Jumat, 29 April 2016

makalah perkembangan keagamaan pada anak



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Manusia adalah merupakan suatu makhluk yang mempunyai beberapa kebutuhan baik itu kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani untuk melangsungkan hidup dan kehidupannya. Kebutuan-kebutuhan itu ada yang sifatnya apabila tidak dipenuhi bisa berpengaruh pada kehiduan.
Berkenaan dengan kebutuhan jasmani dan rohani itu ada suatu kebutuhan yang yang bersifat universal atau setiap manusia mempunyai kebutuhan tersebut atau dengan kata lain suatu kebutuhan yang sudah merupakan kodrat. Kebutuhan itu adalah kebutuhan akan agama. Karena dengan adanya kebutuhan ini manusia akan mengetahui siapa dirinya sesungguhnya, dan untuk apa dia diciptakan.
Jadi, kebutuhan agama perlu ditanamkan pada usia tertentu, agar kelak manusia itu mempunyai suatu pemahaman tentang agama yang baik nantinya. Usia yang baik atau perkembangan jiwa beragama ini agar lebih jelasnya pemakalah akan mencoba menguraikannya dalam makalah yang sederhana ini.
Ada sekolompok ahli yang berpendapat bahwa timbulnya jiwa keagamaan itu dari lingkungan, karena anak dilahirkan bukanlah sebagai makhluk yang religious. Menurut pendapat ini, anak yang baru dilahirkan lebih mirip binatang dan bahkan anak seekor kera lebih bersifat kemanusiaan daripada bayi manusia itu sendiri.
Ada pula sekolompok ahli yang berpendapat bahwa anak sejak dilahirkan telah membawa fitrah keagamaan. Namun fitrah ini baru berfungsi dikemudian hari setelah melalui proses bimbingan dan latihan.



B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dan penjelasan dari sumber jiwa agama?
2.      Apa pengertian dan penjelasan Perkembangan jiwa beragama?
3.      Apa pengertian dan penjelasan  Tahap perkembangan beragama pada anak?
4.      Apa pengertian dan penjelasan sifat dan Faktor-faktor beragama pada anak-anak?

C.    Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui pengertian dan penjelasan dari sumber jiwa agama.
2.      Untuk mengetahui pengertian dan penjelasan Perkembangan jiwa beragama.
3.      Untuk mengetahui pengertian dan penjelasan Tahap perkembangan beragama pada anak.
4.      Untuk mengetahui pengertian dan penjelasan sifat dan Faktor-faktor beragama pada anak-anak


BAB II
PEMBAHASAN
  I.            PERKEMBANGAN AGAMA PADA ANAK
A.    Periodisasi dan Sifat-sifat Umum Anak
Elizabeth B. Hurlock merumuskan tahap perkembangan manusia secara lebih lengkap sebagai berikut:
1.      Masa Pranatal, saat terjadinya konsepsi sampai lahir.
2.      Masa Neonatus, saat kelahiran sampai akhir minggu kedua.
3.      Masa Bayi, akhir minggu kedua sampai akhir tahun kedua.
4.      Masa Kanak- Kanak awal, umur 2 – 6 tahun.
5.      Masa Kanak- Kanak akhir, umur 6 – 10 atau 11 tahun.
6.      Masa Pubertas (pra adolesence), umur 11 – 13 tahun
7.      Masa Remaja Awal, umur 13 – 17 tahun. Masa remaja akhir 17 – 21 tahun.
8.      Masa Dewasa Awal, umur 21 – 40 tahun.
9.      Masa Setengah Baya, umur 40 – 60 tahun.
10.  Masa Tua, umur 60 tahun keatas.
Sebagaimana dijelaskan diatas, yang dimaksud dengan masa anak- anak adalah sebelum berumur 12 tahun. Jika mengikuti periodesasi yang dirumuskan Elizabeth B. Hurlock, dalam masa ini terdiri dari tiga tahapan:
1)      0 – 2 tahun (masa vital)
2)      2 – 6 tahun (masa kanak- kanak)
3)      6 – 12 tahun (masa sekolah)   
Anak mengenal Tuhan pertama kali melalui bahasa dari kata- kata orang yang ada dalam lingkungannya, yang pada awalnya diterima secara acuh. Tuhan bagi anak pada permulaan merupakan nama sesuatu yang asing dan tidak dikenalnya serta diragukan kebaikan niatnya. Tidak adanya perhatian terhadap tuhan pada tahap pertama ini dikarenakan ia belum mempunyai pengalaman yang akan membawanya kesana, baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang menyusahkan. Namun, setelah ia menyaksikan reaksi orang- orang disekelilingnya yang disertai oleh emosi atau perasaan tertentu yang makin lama makin meluas, maka mulailah perhatiannya terhadap kata tuhan itu tumbuh. Perasaan si anak terhadap orang tuanya sebenarnya sangat kompleks. Ia merupakan campuran dari bermacam- macam emosi dan dorongan yang saling bertentangan. Menjelang usia 3 tahun yaitu umur dimana hubungan dengan ibunya tidak lagi terbatas pada kebutuhan akan bantuan fisik, akan tetapi meningkat lagi pada hubungan emosi dimana ibu menjadi objek yang dicintai dan butuh akan kasih sayangnya, bahkan mengandung rasa permusuhan bercampur bangga, butuh, takut dan cinta padanya sekaligus.
Menurut Zakiah Daradjat, sebelum usia 7 tahun perasaan anak terhadap tuhan pada dasarnya negatif. Ia berusaha menerima pemikiran tentang kebesaran dan kemuliaan tuhan. Sedang gambaran mereka tentang Tuhan sesuai dengan emosinya. Kepercayaan yang terus menerus tentang Tuhan, tempat dan bentuknya bukanlah karena rasa ingin tahunya, tapi didorong oleh perasaan takut dan ingin rasa aman, kecuali jika orang tua anak mendidik anak supaya mengenal sifat Tuhan yang menyenangkan. Namun pada pada masa kedua (27 tahun keatas) perasaan si anak terhadap Tuhan berganti positif (cinta dan hormat) dan hubungannya dipenuhi oleh rasa percaya dan merasa aman.
B.     Bahasa Sebagai Jalur Pengenalan Agama
Berbarengan dengan proses sosialisasi ini, mulailah anak belajar berbahasa untuk mempermudah melakkukan hubungan dengan orang lain. VINCENT dan MARTIN (1961) menerangkan bahwa secara ekpresif, biasanya anak mulai berbicara pada usia dua tahun. Pada saat ini kata-katanya berbagi dua, yaitu: (a) kata-kata pasif, yakni bagi kata-kata yang sudah di pahami artinya tapi belum dapat di gunakan secara praktis, dan (b) kata-kata aktif, yakni kata yang sudah dapat di mengerti artinya dan dapat dipraktikan dalam pembicaraan sehari-hari.


C.    Emosi sebagai Jalur Pengenalan Agama Bagi Anak
Watson yang pendapatnya dikutip oleh Thompson (1962, hal. 278) berkesimpulan, ada tiga aspek yang dapat muncul pada anak, yaitu: (1) cinta pada saat mendapat elusan orang lain; (2) takut pada saat mendengar suara yang keras atau kehilangan dukungan orang lian, dan (3) marah akibat adanya yang mengganggu terhadap dirinya. Namun menurut Vincent  dan Martin (1961, hal.154) anak usia dua tahun akan memberikan reaksi emosional terhadap berbagai situasi yang di hadapannya. Reaksi-reaksi emosional itu dapat berupa kegembiraan hati, sayang atau ciinta, susah, takut, muak, marah dan cemburu atau iri hati. Dari dua pendapat itu, setidak-tidaknya aspek cinta dan takut dapat berfungsi sebagai jalur pengenalan sebagai jalur pengenalan agama bagi anak.
Dalam hal takut misalnya, Jersild (1951, hal. 282) menemukan bahwa anak usia 6 sampai 12 tahun akan timbul rasa takutnya kalau melihat atau mengalami sesuatu yang dianggapnya misterius, peristiwa-peristiwa supernatural, dan sesuatu yang dianggap gaib. Di pihak lain lagi mereka juga akan merasa takut kalau berhadapan dengan binatang. Bahkan Hagman (1940, hal. 292) menemukan bahwa anak usia dua sampai enam tahun akan merasa takut kalau berhadapan dengan dokter, anjing, angin ribut, dan suasana gelap. Dengan demikian secara pedagogis apabila kita dapat memanfaatkan rasa takut yang diarahkan kepada mencintai zat yang maha kuasa dengan segala elusan dan kasih sayang orang tuanya, ada jalan yang dapat mengantarkan pada pertumbuhan agama bagi anak. Apalagi menurut Freud, seperti yang dikutip oleh penulis Langdon E. Longtrech, 1968,hal. 528), anak akan mengidentifikasi sistem moral orang tuanya, dengan begitu, sesuatu yang dianggap tabu oleh orang tuanya, akan menjadi tebu juga bagi si anak. Memang menurut Longstretch sendiri kata hatinyalah yang akan memutuskan untuk menaati keyakinaan moralnya itu. Tetapimanakala kata hati itu dapat diakui sebagai basis jiwa agama, praktis jiwa agama itu tumbuh dengan sendirinya. Dengan demikan anak akan mengenal tuhan, surga, neraka, hidup sesudah mati dan sebagainya melalui emosi dan berakar pada hati nuraninya.
D.    Anak dan Penilaian Moralnya
Sejauh yang dikutip oleh Longstretch (168, hal. 154) Jean Peaget menyimpulkan bahwa perkembangan mental anak di dasarkan atas perkembangan dan penigkatan kemampuan untuk meningkatkan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan situasi baru. Peningkatan berlangsung melalui dua proses, yaitu proses asimilasi dan proses akomodasi. Proses asimilasi adalah suatu proses memasukan rangsangan baru ke dalam dan menjadi suatu eksistensi pandangan secara kognitif mengenai dunia luar. Sedangkan proses akomodasi adalah proses merubah pandangan kognitif menjadi tingkah laku pada saat informasi menuntut adanya perubahan. Dengan kata lain, proses asimilasi adalah proses memanfaatkan ide lama untuk menemukan ide dan situasi baru, sementara proses akomodasi adalah proses merubah ide lama untuk menemukan situasi baru. Ia yakin bahwa dua proses itu akan berlangsung melalui tiga tahap sebagai berikut:
1.      Tahap pertama adalah tahap sensor motorik yang akan berlangsung sejak anak lahir sampai usia dua tahun. Pada tahap ini anak belum dapat mempelajari sesuatu denngan menggunakan simbol-simbol, melainkan tergantung pada sederetan benda kognitif dan kegiatan fisik semata-mata. Jadi kalau anak mendengar ayahnya mengucapkan “Allahu Akbar” pada waktu akan shalat, yang menjadi catatan dan ingatan bagi dirinya adalah berdiri tegap dan mengangkat tangannya, walaupun kata-katanya juga diucapkan.
2.      Tahap kedua adalah tahap praoperasionalan yang akan berlangsung pada usia dua sampai tujug tahun. Pada tahap ini kemampuan menggunakan simbol-simbol mulai mendominasi perkembangan kemampuan intelektulnya. Dengan menggunakan kemampuan berbahasanya, anak mulai melampirkan arti-arti baru sebagai suatu simbol bagi yang lain. Secara didaksi, bagi orang tua yang mengerti dan dapat memanfaatkan keadaan tahap ini, mereka akan memasukkan simbol-simbol dan ide-ide ke agamaan pada anaknya. Bagi anak sendiri, dapat mengerti apabila segala hal yang bertalian dengan tuhan dan agama pada umumnya, akan ditarik yang baik-baiknya saja. Artinya, anak akan ikut pergi ke mesjid agar tuhan tidak marah, memudahkan dalam belajar, dan terpenuhi hasrat pribadinya. Itu terjadi karena perasaan yang ada pada tahap ini umumnya bersifat negatif, takut,khawatir, ragu-ragu, dan cemas terhadap ancaman Tuhan.
3.      Tahap ketiga adalah tahap operasi kongkrit. Pada tahap ini anak sudah mempelajari prinsip-prinsip dan cara berpikir orang dewasa, seperti memahami kenyataan-kenyataan tentang kualitas sesuatu, jumlah berat atau volume sesuatu benda.

E.     Tahap Perkembangan Beragama Pada Anak
Sejalan dengan kecerdasannya, perkembangan jiwa beragama pada anak dapat dibagi menjadi tiga bagian:
1.      The Fairly Tale Stage (Tingkat Dongeng).
Pada tahap ini anak yang berumur 3 – 6 tahun, konsep mengeanai Tuhan banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi, sehingga dalam menanggapi agama anak masih menggunakan konsep fantastis yang diliputi oelh dongeng- dongeng yang kurang ,masuk akal. Cerita akan Nabi akan dikhayalkan seperti yang ada dalam dongeng- dongeng.
Pada usia ini, perhatian anak lebih tertuju pada para pemuka agama daripada isi ajarannya dan cerita akan lebih menarik jika berhubungan dengan masa anak-anak karena sesuai dengan jiwa kekanak- kanakannya. Dengan caranya sendiri anak mengungkapkan pandangan teologisnya, pernyataan dan ungkapannya tentang Tuhan lebih bernada individual, emosional dan spontan tapi penuh arti teologis.
2.      The Realistic Stage (Tingkat Kepercayaan)
Pada tingkat ini pemikiran anak tentang Tuhan sebagai bapak beralih pada Tuhan sebagai pencipta. Hubungan dengan Tuhan yang pada awalnya terbatas pada emosi berubah pada hubungan dengan menggunakan pikiran atau logika.
Pada tahap ini teradapat satu hal yang perlu digaris bawahi bahwa anak pada usia 7 tahun dipandang sebagai permulaan pertumbuhan logis, sehingga wajarlah bila anak harus diberi pelajaran dan dibiasakan melakukan shalat pada usia dini dan dipukul bila melanggarnya.
3.      The Individual Stage (Tingkat Individu)
Pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang tinggi, sejalan dengan perkembangan usia mereka. Konsep keagamaan yang diindividualistik ini terbagi menjadi tiga golongan:
1)      Konsep ketuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi.
2)      Konsep ketuhanan yang lebih murni, dinyatakan dengan pandangan yang bersifat personal (perorangan).
3)       Konsep ketuhanan yang bersifat humanistik, yaitu agama telah menjadi etos humanis dalam diri mereka dalam menghayati ajaran agama. Berkaitan dengan masalah ini, imam bawani membagi fase perkembangan agama pada masa anak menjadi empat bagian, yaitu:
·         Fase dalam kandungan
Untuk memahami perkembangan agama pada masa ini sangatlah sulit, apalagi yang berhubungan dengan psikis ruhani. Meski demikian perlu dicatat bahwa perkembangan agama bermula sejak Allah meniupkan ruh pada bayi, tepatnya ketika terjadinya perjanjian manusia atas tuhannya,
·         Fase bayi
Pada fase kedua ini juga belum banyak diketahui perkembangan agama pada seorang anak. Namun isyarat pengenalan ajaran agama banyak ditemukan dalam hadis, seperti memperdengarkan adzan dan iqamah saat kelahiran anak.
·         Fase kanak- kanak
Masa ketiga tersebut merupakan saat yang tepat untuk menanamkan nilai keagamaan. Pada fase ini anak sudah mulai bergaul dengan dunia luar. Banyak hal yang ia saksikan ketika berhubungan dengan orang-orang orang disekelilingnya. Dalam pergaulan inilah ia mengenal Tuhan melalui ucapan- ucapan orang disekelilingnya. Ia melihat perilaku orang yang mengungkapkan rasa kagumnya pada Tuhan. Anak pada usia kanak- kanak belum mempunyai pemahaman dalam melaksanakan ajaran Islam, akan tetapi disinilah peran orang tua dalam memperkenalkan dan membiasakan anak dalam melakukan tindakan- tindakan agama sekalipun sifatnya hanya meniru.
·         Masa anak sekolah
Seiring dengan perkembangan aspek- aspek jiwa lainnya, perkembangan agama juga menunjukkan perkembangan yang semakin realistis. Hal ini berkaitan dengan perkembangan intelektualitasnya yang semakin berkembang.

