain peran guru dalam pembelajaran terbantu oleh penggunaan media pembelajaran.  
Sejalan dengan meningkatnya kebutuhan akan kualitas tenaga guru yang profesional, salah satu jalan yang dapat ditempuh adalah dengan membekali para guru agar mampu mengembangkan berbagai media pembelajaran. Guru dapat mempersiapkan bahan pembelajaran yang sistematis dan terprogram seperti buku ajar, modul atau media lain yang dapat menunjang kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, pelajar akan lebih mandiri dalam melakukan kegiatan pembelajaran.
Guru media
 
Tujuan
 
Penetapan Isi dan Metode Pembelajaran
 
Text Box: Pelajar 
 

Keempat pola dasar pembelajaran tersebut masih mungkin dikombinasikan supaya proses pembelajaran sebagai suatu sistem dapat berjalan secara lebih efektif dan efisien. Kombinasi keempat pola dasar pembelajaran tersebut dapat diamati pada diagram berikut :[3]
                                                                                         Sistem


 
           
Guru dengan Media
 
Tujuan
 
Penetapan Isi dan Metode Pembelajaran
 
Text Box: Pelajar 
Guru media
 
 


 
                                                                                                                                         
 
             Arus Balik dan Evaluasi
Dari diagram tersebut tampak sekali bahwa pola pembelajaran dapat dijalani melalui interaksi antara guru, guru media (media berfungsi guru), dan guru dengan media dengan pelajar. Sumber belajar bagi pelajar bisa berupa guru,media yang dirancang oleh guru, dan guru dengan media yang merupakan suatu sistem dalam proses pembelajaran.
Dalam praktiknya tidak ada pola pembelajaran yang baku dan dapat digunakan dalam berbagai kondisi pembelajaran. Berbagai pola tersebut saling berbaur dan melengkapi satu dengan yang lainnya. Secara operasional, penerapan pola pembelajaran tersebut mempunyai ciri pokok, antara lain :
·         Fasilitas fisik sebagai perantara penyajian informasi.
·         Sistem pembelajaran dan pemanfaatan fasilitas yang merupakan komponen terpadu.
Adanya pilihan yang memungkinkan terjadinya (1) perubahan fisik tempat belajar, (2) hubungan guru dan pelajar yang dibantu media, (3) aktifitas peserta didik yang lebih mandiri, (4) perlunya kerjasama lintas disiplin ilmu seperti ahli instruksional, ahli media pembelajaran, (5) perubahan peranan dan kecakapan mengajar, dan (6) keluwesan waktu dan tempat belajar.[4]
Dari model seperti itu selain ditunjang dengan adanya media ataupun sumber belajar lain, disini kebeadaan guru juga harus bisa menyeimbangkan antar materi yang akan disampaikan dengan keahlian yang dimiliki, karena hal ini sangat membantu dalam proses pembelajaran.


BAB III
KESIMPULAN


DAFTAR PUSTAKA
Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran, PT Remaja Rosdakarya, Bandung: 2008
Ahmad Falah, Aspek-aspek Pendidikan Islam, Idea Press Yogyakarta, Yogyakart; 2010,
Heri Gunawan, Kurikulum dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Alfabeta, Bandung: 2012,
Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, Bandung : Remaja Rosdakarya, 2004.
Muhammad Kholid Fathoni, Pendidikan Islam dan Pendidikan Nasional [Pardigma Baru], Jakarta: Depag RI Dirjen Kelembagaan Agama Islam, 2005.
Muhammad Kosim, Sistem Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berwawasan Multikultural, dalam Pendidikan Agama Islam dalam Prespektif Multikulturalisme, ed. Zainal Abidin & Neneng Habibah, Jakarta: Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta, 2009.
Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam, Bandung : CV Pustaka setia, 1997.
Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, Jakarta:  Kencana, 2011.
Zakiah Daradjat, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, Bumi Aksara, Jakarta; 2001,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar