BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Manusia adalah merupakan suatu makhluk yang
mempunyai beberapa kebutuhan baik itu kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani
untuk melangsungkan hidup dan kehidupannya. Kebutuan-kebutuhan itu ada yang
sifatnya apabila tidak dipenuhi bisa berpengaruh pada kehiduan.
Berkenaan dengan kebutuhan jasmani dan rohani
itu ada suatu kebutuhan yang yang bersifat universal atau setiap manusia
mempunyai kebutuhan tersebut atau dengan kata lain suatu kebutuhan yang sudah
merupakan kodrat. Kebutuhan itu adalah kebutuhan akan agama. Karena dengan
adanya kebutuhan ini manusia akan mengetahui siapa dirinya sesungguhnya, dan
untuk apa dia diciptakan.
Jadi, kebutuhan agama perlu ditanamkan pada
usia tertentu, agar kelak manusia itu mempunyai suatu pemahaman tentang agama
yang baik nantinya. Usia yang baik atau perkembangan jiwa beragama ini agar
lebih jelasnya pemakalah akan mencoba menguraikannya dalam makalah yang sederhana
ini.
Ada sekolompok ahli yang berpendapat bahwa
timbulnya jiwa keagamaan itu dari lingkungan, karena anak dilahirkan bukanlah
sebagai makhluk yang religious. Menurut pendapat ini, anak yang baru dilahirkan
lebih mirip binatang dan bahkan anak seekor kera lebih bersifat kemanusiaan
daripada bayi manusia itu sendiri.
Ada pula sekolompok ahli yang berpendapat bahwa
anak sejak dilahirkan telah membawa fitrah keagamaan. Namun fitrah ini baru
berfungsi dikemudian hari setelah melalui proses bimbingan dan latihan.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian dan penjelasan dari sumber jiwa
agama?
2.
Apa pengertian dan penjelasan Perkembangan jiwa
beragama?
3.
Apa pengertian dan penjelasan Tahap perkembangan beragama pada anak?
4.
Apa pengertian dan penjelasan sifat dan Faktor-faktor
beragama pada anak-anak?
C.
Tujuan Masalah
1.
Untuk mengetahui pengertian dan penjelasan dari
sumber jiwa agama.
2.
Untuk mengetahui pengertian dan penjelasan
Perkembangan jiwa beragama.
3.
Untuk mengetahui pengertian dan penjelasan
Tahap perkembangan beragama pada anak.
4.
Untuk mengetahui pengertian dan penjelasan
sifat dan Faktor-faktor beragama pada anak-anak
BAB
II
PEMBAHASAN
I.
PERKEMBANGAN AGAMA PADA ANAK
A.
Periodisasi dan Sifat-sifat Umum Anak
Elizabeth B. Hurlock merumuskan tahap
perkembangan manusia secara lebih lengkap sebagai berikut:
1.
Masa Pranatal, saat terjadinya konsepsi sampai
lahir.
2.
Masa Neonatus, saat kelahiran sampai akhir
minggu kedua.
3.
Masa Bayi, akhir minggu kedua sampai akhir
tahun kedua.
4.
Masa Kanak- Kanak awal, umur 2 – 6 tahun.
5.
Masa Kanak- Kanak akhir, umur 6 – 10 atau 11
tahun.
6.
Masa Pubertas (pra adolesence), umur 11 – 13
tahun
7.
Masa Remaja Awal, umur 13 – 17 tahun. Masa
remaja akhir 17 – 21 tahun.
8.
Masa Dewasa Awal, umur 21 – 40 tahun.
9.
Masa Setengah Baya, umur 40 – 60 tahun.
10.
Masa Tua, umur 60 tahun keatas.
Sebagaimana dijelaskan diatas, yang dimaksud
dengan masa anak- anak adalah sebelum berumur 12 tahun. Jika mengikuti
periodesasi yang dirumuskan Elizabeth B. Hurlock, dalam masa ini terdiri dari
tiga tahapan:
1)
0 – 2 tahun (masa vital)
2)
2 – 6 tahun (masa kanak- kanak)
3)
6 – 12 tahun (masa sekolah)
Anak mengenal Tuhan pertama kali melalui bahasa
dari kata- kata orang yang ada dalam lingkungannya, yang pada awalnya diterima
secara acuh. Tuhan bagi anak pada permulaan merupakan nama sesuatu yang asing
dan tidak dikenalnya serta diragukan kebaikan niatnya. Tidak adanya perhatian
terhadap tuhan pada tahap pertama ini dikarenakan ia belum mempunyai pengalaman
yang akan membawanya kesana, baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang
menyusahkan. Namun, setelah ia menyaksikan reaksi orang- orang disekelilingnya
yang disertai oleh emosi atau perasaan tertentu yang makin lama makin meluas,
maka mulailah perhatiannya terhadap kata tuhan itu tumbuh. Perasaan si anak
terhadap orang tuanya sebenarnya sangat kompleks. Ia merupakan campuran dari
bermacam- macam emosi dan dorongan yang saling bertentangan. Menjelang usia 3
tahun yaitu umur dimana hubungan dengan ibunya tidak lagi terbatas pada
kebutuhan akan bantuan fisik, akan tetapi meningkat lagi pada hubungan emosi
dimana ibu menjadi objek yang dicintai dan butuh akan kasih sayangnya, bahkan
mengandung rasa permusuhan bercampur bangga, butuh, takut dan cinta padanya
sekaligus.
Menurut Zakiah Daradjat, sebelum usia 7 tahun
perasaan anak terhadap tuhan pada dasarnya negatif. Ia berusaha menerima
pemikiran tentang kebesaran dan kemuliaan tuhan. Sedang gambaran mereka tentang
Tuhan sesuai dengan emosinya. Kepercayaan yang terus menerus tentang Tuhan,
tempat dan bentuknya bukanlah karena rasa ingin tahunya, tapi didorong oleh
perasaan takut dan ingin rasa aman, kecuali jika orang tua anak mendidik anak
supaya mengenal sifat Tuhan yang menyenangkan. Namun pada pada masa kedua (27
tahun keatas) perasaan si anak terhadap Tuhan berganti positif (cinta dan hormat)
dan hubungannya dipenuhi oleh rasa percaya dan merasa aman.
B.
Bahasa Sebagai Jalur Pengenalan Agama
Berbarengan
dengan proses sosialisasi ini, mulailah anak belajar berbahasa untuk
mempermudah melakkukan hubungan dengan orang lain. VINCENT dan MARTIN (1961)
menerangkan bahwa secara ekpresif, biasanya anak mulai berbicara pada usia dua
tahun. Pada saat ini kata-katanya berbagi dua, yaitu: (a) kata-kata pasif,
yakni bagi kata-kata yang sudah di pahami artinya tapi belum dapat di gunakan
secara praktis, dan (b) kata-kata aktif, yakni kata yang sudah dapat di
mengerti artinya dan dapat dipraktikan dalam pembicaraan sehari-hari.
C.
Emosi sebagai Jalur Pengenalan Agama Bagi Anak
Watson yang
pendapatnya dikutip oleh Thompson (1962, hal. 278) berkesimpulan, ada tiga
aspek yang dapat muncul pada anak, yaitu: (1) cinta pada saat mendapat elusan
orang lain; (2) takut pada saat mendengar suara yang keras atau kehilangan
dukungan orang lian, dan (3) marah akibat adanya yang mengganggu terhadap
dirinya. Namun menurut Vincent dan
Martin (1961, hal.154) anak usia dua tahun akan memberikan reaksi emosional
terhadap berbagai situasi yang di hadapannya. Reaksi-reaksi emosional itu dapat
berupa kegembiraan hati, sayang atau ciinta, susah, takut, muak, marah dan
cemburu atau iri hati. Dari dua pendapat itu, setidak-tidaknya aspek cinta dan
takut dapat berfungsi sebagai jalur pengenalan sebagai jalur pengenalan agama
bagi anak.
Dalam hal takut
misalnya, Jersild (1951, hal. 282) menemukan bahwa anak usia 6 sampai 12 tahun
akan timbul rasa takutnya kalau melihat atau mengalami sesuatu yang dianggapnya
misterius, peristiwa-peristiwa supernatural, dan sesuatu yang dianggap gaib. Di
pihak lain lagi mereka juga akan merasa takut kalau berhadapan dengan binatang.
Bahkan Hagman (1940, hal. 292) menemukan bahwa anak usia dua sampai enam tahun
akan merasa takut kalau berhadapan dengan dokter, anjing, angin ribut, dan
suasana gelap. Dengan demikian secara pedagogis apabila kita dapat memanfaatkan
rasa takut yang diarahkan kepada mencintai zat yang maha kuasa dengan segala
elusan dan kasih sayang orang tuanya, ada jalan yang dapat mengantarkan pada
pertumbuhan agama bagi anak. Apalagi menurut Freud, seperti yang dikutip oleh
penulis Langdon E. Longtrech, 1968,hal. 528), anak akan mengidentifikasi sistem
moral orang tuanya, dengan begitu, sesuatu yang dianggap tabu oleh orang
tuanya, akan menjadi tebu juga bagi si anak. Memang menurut Longstretch sendiri
kata hatinyalah yang akan memutuskan untuk menaati keyakinaan moralnya itu.
Tetapimanakala kata hati itu dapat diakui sebagai basis jiwa agama, praktis
jiwa agama itu tumbuh dengan sendirinya. Dengan demikan anak akan mengenal
tuhan, surga, neraka, hidup sesudah mati dan sebagainya melalui emosi dan
berakar pada hati nuraninya.
D.
Anak dan Penilaian Moralnya
Sejauh yang
dikutip oleh Longstretch (168, hal. 154) Jean Peaget menyimpulkan bahwa
perkembangan mental anak di dasarkan atas perkembangan dan penigkatan kemampuan
untuk meningkatkan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan situasi baru.
Peningkatan berlangsung melalui dua proses, yaitu proses asimilasi dan proses
akomodasi. Proses asimilasi adalah suatu proses memasukan rangsangan baru ke
dalam dan menjadi suatu eksistensi pandangan secara kognitif mengenai dunia
luar. Sedangkan proses akomodasi adalah proses merubah pandangan kognitif
menjadi tingkah laku pada saat informasi menuntut adanya perubahan. Dengan kata
lain, proses asimilasi adalah proses memanfaatkan ide lama untuk menemukan ide
dan situasi baru, sementara proses akomodasi adalah proses merubah ide lama
untuk menemukan situasi baru. Ia yakin bahwa dua proses itu akan berlangsung
melalui tiga tahap sebagai berikut:
1.
Tahap pertama adalah tahap sensor motorik yang
akan berlangsung sejak anak lahir sampai usia dua tahun. Pada tahap ini anak
belum dapat mempelajari sesuatu denngan menggunakan simbol-simbol, melainkan
tergantung pada sederetan benda kognitif dan kegiatan fisik semata-mata. Jadi
kalau anak mendengar ayahnya mengucapkan “Allahu Akbar” pada waktu akan shalat,
yang menjadi catatan dan ingatan bagi dirinya adalah berdiri tegap dan
mengangkat tangannya, walaupun kata-katanya juga diucapkan.
2.
Tahap kedua adalah tahap praoperasionalan yang
akan berlangsung pada usia dua sampai tujug tahun. Pada tahap ini kemampuan
menggunakan simbol-simbol mulai mendominasi perkembangan kemampuan
intelektulnya. Dengan menggunakan kemampuan berbahasanya, anak mulai
melampirkan arti-arti baru sebagai suatu simbol bagi yang lain. Secara didaksi,
bagi orang tua yang mengerti dan dapat memanfaatkan keadaan tahap ini, mereka
akan memasukkan simbol-simbol dan ide-ide ke agamaan pada anaknya. Bagi anak
sendiri, dapat mengerti apabila segala hal yang bertalian dengan tuhan dan
agama pada umumnya, akan ditarik yang baik-baiknya saja. Artinya, anak akan ikut
pergi ke mesjid agar tuhan tidak marah, memudahkan dalam belajar, dan terpenuhi
hasrat pribadinya. Itu terjadi karena perasaan yang ada pada tahap ini umumnya
bersifat negatif, takut,khawatir, ragu-ragu, dan cemas terhadap ancaman Tuhan.
3.
Tahap ketiga adalah tahap operasi kongkrit.
Pada tahap ini anak sudah mempelajari prinsip-prinsip dan cara berpikir orang
dewasa, seperti memahami kenyataan-kenyataan tentang kualitas sesuatu, jumlah
berat atau volume sesuatu benda.
E.
Tahap Perkembangan Beragama Pada Anak
Sejalan dengan kecerdasannya, perkembangan jiwa
beragama pada anak dapat dibagi menjadi tiga bagian:
1.
The Fairly Tale Stage (Tingkat Dongeng).
Pada tahap ini anak yang berumur 3 – 6 tahun,
konsep mengeanai Tuhan banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi, sehingga
dalam menanggapi agama anak masih menggunakan konsep fantastis yang diliputi
oelh dongeng- dongeng yang kurang ,masuk akal. Cerita akan Nabi akan
dikhayalkan seperti yang ada dalam dongeng- dongeng.
Pada usia ini, perhatian anak lebih tertuju
pada para pemuka agama daripada isi ajarannya dan cerita akan lebih menarik
jika berhubungan dengan masa anak-anak karena sesuai dengan jiwa kekanak-
kanakannya. Dengan caranya sendiri anak mengungkapkan pandangan teologisnya,
pernyataan dan ungkapannya tentang Tuhan lebih bernada individual, emosional
dan spontan tapi penuh arti teologis.
2.
The Realistic Stage (Tingkat Kepercayaan)
Pada tingkat ini pemikiran anak tentang Tuhan
sebagai bapak beralih pada Tuhan sebagai pencipta. Hubungan dengan Tuhan yang
pada awalnya terbatas pada emosi berubah pada hubungan dengan menggunakan
pikiran atau logika.
Pada tahap ini teradapat satu hal yang perlu
digaris bawahi bahwa anak pada usia 7 tahun dipandang sebagai permulaan
pertumbuhan logis, sehingga wajarlah bila anak harus diberi pelajaran dan
dibiasakan melakukan shalat pada usia dini dan dipukul bila melanggarnya.
3.
The Individual Stage (Tingkat Individu)
Pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan
emosi yang tinggi, sejalan dengan perkembangan usia mereka. Konsep keagamaan
yang diindividualistik ini terbagi menjadi tiga golongan:
1)
Konsep ketuhanan yang konvensional dan
konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi.
2)
Konsep ketuhanan yang lebih murni, dinyatakan
dengan pandangan yang bersifat personal (perorangan).
3)
Konsep
ketuhanan yang bersifat humanistik, yaitu agama telah menjadi etos humanis
dalam diri mereka dalam menghayati ajaran agama. Berkaitan dengan masalah ini,
imam bawani membagi fase perkembangan agama pada masa anak menjadi empat
bagian, yaitu:
·
Fase dalam kandungan
Untuk memahami
perkembangan agama pada masa ini sangatlah sulit, apalagi yang berhubungan
dengan psikis ruhani. Meski demikian perlu dicatat bahwa perkembangan agama
bermula sejak Allah meniupkan ruh pada bayi, tepatnya ketika terjadinya perjanjian
manusia atas tuhannya,
·
Fase bayi
Pada fase kedua
ini juga belum banyak diketahui perkembangan agama pada seorang anak. Namun
isyarat pengenalan ajaran agama banyak ditemukan dalam hadis, seperti
memperdengarkan adzan dan iqamah saat kelahiran anak.