F.     Sifat agama pada anak
Sifat keagamaan pada anak dapat dibagi menjadi enam bagian:
1.      Unreflective (kurang mendalam/ tanpa kritik).
Kebenaran yang mereka terima tidak begitu mendalam, cukup sekedarnya saja. Dan mereka merasa puas dengan keterangan yang kadang- kadang kurang masuk akal. Menurut penelitian, pikiran kritis baru muncul pada anak berusia 12 tahun, sejalan dengan perkembangan moral.
2.      Egosentris
Sifat egosentris ini berdasarkan hasil penelitian Piaget tentang bahasa pada anak berusia 3 – 7 tahun. Dalam hal ini, berbicara bagi anak-anak tidak mempunyai arti seperti orang dewasa. Pada usia 7 – 9 tahun, doa secara khusus dihubungkan dengan kegiatan atau gerak- gerik tertentu, tetapi amat konkret dan pribadi. Pada usia 9 – 12 tahun ide tentang doa sebagai komunikasi antara anak dengan ilahi mulai tampak. Setelah itu barulah isi doa beralih dari keinginan egosentris menuju masalah yang tertuju pada orang lain yang bersifat etis.
3.      Anthromorphis
Konsep anak mengenai ketuhanan pada umumnya berasal dari pengalamannya. Dikala ia berhubungan dengan orang lain, pertanyaan anak mengenai (bagaimana) dan (mengapa) biasanya mencerminkan usaha mereka untuk menghubungkan penjelasan religius yang abstrak dengan dunia pengalaman mereka yang bersifat subjektif dan konkret.
4.      Verbalis dan Ritualis
Kehidupan agama pada anak sebagian besar tumbuh dari sebab ucapan (verbal). Mereka menghafal secara verbal kalimat- kalimat keagamaan dan mengerjakan amaliah yang mereka laksanakan berdasarkan pengalaman mereka menurut tuntunan yang diajarkan pada mereka. Shalat dan doa yang menarik bagi mereka adalah yang mengandung gerak dan biasa dilakukan (tidak asing baginya).
5.      Imitatif
Tindak keagamaan yang dilakukan oleh anak pada dasarnya diperoleh dengan meniru. Dalam hal ini orang tua memegang peranan penting. Pendidikan sikap religius anak pada dasarnya tidak berbentuk pengajaran, akan tetapi berupa teladan
6.      Rasa heran
Rasa heran dan kagum merupakan tanda dan sifat keagamaan pada anak. Berbeda dengan rasa heran pada orang dewasa, rasa heran pada anak belum kritis dan kreatif. Mereka hanya kagum pada keindahan lahiriah saja. Untuk itu perlu diberi pengertian dan penjelasan pada mereka sesuai dengan tingkat perkembangan pemikirannya. Dalam hal ini orang tua dan guru agama mempunyai peranan yang sangat penting.

