Jumat, 29 April 2016

PAI pada masa remaja

BABI
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Zaman sekarang, pergaulan muda-mudi sangat memprihatinkan. Remaja sekarang lebih senang meniru budaya barat yang bertolak belakang dengan budaya timur. Hal ini disebabkan oleh para remaja yang bergaul dengan orang-orang yang kurang baik. Perkembangan informasi dan komunikasi saat ini juga merupakan sebab pergaaulan remaja yang buruk .
Islam adalah agama yang baik dan adil, Islam memberi perhatian terhadap remaja sekarang yang terus berubah. Remaja adalah penerus orang tua, agama,dan juga sebagai insan muslim yang berakhlak karimah. Namun, remaja saat ini sudah tidak berpegang pada ajaran agama Islam  teutama etika pergaulan yang semakin menyimpang.
Pengetahuan akan Pendidikan Agama Islam pada masa remaja penting sekali, sebagai calon pendidik dan orang tua hendaklah kita mengetahui bagaimana Pendidikan Agama pada masa remaja. Oleh karena itu, penyusun membuat makalah ini untuk memberikan pengetahuan dan penjelasan tentang etika pergaulan yang sesuai dengan ajaran Islam
  1. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah di atas, maka makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
  1. Apa yang dimaksud dengan remaja?
  2. Bagaimana pendidikan agama Islam pada masa remaja?
  3. Bagaimana metode pendidikan agama Islam pada masa remaja?
  1. Tujuan
Dari rumusan masalah di atas, maka makalah ini dibuat dengan tujuan sebagai berikut:
  1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan remaja
  2. Untuk mengetahui bagaimana pendidikan agama Islam pada masa remaja
  3. Untuk mengetahui metode pendidikan agama Islam pada masa remaja
BAB II
PEMBAHASAN
  1. Pengertian Remaja
Masa remaja bermula pada perubahan fisik yang cepat, pertambahan berat dan tinggi badan yang dramatis, perubahan bentuk tubuh, dan perkembangan karakteristik seksual seperti pembesaran buah dada, perkembangan pinggang dan kumis, dan dalamnya suara. Pada perkembangan ini, pencapaian kemandirian dan identitas sangat menonjol (pemikiran semakin logis, abstrak, dan idealistis) dan semakin banyak menghabiskan waktu di luar keluarga.
Dilihat dari bahasa Inggris "teenager", remaja artinya manusia berusia belasan tahun. Dimana usia tersebut merupakan perkembangan untuk menjadi dewasa. Oleh sebab itu, orang tua dan pendidik serta sebagaian masyarakat yang lebih berpengalaman memiliki peranan penting dalam membantu perkembangan remaja menuju kedewasaan.
Remaja juga berasal dari kata latin "adolensence" yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik (Hurlock, 1992).
Remaja memiliki tempat diantara anak-anak dan orang tua karena sudah tidak termasuk golongan anak tetapi belum juga berada dalam golongan dewasa atau tua. Seperti yang dikemukakan oleh Calon (dalam Monks, dkk 1994) bahwa masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak.
Menurut Sri Rumini & Siti Sundari (2004: 53) masa remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek atau fungsi untuk memasuki masa dewasa. Masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria. Sedangkan menurut Zakiah Darajat (1990: 23) remaja adalah masa peralihan diantara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun perkembangan psikisnya. Mereka bukanlah anak-anak baik bentuk badan ataupun cara berfikir atau bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang. Hal senada diungkapkan oleh Santrock (2003: 26) bahwa remaja (adolescene) diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional. Batasan usia remaja yang umum digunakan oleh para ahli adalah antara 12 hingga 21 tahun.
Rentang waktu usia remaja ini biasanya dibedakan atas tiga, yaitu:
  1. Masa remaja awal, 12 - 15 tahun
  2. Masa remaja pertengahan, 15 – 18 tahun
  3. Masa remaja akhir, 18 – 21 tahun
Tetapi Monks, Knoers, dan Haditono membedakan masa remaja menjadi empat bagian, yaitu masa pra-remaja 10 – 12 tahun, masa remaja awal 12 – 15 tahun, masa remaja pertengahan 15 – 18 tahun, dan masa remaja akhir 18 – 21 tahun (Deswita, 2006:192).