·
Fase kanak- kanak
Masa ketiga
tersebut merupakan saat yang tepat untuk menanamkan nilai keagamaan. Pada fase
ini anak sudah mulai bergaul dengan dunia luar. Banyak hal yang ia saksikan
ketika berhubungan dengan orang-orang orang disekelilingnya. Dalam pergaulan
inilah ia mengenal Tuhan melalui ucapan- ucapan orang disekelilingnya. Ia
melihat perilaku orang yang mengungkapkan rasa kagumnya pada Tuhan. Anak pada
usia kanak- kanak belum mempunyai pemahaman dalam melaksanakan ajaran Islam,
akan tetapi disinilah peran orang tua dalam memperkenalkan dan membiasakan anak
dalam melakukan tindakan- tindakan agama sekalipun sifatnya hanya meniru.
·
Masa anak sekolah
Seiring dengan
perkembangan aspek- aspek jiwa lainnya, perkembangan agama juga menunjukkan
perkembangan yang semakin realistis. Hal ini berkaitan dengan perkembangan
intelektualitasnya yang semakin berkembang.
F.
Sifat agama pada anak
Sifat keagamaan pada anak dapat dibagi menjadi
enam bagian:
1.
Unreflective (kurang mendalam/ tanpa kritik).
Kebenaran yang mereka terima tidak begitu
mendalam, cukup sekedarnya saja. Dan mereka merasa puas dengan keterangan yang
kadang- kadang kurang masuk akal. Menurut penelitian, pikiran kritis baru
muncul pada anak berusia 12 tahun, sejalan dengan perkembangan moral.
2.
Egosentris
Sifat egosentris ini berdasarkan hasil penelitian
Piaget tentang bahasa pada anak berusia 3 – 7 tahun. Dalam hal ini, berbicara
bagi anak-anak tidak mempunyai arti seperti orang dewasa. Pada usia 7 – 9
tahun, doa secara khusus dihubungkan dengan kegiatan atau gerak- gerik
tertentu, tetapi amat konkret dan pribadi. Pada usia 9 – 12 tahun ide tentang
doa sebagai komunikasi antara anak dengan ilahi mulai tampak. Setelah itu
barulah isi doa beralih dari keinginan egosentris menuju masalah yang tertuju
pada orang lain yang bersifat etis.
3.
Anthromorphis
Konsep anak mengenai ketuhanan pada umumnya
berasal dari pengalamannya. Dikala ia berhubungan dengan orang lain, pertanyaan
anak mengenai (bagaimana) dan (mengapa) biasanya mencerminkan usaha mereka
untuk menghubungkan penjelasan religius yang abstrak dengan dunia pengalaman
mereka yang bersifat subjektif dan konkret.
4.
Verbalis dan Ritualis
Kehidupan agama pada anak sebagian besar tumbuh
dari sebab ucapan (verbal). Mereka menghafal secara verbal kalimat- kalimat keagamaan
dan mengerjakan amaliah yang mereka laksanakan berdasarkan pengalaman mereka
menurut tuntunan yang diajarkan pada mereka. Shalat dan doa yang menarik bagi
mereka adalah yang mengandung gerak dan biasa dilakukan (tidak asing baginya).
5.
Imitatif
Tindak keagamaan yang dilakukan oleh anak pada
dasarnya diperoleh dengan meniru. Dalam hal ini orang tua memegang peranan
penting. Pendidikan sikap religius anak pada dasarnya tidak berbentuk
pengajaran, akan tetapi berupa teladan
6.
Rasa heran
Rasa heran dan kagum merupakan tanda dan sifat
keagamaan pada anak. Berbeda dengan rasa heran pada orang dewasa, rasa heran
pada anak belum kritis dan kreatif. Mereka hanya kagum pada keindahan lahiriah
saja. Untuk itu perlu diberi pengertian dan penjelasan pada mereka sesuai
dengan tingkat perkembangan pemikirannya. Dalam hal ini orang tua dan guru
agama mempunyai peranan yang sangat penting.
G.
Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Agama
Pada Masa Anak-Anak.
Perkembangan agama pada masa anak terjadi
melalui pengalaman hidupnya sejak kecil dalam keluarga, disekolah dan dalam
masyarakat. Lingkungan banyak membentuk pengalaman yang bersifat religius,
(sesuai dengan ajaran agama) karena semakin banyak unsur agama maka sikap,
tindakan dan kelakuan dan caranya menghadapi hidup akan sesuai dengan ajarana
agama.
Setiap orang tua dan semua guru ingin membina
anak agar menjadi orang yang baik, mempunyai kepribadian yang kuat dan sikap
mental yang sehat dan yang terpuji. Semua itu dapat diusahakan melalui
pendidikan, baik yang formal maupun yang non formal. Setiap pengalaman yang
dilalui anak baik melalui penglihatan, pendengaran, maupun prilaku yang
diterimanya akan ikut menentukan pembinaan pribadnya.
Masa pendidikan di SD merupakan kesempatan
pertama yang sangat baik, untuk membina pribadi anak setelah orang tua, sekolah
dasar merupakan dasar pembinaan pribadi dan mental anak. Apabila pembinaan
pribadi dan mental anak terlaksana dengan baik, maka si anak anak memasuki masa
remaja dengan mudah dan pembinaan pribadi dimasa remaja itu tidak akan
mengalami kesulitan.
Pendidikan anak di sekolah dasarpun, merupakan
dasar pula bagi pembinaan sikap dan jiwa agama pada anak. Apabila guru agama di
SD mampu membina sikap positif terhadap agama dan berhasil dalam membentuk
pribadi dan akhlak anak, maka untuk mengembangkan sikap itu pada masa remaja
muda dan sianak telah mempunyai pegangan atau bekal dalam menghadapi berbagai
goncangan yang biasa terjadi pada masa remaja.
Anak-anak akan bersifat sama sopan dan
hormatnya kepada orang lain seperti kita kepada mereka, jika dibesarkan
dilingkungan rumah dimana mereka diperlakukan dengan penuh kewibawaan, kebaikan
hati dan rasa hormat, akan besar pengaruhnya terhadap cara mereka memperlakukan
orang lain. Mereka akan sampai kepada keyakinan bahwa begitulah cara mereka
harus memperlakukan orang lain. Mereka juga cenderung memperlakukan kita dengan
cara melihat kita memperlakukan orang lain diluar keluarga.
Pendidikan agama islam memberikan dan
mensucikan jiwa serta mendidik hati nurani dan mental anak-anak dengan kelakuan
yang baik-baik dan mendorong mereka untuk melakukan pekerjaan yang mulia.
Karena pendidikan agama islam memelihara anak-anak supaya melalui jalan yang
lurus dan tidak menuruti hawa nafsu yang menyebabkan nantinya jatuh ke lembah kehinaan
dan kerusakan serta merusak kesehatan mental anak.
II.
PERKEMBANGAN AGAMA PADA REMAJA
A.
Pengertian Remaja
Istilah remaja berasal dari kata latin
adolescere (kata bendanya adoloscentia yang berarti remaja) yang berarti tumbuh
atau tumbuh menjadi dewasa yang mencakup kematangan mental, emosional, sosial
dan fisik.
Kata tersebut mengandung aneka kesan, ada yang
berkata bahwa remaja merupakan kelompok yang potensinya dapat dimanfaatkan dan
kelompok yang bertanggung jawab terhadap bangsa dalam masa depan. Masa remaja
merupakan masa perkembangan menuju kematangan jasmani, seksualitas, pikiran dan
emosional. Masa remaja kadang panjang kadang pendek tergantung lingkungan dan
budaya di mana remaja itu hidup.
Kehidupan remaja itu sendiri merupakan salah
satu fase perkembangan dari diri manusia. Fase ini adalah masa transisi dari
masa kanak-kanak dalam menggapai kedewasaan. Disebut masa transisi karena
terjadi saling pengaruh antara aspek jiwa dengan aspek yang lain, yang
kesumuanya akan mempengaruhi keadaan kehidupan remaja.
B.
Perkembangan Agama Pada Masa Remaja
Masa remaja merupakan masa pencapaian
identitas, bahkan bisa dikatakan perjuangan pokok pada masa remaja adalah
antara identitas dan kekacauan peran. Pada waktu orang remaja menemukan siapa
dirinya yang sebenarnya atau identitasdiri, tumbuhlah kemampuan untuk mengikat
kesetiaan kepada suatu pandangan atau ideologi.
Pada usia remaja, sering kali kita melihat
mereka mengalami kegoncangan atau ketidakstabilan dalam beragama. Misalnya,
mereka kadang-kadang sangat tekun sekali menjalankan ibadah, tetapi pada waktu
lain enggan melaksanakannya. Bahkan menunjukkan sekiap seolah-olah anti agama.
Hal tersebut karena perkembangan jasmani dan rohani yang yang terjadi pada masa
remaja turut mempengaruhi perkembangan agamannya. Dengan pengertian bahwa
penghayatan terhadap ajaran dan tindak keagamaan yang tampak pada para remaja
banyak berkaitan dengan faktor perkembangan jasmani dan mereka.
Zakiah Daradjat, Starbuch, William James,
sependapat bahwa pada garis besarnya perkembangan penghayatan keagamaan itu
dapat di bagi dalam tiga tahapan yang secara kulitatif menunjukkan
karakteristik yang berbeda.
Adapun penghayatan keagamaan remaja adalah
sebagai berikut:
1.
Masa awal remaja (12-18 tahun) dapat dibagi ke
dalam dua sub tahapan sebagai berikut:
Pertama; Sikap negative (meskipun tidak selalu
terang-terangan) disebabkan alam pikirannya yang kritis melihat kenyataan
orang-orang beragama secara hipocrit (pura-pura) yang pengakuan dan ucapannya
tidak selalu selaras dengan perbuatannya. Mereka meragukan agama bukan karena
ingin manjadi agnostik atau atheis, melainkan karena ingin menerima agama
sebagai sesuatu yang bermakna berdasarkan keinginan mereka untuk mandiri dan
bebas menentukan keputusan-keputusan mereka sendiri.
Kedua; Pandangan dalam hal ke-Tuhanannya
menjadi kacau karena ia banyak membaca atau mendengar berbagai konsep dan
pemikiran atau aliran paham banyak yang tidak cocok atau bertentangan satu sama
lain.
Ketiga; Penghayatan rohaniahnya cenderung
skeptic (diliputi kewas-wasan) sehingga banyak yang enggan melakukan berbagai
kegiatan ritual yang selama ini dilakukannya dengan kepatuhan.
2.
Masa remaja akhir yang ditandai antara lain
oleh hal-hal berikyut ini:
Pertama; Sikap kembali, pada umumnya, kearah
positif dengan tercapainya kedewasaan intelektual, bahkan agama dapat menjadi
pegangan hidupnya menjelanh dewasa.
Kedua; Pandangan dalam hal ke-Tuhanan
dipahamkannya dalam konteks agama yang dianut dan dipilihnya.
Ketiga; Penghayatan rohaniahnya kembali tenang
setelah melalui proses identifikasi dan merindu puja ia dapat membedakan antara
agama sebagai doktrin atau ajaran dan manusia penganutnya, yang baik shalih)
dari yang tidak. Ia juga memahami bahwa terdapat berbagai aliran paham dan
jenis keagamaan yang penuh toleransi seyogyanya diterima sebagai kenyataan yang
hidup didunia ini.
Kehidupan keagamaan mempunyai beberapa sisi,
hal ini kemudian disebut sebagai dimensi rasa keagamaan Verbit 1970
mengemukakan enam dimensi rasa agama, yaitu doctrine, ritual, emotion, knowledge,
ethic, dan community.
a)
Perkembangan dimensi Doctrine
Doctrine adalah pernyataan tentang hubungan
dengan tuhan, oleh Stark dan Glock disebut dimensi belief yaitu keyakinan
tentang ajaran ajaran agama. Perkembangan dimensi agama pada usia remaja
bersifat abstrak, yang merupakan penilaian diri secara abstrak tentang berbagai
hal yang berkaitan dengan tuhan. Pemahaman agama pada masa remaja bisa
merupakan kelanjutan dari apa yang diperoleh pada usia kanak-kanan, bisa juga
merupakan hal baru yang diterima oleh remaja. Tetapi dari segi cara pandang
remaja terhadap kebenaran berkaitan dengan tuhan atau kebenaran agama berbeda
dengan masa sebelumnya.
b)
Perkembangan dimensi Ritual
Ritual adalah dimensi rasa keagamaan yang
berkaitan dengan perilaku peribadatan yang menunjukkan pernyataan tentang
keyakinan diri terhadap tuhan dan ajarannya. Pada masa remaja, tujuan dan sifat
peribadatan sudah bersifat abstrak dan umum, serta sudah mulai terdapat
dorongan dari dalam diri. Intensitas dan kualitas peribadatan remaja ini sangat
dipengaruhi oleh pembiasaan ritual yang sudah ia terima semasa kanak kanak dan
juga peristiwa peristiwa kejiwaan yang sedang dialaminya.
c)
Perkembangan Emotion keagamaan
Perkembangan dimensi emosi (emotion) keagamaan
remaja banyak dipengaruhi oleh perkembangan emosi pada umumnya. Situasi emosi
remaja banyak dipengaruhi oleh perasaan perasaan yang baru diantaranya rasa
khawatir (anxiety) yang muncul karena proses menuju kemandirian, raa kebingungan
(confusion and conflict) antara nilai dan realita yang ada di lingkungan
sekitarnya, juga timbulnya perasaan cinta terhada lawan jenisnya. Kesensitifan
emosi remaja disebabkan karena dalam diri mereka muncul sikap yang wajar
menurut orang dewasa.
d)
Perkembangan pengetahuan keagamaan
Perkembangan pengetahuan keagamaan berkaitan
dengan keterlibatan diri terhadap pemilikan pengetahuan yang meliputi semua
aspek keagamaan.perkembangan intelektual remaja merupakan fase formal
operation. Unsur pokok pemikirannya adalah pemikiran deduktif, induktif, dan
abstraktif. Mereka memecahkan permasalahan yang dihadapi dengan reasoning dan
logika. Pemikiran keagamaan yang tertanam pada usia anak yang akan muncul lagi
dengan disertai daya kritik dan evaluasi terhadap pemikiran tersebut.
e)
Etik keagamaan
Perkembangan etika keagamaan erat hubungan
dengan perkembangan moral, yaitu aspek jiwa yang berkaitan dengan dorongan
untuk berperilaku sesuai dengan aturan moral di lingkungannya. Perkembangan
moral pada usia remaja disebut fase autonomy, yaitu fase ketika orientasi moral
didasarkan pada prinsip prinsip aturan yang telah terinternalisasikan dalam
hati nurani melalui otoritas eksternal dan orientasi sosial.
f)
Perkembangan orientasi sosial keagamaan
Kelompok kawan sebaya merupakan faktor pemberi
pengaruh yang cukup kuat terhadap perkembangan remaja, karena kelompok
kawansebayanya merupakan media pengembangan dorongan kemandiriannya Kelompok
teman sebaya seagama akan menjadi sumber proses pengayaan konsep keagamaan
remaja melalui proses aplikasi perilaku dan juga menumbuhkan rasa kepedulian
sosial keagamaan, sebagai dorongan diri yang diperlukan untuk dasar aplikasi
ajaran agam tentang ikatan social kemasyarakatan.
C.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan
Agama Pada Masa Remaja
Perkembangan rasa keamaan pada masa remaja
sangat dipengaruhi oleh tumbuhnya hati nurani keagamaan, baik kualitasnya pada
akhir usia anak maupun perkembangan pada usia remaja. Hati nurani yang sudah
tumbuh kuat pada akhir masa anak-anak akan akan memudahkan perkembangan rasa
keagamaan pada masa remaja.
Faktor consience atau hati nurani ini mempunyai
padanan kata superego, inner light dan inner policemen. Pada masa remaja, anak
masuk ke dalam tahap pendewasaan, dimana hati nurani (conscience) sudah mulai
berkembang melalui pengembangan dan pengayaan pada usia anak melalui proses
sosialisasi. Proses sosialisasi nilai tersebut terlaksana melalui proses
identifikasi anak terhadap perilaku orang tuanya dan juga orang orang di
sekelilingnya yang memiliki kesan dominan secara kejiwaan, sehingga terjadi
proses imitasi sikap dan perilaku. Kekuatan dari kata hati sebagiannya justru
terletak pada ketidak mengertian anak, karena dengan begitu konsep nilai yang
masuk dalam diri anak terbentuk melalui proses tanpa tanya, begitu saja
terserap tanpa adanya reaksi dari dalam.
Proses kerja hati nurani dibantu oleh gejala
jiwa yang lain yang disebut rasa bersalah (guilt) dan rasa malu (shame), yang
akan muncul setiap kali ia melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hati
nuraninya. Clark menyatakan bahwa kapasitas untuk memiliki kata hati adalah
merupakan potensi bawaan bagi setiap manusia, tetapi substansi dari kata hati
merupakan hasil dari proses belajar.
Rasa bersalah (guilt) adalah perasaan yang
tumbuh jika dirinya tidak melakukan sesuatu sesuai dengan hati nuraninya.
Beriringan dengan itu kemudian muncul rasa rasa malu (shame), yaitu reaksi
emosi yang tidak menyenangkan terhadap perkiraan penilaian negatif dari orang
lain terhadap dirinya. Kata hati, rasa bersalah dan rasa malu dalam
perkembangan religiousitas adalah mekanisme jiwa yang terbentuk melalui proses
internalisasi nilai nilai keagamaan pada usia anak, yang akan berfungsi sebagai
pengontrol perilaku pada usia remaja.
Hati nurani mulai mengambil peran pada masa
remaja yang juga membantu dalm proses pemilikan pandangan hidup yang akan
menjadi dasar dasar pegangan hidupnya dalam bermasyarakat.
Dalam pembagian tahap perkembangan manusia, maka masa remaja
menduduki tahap progresif. Dalam pembagian yang agak terurai masa remaja
mencakup masa Juvenilitas
(adolescantium), pubertas, dan nubilitas.
Sejalan dengan perkembangan jasmani dan rohaninya, maka agama pada
para remaja turut dipengaruhi perkembangan itu. Maksudnya penghayatan para
remaja terhadap ajaran agama dan tidak keagamaan yang tampak pada para remaja
banyak berkaitan dengan faktor perkembangan tersebut.
Perkembangan agama pada para remaja ditandai dengan beberapa faktor
perkembangan rohani dan jasmaninya. Perkembangan itu antara lain menurut W.
Starbuck (Jalaluddin, 2015: 65) adalah:
1.
Pertumbuhan
Pikiran dan Mental
Ide
dan dasar keyakinan beragama yang diterima remaja dari masa kanak-kanaknya
sudah tidak begitu menarik bagi mereka. Sifat kritis terhadap ajaran agama
mulai timbul. Selain masalah agama mereka pun sudah tertarik pada masalah
kebudayaan, sosial, ekonomi dan norma-norma kehidupan lainnya.
Hasil penelitian Allport, Gillesphy, dan Young menunjukkan:
a)
85% remaja
Katolik Romawi tetap taat menganut ajaran agamanya.
b)
40% remaja
Protestan tetap taat terhadap ajarannya.
Dari hasil ini dinyatakan selanjutnya, bahwa agama yang ajarannya
bersifat lebih konservatif lebih banyak berpengaruh bagi para remaja untuk
tetap taat pada ajaran agamanya. Sebaliknya, agama yang ajarannya kurang
konservatif-dogmatis dan agak liberal akan mudah merangsang pengembangan
pikiran dan mental para remaja, sehingga mereka banyak meninggalkan ajaran
agamanya. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan pikiran dan mental mempengaruhi
sikap keagamaan mereka.
2.
Perkembangan
Perasaan
Berbagai perasaan telah berkembang pada masa remaja. Perasaan
sosial, etis, dan estetis mendorong remaja untuk menghayati perikehidupan yang
terbiasa dalam lingkungannya. Kehidupan religius akan cenderung mendorong
dirinya lebih dekat kearah hidup yang religius pula. Sebaliknya, bagi remaja
yang kurang mendapat pendidikan dan siraman ajaran agama akan lebih mudah
didominasi dorongan seksual. Masa remaja merupakan masa kematangan seksual.
Didorong oleh perasaan ingin tahu dan perasaan super, remaja lebih mudah
terperosok kearah tindakan seksual yang negatif. Dalam penyelidikannya sekitar tahun 1950-an,
Dr. Kinsey (Jalaluddin, 2015: 66) mengungkapkan, bahwa 90% pemuda Amerika telah
mengenal masturbasi, homoseks, dan onani.
3.
Pertimbangan
Sosial
Corak keagamaan para remaja juga oleh adanya pertimbangan sosial.
Dalam kehidupan keagamaan mereka timbul konflik antara pertimbangan moral dan
material. Remaja sangat bingung menentukan pilihan itu. Karena kehidupan
duniawi lebih dipengaruhi kepentingan akan materi, maka para remaja lebih
cenderung jiwanya untuk bersikap materialis. Hasil penyelidikan Ernest Harms
(Jalaluddin, 2015: 66) terhadap 1.789 remaja Amerika antara usia 18-29 tahun
menunjukkan, bahwa 70% pemikiran remaja ditunjukkan bagi kepentingan: keuangan,
kesejahteraan, kebahagiaan, kehormatan diri, dan masalah kesenangan pribadi
lainnya. Sedangkan masalah akhirat dan keagamaan hanya sekitar 3,6% masalah
sosial 5,8%.