G.    Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Agama Pada Masa Anak-Anak.
Perkembangan agama pada masa anak terjadi melalui pengalaman hidupnya sejak kecil dalam keluarga, disekolah dan dalam masyarakat. Lingkungan banyak membentuk pengalaman yang bersifat religius, (sesuai dengan ajaran agama) karena semakin banyak unsur agama maka sikap, tindakan dan kelakuan dan caranya menghadapi hidup akan sesuai dengan ajarana agama.
Setiap orang tua dan semua guru ingin membina anak agar menjadi orang yang baik, mempunyai kepribadian yang kuat dan sikap mental yang sehat dan yang terpuji. Semua itu dapat diusahakan melalui pendidikan, baik yang formal maupun yang non formal. Setiap pengalaman yang dilalui anak baik melalui penglihatan, pendengaran, maupun prilaku yang diterimanya akan ikut menentukan pembinaan pribadnya.
Masa pendidikan di SD merupakan kesempatan pertama yang sangat baik, untuk membina pribadi anak setelah orang tua, sekolah dasar merupakan dasar pembinaan pribadi dan mental anak. Apabila pembinaan pribadi dan mental anak terlaksana dengan baik, maka si anak anak memasuki masa remaja dengan mudah dan pembinaan pribadi dimasa remaja itu tidak akan mengalami kesulitan.
Pendidikan anak di sekolah dasarpun, merupakan dasar pula bagi pembinaan sikap dan jiwa agama pada anak. Apabila guru agama di SD mampu membina sikap positif terhadap agama dan berhasil dalam membentuk pribadi dan akhlak anak, maka untuk mengembangkan sikap itu pada masa remaja muda dan sianak telah mempunyai pegangan atau bekal dalam menghadapi berbagai goncangan yang biasa terjadi pada masa remaja.
Anak-anak akan bersifat sama sopan dan hormatnya kepada orang lain seperti kita kepada mereka, jika dibesarkan dilingkungan rumah dimana mereka diperlakukan dengan penuh kewibawaan, kebaikan hati dan rasa hormat, akan besar pengaruhnya terhadap cara mereka memperlakukan orang lain. Mereka akan sampai kepada keyakinan bahwa begitulah cara mereka harus memperlakukan orang lain. Mereka juga cenderung memperlakukan kita dengan cara melihat kita memperlakukan orang lain diluar keluarga.
Pendidikan agama islam memberikan dan mensucikan jiwa serta mendidik hati nurani dan mental anak-anak dengan kelakuan yang baik-baik dan mendorong mereka untuk melakukan pekerjaan yang mulia. Karena pendidikan agama islam memelihara anak-anak supaya melalui jalan yang lurus dan tidak menuruti hawa nafsu yang menyebabkan nantinya jatuh ke lembah kehinaan dan kerusakan serta merusak kesehatan mental anak.
II.            PERKEMBANGAN AGAMA PADA REMAJA
A.    Pengertian Remaja
Istilah remaja berasal dari kata latin adolescere (kata bendanya adoloscentia yang berarti remaja) yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa yang mencakup kematangan mental, emosional, sosial dan fisik.
Kata tersebut mengandung aneka kesan, ada yang berkata bahwa remaja merupakan kelompok yang potensinya dapat dimanfaatkan dan kelompok yang bertanggung jawab terhadap bangsa dalam masa depan. Masa remaja merupakan masa perkembangan menuju kematangan jasmani, seksualitas, pikiran dan emosional. Masa remaja kadang panjang kadang pendek tergantung lingkungan dan budaya di mana remaja itu hidup.
Kehidupan remaja itu sendiri merupakan salah satu fase perkembangan dari diri manusia. Fase ini adalah masa transisi dari masa kanak-kanak dalam menggapai kedewasaan. Disebut masa transisi karena terjadi saling pengaruh antara aspek jiwa dengan aspek yang lain, yang kesumuanya akan mempengaruhi keadaan kehidupan remaja.
B.     Perkembangan Agama Pada Masa Remaja
Masa remaja merupakan masa pencapaian identitas, bahkan bisa dikatakan perjuangan pokok pada masa remaja adalah antara identitas dan kekacauan peran. Pada waktu orang remaja menemukan siapa dirinya yang sebenarnya atau identitasdiri, tumbuhlah kemampuan untuk mengikat kesetiaan kepada suatu pandangan atau ideologi.