Maka dapat disimpulkan bahwa masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak dengan masa dewasa dengan rentang usia antara 12-22 tahun, dimana pada masa tersebut terjadi proses pematangan baik itu pematangan fisik, maupun psikologis. Atau masa remaja merupakan masa peralihan dari anak menjalang dewasa.
  1. Sifat-Sifat Umum Remaja
Perkembangan pada masa remaja ditandai oleh beberapa faktor perkembangan rohani dan jasmaninya. Perkembnagan itu antara lain menurut W. Starbuck adalah:
  1. Pertumbuhan pikiran dan mental
Ide-ide beserta dasar keyakinan beragama yang diterima remaja dari masa ana-anak. Sifat kritis terhadap ajaran agama mulai timbul. Selain masalah agama mereka pun sudah tertarik pada masalah kebudayaan, sosial, ekonomi, dan norma-norma kehidupan lainnya.
Keyakinan dalam beragama dipengaruhi oleh perkembangan pikirannya pada usia remaja. Gambaran agama tentang Tuhan merupakan bagian dari gambarannya terhadap alam ini.
  1. Perkembangan perasaan
Bermacam-macam perasaan telah berkembang pada masa remaja. Perasaan sosial, etis, dan estetis mendorong remaja untuk menghayati berkehidupan yang terbiasa dalam lingkungannya. Kehidupan religius akan cenderung mendorong dirinya lebih dekat ke arah hidup yang religius pula. Sebaliknya, bagi remaja yang kurang mendapat pendidikan dan siraman ajaran agama akan lebih mudah didominasi dorongan seksual. Masa remaja merupakan masa kematangan seksual. Didorong oleh perasaan ingin tahu dan perasan super, remaja lebih terperosok ke arah tindakan seksual yang negatif.
  1. Pertimbangan sosial
Keagamaan pada remaja juga ditandai oleh adanya pertimbangan sosial. Dalam kehidupan keagamaan mareka timbul konflik antara pertimbangan moral dan material. Remaja sangat bingung menentukan pilihan itu. Karena kehidupan duniawi lebih dipengaruhi kepentingan akan materi, maka remaja lebih cenderung jiwanya untuk bersikap materialis atau bersikap hedonisme.
  1. Perkembangan moral
Perkembangan moral para remaja bertitik tolak dari rasa berdosa dan usaha untuk mencari perlindungan. Tipe moral yang juga terlihat pada remaja juga mencakupi beberapa hal diantaranya:
  1. Self-directive; taat terhadap agama atau moral berdasarkan pertimbangan pribadi.
  2. Adaptive; mengikuti situasi lingkungan tanpa mengadakan kritik.
  3. Submissive; merasakan adanya keraguan terhadap ajaran moral dan agama.
  4. Unadjusted; belum meyakini akan kebenaran ajaran agama dan moral.
  5. Deviant; menolak dasar dan hukum keagamaan serta tatanan masyarakat.   
  1. Sikap dan minat
Sikap dan minat remaja terhadap masalah keagamaan boleh dikatakan sangat kecil dan hal ini tergantung dari kebiasaaan masa kecil dan lingkungan agama yang mempengaruhi mereka.
  1. Ibadah
Remaja memandang tentang ibadah bermacam-macam, pandangan tersebut antara lain: mereka ibadah karena mereka yakin Tuhan mendengar dan akan mengabulkan doa mereka, ibadah dapat menolong mereka dan meredakan kesusahan yang mereka derita, ibadah menyebabkan mereka menjadi senang sesudah menunaikannya dan hati menjadi tenang, ibadah meningkatkan tanggung jawab dan tuntutan sebagai anggota masyarakat yang beriman, ibadah merupakan kebiasaan yang mengandung arti penting.
  1. Pendidikan Agama Islam Pada Masa Remaja
Remaja adalah anak yang berada pada usia bukan anak-anak, tetapi juga belum dewasa. Periode remaja itu belum ada kata sepakat mengenai kapan dimulai dan berakhirnya. Ada yang berpendapat bahwa usia remaja itu antara 13-21, ada juga yang mengatakan antara 13-19 tahun. Telah diketahui bersama bahwa anak adalah asset terbesar bagi orang tua, anak adalah amanah Allah yang perlu didik. Oleh karena itu, agama harus ditanamkan pada diri mereka.