4.
Perkembangan
Moral
Perkembangan moral pada remajaa bertitik tolak dari rasa berdosa
dan usaha untuk mencari proteksi. Tipe moral yang juga terlihat pada para
remaja juga mencakupi:
a)
Self-directive, taat terhadap
agama atau moral berdasarkan pertimbangan pribadi,
b)
Adaptive, mengikuti
situasi lingkungan tanpa mengadakan kritik.
c)
Submussive, merasakan
adanya keraguan terhadap ajaran moral dan agama.
d)
Unadjusted, belum
meyakini akan kebenaran ajaran agama dan moral.
e)
Deviant, menolak dasar
dan hukum keagamaan serta tatanan moral masyarakat.
5.
Sikap dan Minat
Sikap dan minat remaja terhadap masalah keagamaan boleh dikatakan
sangat kecil dan hal ini tergantung dar kebiasaan masa kecil serta lingkungan
agama yang memengaruhi mereka (besar kecil minatnya).
Howard Bell dan Ross (Jalaluddin, 2015: 67), berdasarkan
penelitiannya terhadap 13.000 remaja di Maryland terungkap hasil sebagai
berikut:
a)
Remaja yang
taat (ke gereja secara teratur) 45%
b)
Remaja yang
sesekali dan tidak sama sekali 35%
c)
Minat terhadap:
ekonomi, keuangan, materil dan sukses pribadi 73%
d)
Minat terhadap
masalah ideal, keagamaan, dan sosial 21%
6.
Ibadah
Pandangan para remaja terhadap ajaran agama, ibadah, dan masalah
doa sebagaimana yang dikumpulkan oleh Ross dan Oskar Kupky menunjukkan:
a.
148 siswi
dinyatakan bahwa 20 orang diantara mereka tidak pernah mempunyai pengalaman
keagamaan sedangkan sisanya 128 mempunyai pengalaman keagamaan yang 68
diantaranya secara alami (tidak melalui pengajaran resmi).
b.
31 orang
diantara yang mendapat pengalaman keagamaan melalui proses alami, mengungkapkan
adanya perhatian mereka terhadap keajaiban yang menakjubkan dibalik keindahan
alam yang mereka nikmati.
Selanjutnya mengenai pandangan mereka tentang ibadah diungkapkan
sebagai berikut:
a.
42% tak pernah
mengerjakan iabadah sama sekali.
b.
33% mengatakan
mereka sembahyang karena mereka yakin Tuhan mendengar dan akan mengabulkan doa
mereka.
c.
27% beranggapan
bahwa sembahyang dapat menolong meredakan kesusahan yang mereka derita.
d.
18% mengatakan
bahwa sembahyang menyebabkan mereka menjadi senag sesudah menunaikannya.
e.
11% mengatakan
bahwa sembahyang meningatkan tanggung jawab dan tuntutan sebagai anggota
masyarakat.
f.
4% mengatakan
bahwa sembahyang merupakan kebiasaan yang mengandung arti yang penting.
Jadi, hanya 17% mengatakan bahwa sembahyang bermanfaat untuk
berkomunikasi dengan Tuhan, sedangkan 26% diantaranya menganggap bahwa
sembahyang hanyalah merupakan media untuk bermeditasi.
BAB
III
KESIMPULAN
Istilah remaja berasal dari kata latin
adolescere yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa yang mencakup kematangan
mental, emosional, sosial dan fisik, masa remaja merupakan masa peralihan dan
ketergantungan pada masa anak-anak kemasa dewasa, dan pada masa ini remaja
dituntut untuk mandiri
Perkembangan fisik pada remaja mengalami
perkembangan dengan cepat lebih cepat dibandingkan dengan masa anak-anak dan
masa dewasa. Segala fungsi jasmaniah pada fase ini mulai atau telah dapat
bekerja. Kekuatan jasmani mereka dapat dianggap sama dengan orang dewasa. Dalam
aspek psikis, pada usia ini pribadi mereka masih mengalami kegoncangan dan
ketidak pastian.
Adapun
penghayatan keagamaan remaja adalah sebagai berikut:
a.
Masa awal remaja (12-18 tahun) diantara
tahapannya adalah: Sikap negative,
pandangan dalam hal ke-Tuhanannya menjadi kacau, dan penghayatan rohaniahnya
cenderung skeptic.
b.
Masa remaja akhir yang ditandai antara lain
oleh hal-hal berikut ini: sikap kembali ke arah positif, pandangan dalam hal
ke-Tuhanan dipahamkannya dalam konteks agama yang dianut dan dipilihnya, dan
penghayatan rohaniahnya kembali tenang.
Diantara faktor
yang mempengaruhi agama remaja adalah: concience atau hati nurani, pertumbuhan
dan pikiran mental, perasaaan beragama, pertimbangan sosial, perkembangan moral
Jalaluddin. 2015. Psikologi
Agama Memahami Perilaku dengan Mengaplikasikan Prinsip-prinsip Psikologi.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
http://alfallahu.blogspot.co.id/2013/04/psikologi-agama-pada-anak-anak.html diakses pada
Selasa 15 Maret 2016 pukul 22:01
Tidak ada komentar:
Posting Komentar