Pada usia remaja, sering kali kita melihat mereka mengalami kegoncangan atau ketidakstabilan dalam beragama. Misalnya, mereka kadang-kadang sangat tekun sekali menjalankan ibadah, tetapi pada waktu lain enggan melaksanakannya. Bahkan menunjukkan sekiap seolah-olah anti agama. Hal tersebut karena perkembangan jasmani dan rohani yang yang terjadi pada masa remaja turut mempengaruhi perkembangan agamannya. Dengan pengertian bahwa penghayatan terhadap ajaran dan tindak keagamaan yang tampak pada para remaja banyak berkaitan dengan faktor perkembangan jasmani dan mereka.
Zakiah Daradjat, Starbuch, William James, sependapat bahwa pada garis besarnya perkembangan penghayatan keagamaan itu dapat di bagi dalam tiga tahapan yang secara kulitatif menunjukkan karakteristik yang berbeda.
 Adapun penghayatan keagamaan remaja adalah sebagai berikut:
1.      Masa awal remaja (12-18 tahun) dapat dibagi ke dalam dua sub tahapan sebagai berikut:
Pertama; Sikap negative (meskipun tidak selalu terang-terangan) disebabkan alam pikirannya yang kritis melihat kenyataan orang-orang beragama secara hipocrit (pura-pura) yang pengakuan dan ucapannya tidak selalu selaras dengan perbuatannya. Mereka meragukan agama bukan karena ingin manjadi agnostik atau atheis, melainkan karena ingin menerima agama sebagai sesuatu yang bermakna berdasarkan keinginan mereka untuk mandiri dan bebas menentukan keputusan-keputusan mereka sendiri.
Kedua; Pandangan dalam hal ke-Tuhanannya menjadi kacau karena ia banyak membaca atau mendengar berbagai konsep dan pemikiran atau aliran paham banyak yang tidak cocok atau bertentangan satu sama lain.
Ketiga; Penghayatan rohaniahnya cenderung skeptic (diliputi kewas-wasan) sehingga banyak yang enggan melakukan berbagai kegiatan ritual yang selama ini dilakukannya dengan kepatuhan.
2.      Masa remaja akhir yang ditandai antara lain oleh hal-hal berikyut ini:
Pertama; Sikap kembali, pada umumnya, kearah positif dengan tercapainya kedewasaan intelektual, bahkan agama dapat menjadi pegangan hidupnya menjelanh dewasa.
Kedua; Pandangan dalam hal ke-Tuhanan dipahamkannya dalam konteks agama yang dianut dan dipilihnya.
Ketiga; Penghayatan rohaniahnya kembali tenang setelah melalui proses identifikasi dan merindu puja ia dapat membedakan antara agama sebagai doktrin atau ajaran dan manusia penganutnya, yang baik shalih) dari yang tidak. Ia juga memahami bahwa terdapat berbagai aliran paham dan jenis keagamaan yang penuh toleransi seyogyanya diterima sebagai kenyataan yang hidup didunia ini.
Kehidupan keagamaan mempunyai beberapa sisi, hal ini kemudian disebut sebagai dimensi rasa keagamaan Verbit 1970 mengemukakan enam dimensi rasa agama, yaitu doctrine, ritual, emotion, knowledge, ethic, dan community.
a)      Perkembangan dimensi Doctrine
Doctrine adalah pernyataan tentang hubungan dengan tuhan, oleh Stark dan Glock disebut dimensi belief yaitu keyakinan tentang ajaran ajaran agama. Perkembangan dimensi agama pada usia remaja bersifat abstrak, yang merupakan penilaian diri secara abstrak tentang berbagai hal yang berkaitan dengan tuhan. Pemahaman agama pada masa remaja bisa merupakan kelanjutan dari apa yang diperoleh pada usia kanak-kanan, bisa juga merupakan hal baru yang diterima oleh remaja. Tetapi dari segi cara pandang remaja terhadap kebenaran berkaitan dengan tuhan atau kebenaran agama berbeda dengan masa sebelumnya.
b)      Perkembangan dimensi Ritual
Ritual adalah dimensi rasa keagamaan yang berkaitan dengan perilaku peribadatan yang menunjukkan pernyataan tentang keyakinan diri terhadap tuhan dan ajarannya. Pada masa remaja, tujuan dan sifat peribadatan sudah bersifat abstrak dan umum, serta sudah mulai terdapat dorongan dari dalam diri. Intensitas dan kualitas peribadatan remaja ini sangat dipengaruhi oleh pembiasaan ritual yang sudah ia terima semasa kanak kanak dan juga peristiwa peristiwa kejiwaan yang sedang dialaminya.