Bagi remaja, agama memiliki arti yang sama pentingnya dengan moral. Bahkan, sebagaiman dijelaskan oleh Adams & Gullotta (1983), agama memberikan sebuah kerangka moral, sehingga membuat seseorang mampu membandingkan tingkah lakunya. Agama dapat menstabilkan tingkah laku dan bias memberikan penjelasan mengapa dan untuk apa seseorang berada didunia ini. Agama memberikan perlindungan rasa aman, terutama bagi remaja yang tengah mencari eksistensi dirinya.
Dibandingkan dengan masa awal anak-anak misalnya, keyakinan agama remaja telah mengalami perkembangan yang cukup berarti. Jika pada masa awal anak-anak ketika mereka baru memiliki kemampuan berpikir simbolik. Perkembangan pemahaman remaja terhadap keyakinan agama ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan kognitifnya. Oleh karena itu, meskipun pada masa awal anak-anak ia telah diajarkan agama oleh orang tua mereka, namun karena pada masa remaja mereka mengalami kemajuann dalam perkembangan kognitif, mereka mungkin mempertanyakan tentang kebenaran keyakinan agama mereka sendiri. Sehubungan dengan pengaruh perkembangan kognitif terhadap perkembangan agama selama masa remaja ini.
Berikut ada beberapa sikap pada remaja, diantaranya yaitu;
  1. Percaya ikut- ikutan
Percaya ikut- ikutan ini biasanya dihasilkan oleh didikan agama secara sederhana yang didapat dari keluarga dan lingkungannya. Namun demikian ini biasanya hanya terjadi pada masa remaja awal (usia 13-16 tahun). Setelah itu biasanya berkembang kepada cara yang lebih kritis dan sadar sesuai dengan perkembangan psikisnya.
  1. Percaya dengan kesadaran
Semangat keagamaan dimulai dengan melihat kembali tentang masalah-masalah keagamaan yang mereka miliki sejak kecil. Mereka ingin menjalankan agama sebagai suatu lapangan yang baru untuk membuktikan pribadinya, karena ia tidak mau lagi beragama secara ikut- ikutan saja. Biasanya semangat agama tersebut terjadi pada usia 17 tahun atau 18 tahun. Semangat agama tersebut mempunyai dua bentuk:
Dalam bentuk positif semangat agama yang positif, yaitu berusahamelihat agama dengan pandangan kritis, tidak mau lagi menerima hal- hal yang tidak masuk akal. Mereka ingin memurnikan dan membebaskan agama dari bid’ah dan khurafat, dari kekakuan dan kekolotan.
Dalam bentuk negative. Semangat keagamaan dalam bentuk kedua ini akan menjadi bentuk kegiatan yang berbentuk khurafi, yaitu kecenderungan remaja untuk mengambil pengaruh dari luar ke dalam masalah- masalah keagamaan, seperti bid’ah, khurafat dan kepercayaan- kepercayaan lainnya
  1. Percaya, tetapi agak ragu-ragu.
Keraguan kepercayaan remaja terhadap agamanya dapat dibagi menjadi dua:
  1. Keraguan disebabkan kegoncangan jiwa dan terjadinya proses perubahan dalam pribadinya. Hal ini merupakan kewajaran.
  2. Keraguan disebabkan adanya kontradiksi atas kenyataan yang dilihatnya dengan apa yang diyakininya, atau dengan pengetahuan yang dimiliki.
  1. Tidak percaya atau cenderung ateis
Perkembangan kearah tidak percaya pada Tuhan sebenarnya mempunyai akar atau sumber dari masa kecil. Apabila seorang anak merasa tertekan oleh kekuasaan atau kezaliman orang tua, maka ia telah memendam sesuatu tantangan terhadap kekuasaan orang tua, selanjutnya terhadap kekuasaan apa pun, termasuk kekuasaan Tuhan.
Ada beberapa ciri-ciri kesadaran beragama yang menonjol pada masa remaja. Diantaranya adalah:
  1. Pengalaman ke-Tuhanannya makin bersifat individual
  2. Keimanannya semakin menuju realitas sebenarnya
  3. Peribadatan mulai disertai penghayatan yang tulus
  1. Metode Pendidikan Agama Islam Pada Masa Remaja
Dalam mengajarkan agama pada remaja diperlukan berbagai metode. Adapun metode yang digunakan untuk  mengajarkan agama pada remaja telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW antara lain:
  1. Metode keteladanan
Ketelaudanan dalam pendidikan merupakan metode yang berpengaruh dalam aspek moral spiritual anak adalam remaja mengingat pendidik adalah figur terbaik dalam pandangan anak. Metode ini dapat diterapkan pada usia remaja misalnya contohkan shalat, mengaji dan ibadah-ibadah atau perbuatan baik lainnya.
  1. Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah cara mengajar dengan menggunakan peragaan atau memperlihatkan bagaimana berjalannya suatu proses tertentu kepada yang diajar. Metode ini dapat digunakan untuk  mengajarkan agama pada remaja, misalnya mendemonstrasikan langsung seperti; praktek shalat, wudhu, atau praktek penyelenggaraan shalat jenazah.
  1. Metode Nasihat
Termasuk metode pengajaran agama pada remaja yang cukup berhasil dalam membentuk  aqidah anak (remaja) dan mempersiapkannya baik secara moral, maupun emosional adalah pendidikan anak dengan petuah dan memberikan kepadanya nasehat-nasehat. Karena nasehat memiliki pengaruh yang cukup besar dalam membuka mata anak (remaja) akan hakikat sesuatu, mendorong untuk  menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia.
Menurut Abudinata bahwa nasehat ini cocok untuk  remaja karena dengan kalimat-kalimat yang baik dapat menentukan hati untuk  mengarahkannya kepada ide yang dikehendaki. Menurut beliau bahwa metode nasehat itu sasarannya adalah untuk  menimbulkan kesadaran pada orang yang dinasehati agar mau insaf melaksanakan ajaran yang digariskan atau diperintahkan kepadanya.
  1. Metode Pendekatan Analisis Nilai
Memberikan penekanan pada perkembangan kemampuan remaja dan dewasa untuk berpikir secara positif serta mengaplikasikannya pada kehidupan sehari-hari. Kemudian mereka diberikan  keleluasaan untuk beraktifitas serta menilai apakah yang dilakukannya itu bermanfaat bagi orang  lain atau tidak sehingga mereka dapat mengintropeksi diri dan biarkan diri mereka sendiri yang  menilai.






BAB II
PENUTUP
  1. Simpulan
Masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak dengan masa dewasa dengan rentang usia antara 12-22 tahun, dimana pada masa tersebut terjadi proses pematangan baik itu pematangan fisik, maupun psikologis. Atau masa remaja merupakan masa peralihan dari anak menjalang dewasa.
Rentang waktu usia remaja ini biasanya dibedakan atas tiga, yaitu:
  1. Masa remaja awal, 12 - 15 tahun
  2. Masa remaja pertengahan, 15 – 18 tahun
  3. Masa remaja akhir, 18 – 21 tahun
Sifat-sifat umum pada remaja dan perubahannya bisa terlihat pada pertumbuhan dan mental, perkembangan perasaan, pertimbangan mental, perkembangan moral, dan ibadah.
Bagi remaja, agama memiliki arti yang sama pentingnya dengan moral. Bahkan, sebagaiman dijelaskan oleh Adams & Gullotta (1983), agama memberikan sebuah kerangka moral, sehingga membuat seseorang mampu membandingkan tingkah lakunya. Agama dapat menstabilkan tingkah laku dan bias memberikan penjelasan mengapa dan untuk apa seseorang berada didunia ini. Agama memberikan perlindungan rasa aman, terutama bagi remaja yang tengah mencari eksistensi dirinya.
Adapun metode yang digunakan untuk  mengajarkan agama pada remaja telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW antara lain: 1) Metode keteladanan 2) Metode demonstrasi, 3) Metode nasihat, dan 4) Metode pendekatan analisis nilai






DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu Ahmadi, 2005, Psikologi Perkembangan, Jakarta: Renika Cipta
Baihaqi, Wildan. 2013. Psikologi Agama. Bandung CV.Insan Mandiri
Mappiare, Andi. 1982. Psikologi Remaja. Surabaya: Usaha nasional
Nashin, Abdullah Nashih Ulwan. 2007. Pendidikan Anak dalam Islam. Jakarta: Pustaka Amani, Cet. Ke-I
Jalaluddin. 2007. Psikologi Agama.  Jakarta: PT Raja Grafindo Persada



Tidak ada komentar:

Posting Komentar