c)      Perkembangan Emotion keagamaan
Perkembangan dimensi emosi (emotion) keagamaan remaja banyak dipengaruhi oleh perkembangan emosi pada umumnya. Situasi emosi remaja banyak dipengaruhi oleh perasaan perasaan yang baru diantaranya rasa khawatir (anxiety) yang muncul karena proses menuju kemandirian, raa kebingungan (confusion and conflict) antara nilai dan realita yang ada di lingkungan sekitarnya, juga timbulnya perasaan cinta terhada lawan jenisnya. Kesensitifan emosi remaja disebabkan karena dalam diri mereka muncul sikap yang wajar menurut orang dewasa.
d)     Perkembangan pengetahuan keagamaan
Perkembangan pengetahuan keagamaan berkaitan dengan keterlibatan diri terhadap pemilikan pengetahuan yang meliputi semua aspek keagamaan.perkembangan intelektual remaja merupakan fase formal operation. Unsur pokok pemikirannya adalah pemikiran deduktif, induktif, dan abstraktif. Mereka memecahkan permasalahan yang dihadapi dengan reasoning dan logika. Pemikiran keagamaan yang tertanam pada usia anak yang akan muncul lagi dengan disertai daya kritik dan evaluasi terhadap pemikiran tersebut.
e)      Etik keagamaan
Perkembangan etika keagamaan erat hubungan dengan perkembangan moral, yaitu aspek jiwa yang berkaitan dengan dorongan untuk berperilaku sesuai dengan aturan moral di lingkungannya. Perkembangan moral pada usia remaja disebut fase autonomy, yaitu fase ketika orientasi moral didasarkan pada prinsip prinsip aturan yang telah terinternalisasikan dalam hati nurani melalui otoritas eksternal dan orientasi sosial.
f)       Perkembangan orientasi sosial keagamaan
Kelompok kawan sebaya merupakan faktor pemberi pengaruh yang cukup kuat terhadap perkembangan remaja, karena kelompok kawansebayanya merupakan media pengembangan dorongan kemandiriannya Kelompok teman sebaya seagama akan menjadi sumber proses pengayaan konsep keagamaan remaja melalui proses aplikasi perilaku dan juga menumbuhkan rasa kepedulian sosial keagamaan, sebagai dorongan diri yang diperlukan untuk dasar aplikasi ajaran agam tentang ikatan social kemasyarakatan.
C.    Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Agama Pada Masa Remaja
Perkembangan rasa keamaan pada masa remaja sangat dipengaruhi oleh tumbuhnya hati nurani keagamaan, baik kualitasnya pada akhir usia anak maupun perkembangan pada usia remaja. Hati nurani yang sudah tumbuh kuat pada akhir masa anak-anak akan akan memudahkan perkembangan rasa keagamaan pada masa remaja.
Faktor consience atau hati nurani ini mempunyai padanan kata superego, inner light dan inner policemen. Pada masa remaja, anak masuk ke dalam tahap pendewasaan, dimana hati nurani (conscience) sudah mulai berkembang melalui pengembangan dan pengayaan pada usia anak melalui proses sosialisasi. Proses sosialisasi nilai tersebut terlaksana melalui proses identifikasi anak terhadap perilaku orang tuanya dan juga orang orang di sekelilingnya yang memiliki kesan dominan secara kejiwaan, sehingga terjadi proses imitasi sikap dan perilaku. Kekuatan dari kata hati sebagiannya justru terletak pada ketidak mengertian anak, karena dengan begitu konsep nilai yang masuk dalam diri anak terbentuk melalui proses tanpa tanya, begitu saja terserap tanpa adanya reaksi dari dalam.
Proses kerja hati nurani dibantu oleh gejala jiwa yang lain yang disebut rasa bersalah (guilt) dan rasa malu (shame), yang akan muncul setiap kali ia melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hati nuraninya. Clark menyatakan bahwa kapasitas untuk memiliki kata hati adalah merupakan potensi bawaan bagi setiap manusia, tetapi substansi dari kata hati merupakan hasil dari proses belajar.
Rasa bersalah (guilt) adalah perasaan yang tumbuh jika dirinya tidak melakukan sesuatu sesuai dengan hati nuraninya. Beriringan dengan itu kemudian muncul rasa rasa malu (shame), yaitu reaksi emosi yang tidak menyenangkan terhadap perkiraan penilaian negatif dari orang lain terhadap dirinya. Kata hati, rasa bersalah dan rasa malu dalam perkembangan religiousitas adalah mekanisme jiwa yang terbentuk melalui proses internalisasi nilai nilai keagamaan pada usia anak, yang akan berfungsi sebagai pengontrol perilaku pada usia remaja.
Hati nurani mulai mengambil peran pada masa remaja yang juga membantu dalm proses pemilikan pandangan hidup yang akan menjadi dasar dasar pegangan hidupnya dalam bermasyarakat.
Dalam pembagian tahap perkembangan manusia, maka masa remaja menduduki tahap progresif. Dalam pembagian yang agak terurai masa remaja mencakup masa Juvenilitas (adolescantium), pubertas, dan nubilitas.
Sejalan dengan perkembangan jasmani dan rohaninya, maka agama pada para remaja turut dipengaruhi perkembangan itu. Maksudnya penghayatan para remaja terhadap ajaran agama dan tidak keagamaan yang tampak pada para remaja banyak berkaitan dengan faktor perkembangan tersebut.
Perkembangan agama pada para remaja ditandai dengan beberapa faktor perkembangan rohani dan jasmaninya. Perkembangan itu antara lain menurut W. Starbuck (Jalaluddin, 2015: 65) adalah:
1.      Pertumbuhan Pikiran dan Mental
Ide dan dasar keyakinan beragama yang diterima remaja dari masa kanak-kanaknya sudah tidak begitu menarik bagi mereka. Sifat kritis terhadap ajaran agama mulai timbul. Selain masalah agama mereka pun sudah tertarik pada masalah kebudayaan, sosial, ekonomi dan norma-norma kehidupan lainnya.
Hasil penelitian Allport, Gillesphy, dan Young menunjukkan:
a)      85% remaja Katolik Romawi tetap taat menganut ajaran agamanya.
b)      40% remaja Protestan tetap taat terhadap ajarannya.
Dari hasil ini dinyatakan selanjutnya, bahwa agama yang ajarannya bersifat lebih konservatif lebih banyak berpengaruh bagi para remaja untuk tetap taat pada ajaran agamanya. Sebaliknya, agama yang ajarannya kurang konservatif-dogmatis dan agak liberal akan mudah merangsang pengembangan pikiran dan mental para remaja, sehingga mereka banyak meninggalkan ajaran agamanya. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan pikiran dan mental mempengaruhi sikap keagamaan mereka.
2.      Perkembangan Perasaan
Berbagai perasaan telah berkembang pada masa remaja. Perasaan sosial, etis, dan estetis mendorong remaja untuk menghayati perikehidupan yang terbiasa dalam lingkungannya. Kehidupan religius akan cenderung mendorong dirinya lebih dekat kearah hidup yang religius pula. Sebaliknya, bagi remaja yang kurang mendapat pendidikan dan siraman ajaran agama akan lebih mudah didominasi dorongan seksual. Masa remaja merupakan masa kematangan seksual. Didorong oleh perasaan ingin tahu dan perasaan super, remaja lebih mudah terperosok kearah tindakan seksual yang negatif.  Dalam penyelidikannya sekitar tahun 1950-an, Dr. Kinsey (Jalaluddin, 2015: 66) mengungkapkan, bahwa 90% pemuda Amerika telah mengenal masturbasi, homoseks, dan onani. 
3.      Pertimbangan Sosial
Corak keagamaan para remaja juga oleh adanya pertimbangan sosial. Dalam kehidupan keagamaan mereka timbul konflik antara pertimbangan moral dan material. Remaja sangat bingung menentukan pilihan itu. Karena kehidupan duniawi lebih dipengaruhi kepentingan akan materi, maka para remaja lebih cenderung jiwanya untuk bersikap materialis. Hasil penyelidikan Ernest Harms (Jalaluddin, 2015: 66) terhadap 1.789 remaja Amerika antara usia 18-29 tahun menunjukkan, bahwa 70% pemikiran remaja ditunjukkan bagi kepentingan: keuangan, kesejahteraan, kebahagiaan, kehormatan diri, dan masalah kesenangan pribadi lainnya. Sedangkan masalah akhirat dan keagamaan hanya sekitar 3,6% masalah sosial 5,8%.



4.        Perkembangan Moral
Perkembangan moral pada remajaa bertitik tolak dari rasa berdosa dan usaha untuk mencari proteksi. Tipe moral yang juga terlihat pada para remaja juga mencakupi:
a)      Self-directive, taat terhadap agama atau moral berdasarkan pertimbangan pribadi,
b)      Adaptive, mengikuti situasi lingkungan tanpa mengadakan kritik.
c)      Submussive, merasakan adanya keraguan terhadap ajaran moral dan agama.
d)     Unadjusted, belum meyakini akan kebenaran ajaran agama dan moral.
e)      Deviant, menolak dasar dan hukum keagamaan serta tatanan moral masyarakat.

5.      Sikap dan Minat
Sikap dan minat remaja terhadap masalah keagamaan boleh dikatakan sangat kecil dan hal ini tergantung dar kebiasaan masa kecil serta lingkungan agama yang memengaruhi mereka (besar kecil minatnya).
Howard Bell dan Ross (Jalaluddin, 2015: 67), berdasarkan penelitiannya terhadap 13.000 remaja di Maryland terungkap hasil sebagai berikut:
a)      Remaja yang taat (ke gereja secara teratur) 45%
b)      Remaja yang sesekali dan tidak sama sekali 35%
c)      Minat terhadap: ekonomi, keuangan, materil dan sukses pribadi 73%
d)     Minat terhadap masalah ideal, keagamaan, dan sosial 21%

6.      Ibadah
Pandangan para remaja terhadap ajaran agama, ibadah, dan masalah doa sebagaimana yang dikumpulkan oleh Ross dan Oskar Kupky menunjukkan:
a.         148 siswi dinyatakan bahwa 20 orang diantara mereka tidak pernah mempunyai pengalaman keagamaan sedangkan sisanya 128 mempunyai pengalaman keagamaan yang 68 diantaranya secara alami (tidak melalui pengajaran resmi).
b.        31 orang diantara yang mendapat pengalaman keagamaan melalui proses alami, mengungkapkan adanya perhatian mereka terhadap keajaiban yang menakjubkan dibalik keindahan alam yang mereka nikmati.
Selanjutnya mengenai pandangan mereka tentang ibadah diungkapkan sebagai berikut:
a.         42% tak pernah mengerjakan iabadah sama sekali.
b.        33% mengatakan mereka sembahyang karena mereka yakin Tuhan mendengar dan akan mengabulkan doa mereka.
c.         27% beranggapan bahwa sembahyang dapat menolong meredakan kesusahan yang mereka derita.
d.        18% mengatakan bahwa sembahyang menyebabkan mereka menjadi senag sesudah menunaikannya.
e.         11% mengatakan bahwa sembahyang meningatkan tanggung jawab dan tuntutan sebagai anggota masyarakat.
f.         4% mengatakan bahwa sembahyang merupakan kebiasaan yang mengandung arti yang penting.
Jadi, hanya 17% mengatakan bahwa sembahyang bermanfaat untuk berkomunikasi dengan Tuhan, sedangkan 26% diantaranya menganggap bahwa sembahyang hanyalah merupakan media untuk bermeditasi.




BAB III
KESIMPULAN
Istilah remaja berasal dari kata latin adolescere yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa yang mencakup kematangan mental, emosional, sosial dan fisik, masa remaja merupakan masa peralihan dan ketergantungan pada masa anak-anak kemasa dewasa, dan pada masa ini remaja dituntut untuk mandiri
Perkembangan fisik pada remaja mengalami perkembangan dengan cepat lebih cepat dibandingkan dengan masa anak-anak dan masa dewasa. Segala fungsi jasmaniah pada fase ini mulai atau telah dapat bekerja. Kekuatan jasmani mereka dapat dianggap sama dengan orang dewasa. Dalam aspek psikis, pada usia ini pribadi mereka masih mengalami kegoncangan dan ketidak pastian.
Adapun penghayatan keagamaan remaja adalah sebagai berikut:
a.       Masa awal remaja (12-18 tahun) diantara tahapannya adalah:  Sikap negative, pandangan dalam hal ke-Tuhanannya menjadi kacau, dan penghayatan rohaniahnya cenderung skeptic.
b.      Masa remaja akhir yang ditandai antara lain oleh hal-hal berikut ini: sikap kembali ke arah positif, pandangan dalam hal ke-Tuhanan dipahamkannya dalam konteks agama yang dianut dan dipilihnya, dan penghayatan rohaniahnya kembali tenang.
Diantara faktor yang mempengaruhi agama remaja adalah: concience atau hati nurani, pertumbuhan dan pikiran mental, perasaaan beragama, pertimbangan sosial, perkembangan moral




Jalaluddin. 2015. Psikologi Agama Memahami Perilaku dengan Mengaplikasikan Prinsip-prinsip Psikologi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar