BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hakikat
manusia menurut Islam adalah makhluk (ciptaan) Tuhan, hakikat wujudnya bahwa
manusia adalah mahkluk yang perkembangannya dipengaruhi oleh pembawaan dan
lingkungan. Manusia sempurna menurut Islam adalah jasmani yang sehat serta kuat
dan Berketerampilan, cerdas serta pandai.
Tujuan umum
pendidikan Islam ialah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah. Jadi menurut
Islam, pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia yang menghambakan kepada
Allah. Yang dimaksud menghambakan diri ialah beribadah kepada Allah.
B. Rumusan Masalah
1. Apa
pengertian pendidikan dalam perspektif Islam?
2. Bagaimana
ruang lingkup pendidikan Islam?
3. Apa
tujuan dan fungsi pendidikan yang Islami?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Definisi Pendidikan Secara Umum
Definisi pendidikan menurut para ahli, diantaranya adalah
:
Menurut John Dewey, pendidikan
adalah suatu proses pembaharuan makna pengalaman, hal ini mungkin akan terjadi
di dalam pergaulan biasa atau pergaulan orang dewasa dengan orang muda, mungkin
pula terjadi secara sengaja dan dilembagakan untuk untuk menghasilkan
kesinambungan social. Proses ini melibatkan pengawasan dan perkembangan dari
orang yang belum dewasa dan kelompok dimana dia hidup.
Menurut H. Horne, pendidikan
adalah proses yang terus menerus (abadi) dari penyesuaian yang lebih tinggi
bagi makhluk manusia yang telah berkembang secara fisik dan mental, yang bebas
dan sadar kepada vtuhan, seperti termanifestasi dalam alam sekitar intelektual,
emosional dan kemanusiaan dari manusia.
Menurut Frederick J. Mc Donald,
pendidkan adalah suatu proses atau kegiatan yang diarahkan untuk merubah tabiat
(behavior) manusia. Yang dimaksud dengan behavior adalah setiap tanggapan atau
perbuatan seseorang, sesuatu yang dilakukan oleh sesorang.
Menurut M.J. Langeveld,
pendidikan adalah setiap pergaulan yang terjadi adalah setiap pergaulan yang
terjadi antara orang dewasa dengan anak-anak merupakan lapangan atau suatu
keadaan dimana pekerjaan mendidik itu berlangsung.
B.
Definisi Pendidikan Dalam Perspektif Islam
Istilah pendidikan dalam pendidikan Islam pada umumnya
mengacu pada Al-Tarbiyah, Al-Ta'dib, Al-Ta'lim. Berikut pengertiannya menurut
Bukhari Umar (2010: 21-26):
a)
Pengertian Tarbiyah
Abdurrahman
An-Nahlawi mengemukakan bahwa menurut Kamus Bahasa Arab, lafal At-Tarbiyah
berasal dari tiga kata, yaitu:
1)
Raba-yarbu yang berarti bertambah dan bertumbuh.
Makna ini dapat dilihat dalam firman Allah S.W.T.:
وَمَآ ءَاتَيۡتُم مِّن رِّبٗا لِّيَرۡبُوَاْ
فِيٓ أَمۡوَٰلِ ٱلنَّاسِ فَلَا يَرۡبُواْ عِندَ ٱللَّهِۖ
“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu
berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah
pada sisi Allah”. (Q.S. Ar-Rum [30]: 39).
2)
Rabiya-yarba dengan wazan (bentuk) khafiya-yakhfa,
yang berarti menjadi besar. Atas dasar makna inilah Ibnu Al-‘Arabi mengatakan:
فَمَنْ يَكُ سَائِلًا
عَنِّ فَإِنِّ بِمَكَّةَ مَنْزِلِى وَبِهَا رُبِيْتُ
“Jika orang bertanya tentang diriku,
maka Mekkah adalah tempat tinggalku dan disitulah aku dibesarkan.”
3)
Rabba-yarubbu dengan wazan (bentuk) madda-yamuddu
yang berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun, menjaga, dan memelihara.
Makna ini antara lain ditujukan oleh perkataan Hasan bin Tsabit, sebagaimana
yang ditulis oleh Ibnu Al-Manzhur dalam Lisan Al-‘Arab:
وَلَاَنْتَ أَحْسَنُ إِذْ بَذَرْتَ لَنَا يَوْمَ الْخُرُوْجُ بِسَاحَةِ الْقَصْرِ
مِنْ ذُرِّيَّةِ بَيْضَآءِ صَافِيَةٍ مِمَّا تَرَبَّبَ جَائِرَةُ الْبَحْرِ
“Sesungguhnya ketika engkau tampak
pada hari keluar di halaman istana, engkau lebih baik daripada sebutir mutiara
putih bersih yang dipelihara oleh kumpulan air laut.”
Kata Ibnu
Al-Manzhur “Rababtul amra-arubbuhu rabban wa rabbaban”, berarti aku memperbaiki
dan mengokohkan perkara itu. (An-Nahlawi, 1989: 31).
Kata “tarbiyah”
merupakan mashdar dari rabba-yurabby-tarbiyatan dengan fa’ala-yufa’ilu-taf’ilan.
Kata ini ditemukan dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra’ (17): 24 yang artinya: “Rendahkanlah
dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai
Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidikku
waktu kecil.”
Dalam
terjemahan ayat di atas, kata tarbiyah digunakan untuk mengungkapkan
pekerjaan orangtua yang mengasuh anaknya sewaktu kecil. Pengasuhan itu meliputi
pekerjaan memberi makanan, minuman, pengobatan, memandikan, menidurkan, dan
kebutuhan lainnya sebagai bayi. Semua itu dilakukan dengan rasa kasih sayang.
Dari ketiga asal kata di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan (tarbiyah) terdiri
dari empat unsur yaitu:
a)
Menjaga dan memelihara fitrah
anak menjelang baligh;
b)
Mengembangkan seluruh potensi
dan kesiapan yang bermacam-macam;
c)
Mengarahkan seluruh fitrah dan
potensi anak menuju kepada kebaikan dan kesempurnaan yang layak baginya;
d)
Proses ini dilaksanakan secara
bertahap.
Dari kata
al-tarbiyah ini terkandung juga unsur dan proses yang terdapat dalam pendidikan
yaitu, unsur peserta didik, unsur pendidik, dan unsur caranya. (Abudin Nata,
2011: 20)
b)
Pengertian
Ta’lim
Pengertian ta’lim sebagai suatu istilah yang
digunakan untuk mengungkapkan pendidikan dikemukakan oleh para ahli, antara
lain dapat dilihat sebagai berikut:
1)
Abdul Fatah Jalal
mengemukakan bahwa ta’lim adalah proses pemberian pengetahuan,
pemahaman, pengertian, tanggung jawab, dan penanaman amanah, sehingga terjadi
penyucian (tazkiyah) atau pembersihan diri manusia dari segala kotoran
yang menjadikan diri manusia itu berada dalam suatu kondisi yang memungkinkan
untuk menerima al-hikmah serta mempelajari segala yang bermanfaat
baginya dan yang tidak diketahuinya.
2)
Muhammad Rasyid
Ridha memberikan definisi ta’lim sebagai proses transmisi sebagai ilmu
pengetahuan pada jiwa individu, tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu
3)
Muhammad Athiyah
Al-Abrasyi mengemukakan pengertian at-ta’lim yang berbeda dari
pendapat-pendapat di atas. Beliau menyatakan bahwa at-ta’lim lebih
khusus daripada at-tarbiyah karena at-ta’lim hanya merupakan
upaya menyiapkan individu dengan mengacu kepada aspek-aspek tertentu saja,
sedangkan at-tarbiyah mencakup keseluruhan aspek-aspek pendidikan.
Istilah ta’lim bermakna (Deden Makbullah, 2012) proses
transfer pengetahuan, pemahaman, pengertian, tanggung jawab, dan penanaman
amanat. Proses tersebut menjadikan diri kita bersih dari segala kotoran
sehingga siap menerima al-hikmah. Kita juga siap mempelajari segala sesuatu
yang belum diketahui dan berguna. Istilah ta’lim dengan pengertian ini secara
praktis merupakan proses pendidikan yang berlangsung dari masa kanak-kanak
hingga akhir hayat. Bagi Syed Muhammad Naquib Al-Attas, ta’lim lebih dekat
kepada pengajaran, bahkan lebih jauh dikatakan bahwa aspek kognitif yang
dijangkaunya tidak memberikan porsi pengenalan secara mendasar. Istilah ta’lim
berarti mengajar.
c)
Pengertian
Ta’dib
Secara bahasa, kata al-ta’dib
merupakan berasal dari kata:
1)
Berasal dari kata dasar “aduba–ya’dubu” yang berarti melatih,
mendisiplinkan diri untuk berperilaku yang baik dan sopan santun.
2)
Berasal dari kata “adaba–ya’dibu” yang berarti mengadakan pesta atau
perjamuan yang berbuat dan berperilaku sopan.
3)
Kata “addaba” sebagai bentuk kata kerja “ta’dib” mengandung
pengertian mendidik, melatih, memperbaiki, mendisiplin dan memberi tindakan.
Dalam hadits Nabi disebutkan:
(رواه علي عن العكسري ) رَ بّي تَأ
دِ يبِى فَأَ حسَنِ أ دَّ بَنِي
Artinya: “Tuhan telah mendidikku, maka ia sempurnakan pendidikanku” ( HR. Al-Askary
dari Ali Ra)
Dari pengertian dan hadist tersebut, dapat disimpulkan bahwa kata “ta’dib”
mengandung pengertian usaha untuk menciptakan situasi dan kondisi sedemikian
rupa, sehingga anak didik terdorong dan tergerak jiwa dan jiwanya untuk
berperilaku dan bersifat sopan santun yang baik sesuai dengan yang diharapkan.
Orientasi kata al-Ta’dib
lebih terfokus pada pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur
ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu
di dalam tatanan penciptaan sedemikian rupa, sehingga membimbing ke arah
pengenalan dan pengakuan kekuasaan dan keagungan Tuhan di dalam tatanan wujud
dan keberadaannya.
Pendidikan dalam Perspektif
Islam
Menurut Langgulung (Muhaimin,
2001) pendidikan Islam tercakup dalam delapan pengertian, yaitu At-Tarbiyyah Ad-Din (Pendidikan keagamaan), At-Ta’lim fil
Islamy (pengajaran keislaman), Tarbiyyah Al-Muslimin (Pendidikan orang-orang
islam), At-tarbiyyah fil Islam (Pendidikan dalam islam), At-Tarbiyyah ‘inda
Muslimin (pendidikan dikalangan Orang-orang Islam), dan At-Tarbiyyah
Al-Islamiyyah (Pendidikan Islami).
Arti pendidikan Islam itu
sendiri adalah pendidikan yang berdasarkan Islam. Isi ilmu adalah teori. Isi
ilmu bumi adalah teori tentang bumi. Maka isi Ilmu pendidikan adalah teori-teori
tentang pendidikan. Ilmu pendidikan Islam secara lengkap isi suatu ilmu
bukanlah hanya teori.
Hakikat manusia menurut Islam
adalah makhluk (ciptaan) Tuhan, hakikat wujudnya bahwa manusia adalah mahkluk
yang perkembangannya dipengaruhi oleh pembawaan dan lingkungan. Manusia
sempurna menurut Islam adalah jasmani yang sehat serta kuat dan berketerampilan,
cerdas serta pandai. Tujuan umum pendidikan Islam ialah terwujudnya manusia
sebagai hamba Allah. Jadi menurut Islam, pendidikan haruslah menjadikan seluruh
manusia yang menghambakan kepada Allah. Yang dimaksud menghambakan diri ialah
beribadah kepada Allah.
1.
At-Tarbiyah
al-Diniyah (Pendidikan Keagamaan)
Pendidikan adalah upaya nyata untuk memfasilitasi
individu lain, dalam mencapai kemandirian serta kematangan mentalnya. Pendidikan
keagamaan adalah memberi pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian, dan
keterampilan menurut penguasaan pengetahuan tentang agama dan mengamalkan
ajaran agamanya. Pendidikan kegamaan pada pendidikan
dasar, menengah, dan tinggi
mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut
penguasaan pengetahuan tentang ajaran agama dan/atau menjadi ahli ilmu agama. Yang
bertujuan untuk terbentuknya peserta didik yang memahami dan mengamalkan
nilai-nilai ajaran agamanya dan atau menjadi ahli ilmu agama yang berwawasan
luas, kritis, kreatif, inovatif, dan dinamis dalam rangka mencerdasakan
kehidupan bangsa yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia.
Dalam proses belajar mengajarnya biasanya melibatkan pendidik
dan peserta didik. Metode yang biasa digunakan beraneka ragam, misalnya metode
ceramah, kisah, keteladanan dan lain sebagainya.
2.
Ta’lim ad-Din
(Pengajaran Agama)
Pengajaran
lebih menekankan kepada aktivitas mengajarkan (transfer knowledge) pengetahuan,
teknologi dan keterampilan serta meningkat kecerdasan dan pengendalian
emosinya.
Dan proses
pembelajaran agar peserta didik dapat secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan dan akhlak mulia. Jadi pengajaran agama adalah
aktivitas mengajarakan/menyampaikan wawasan dan pengetahuan tentang agama
Islam.
3.
Al-Ta’lim
ad-Diny (Pengajaran Keagamaan)
Keagamaan berasal dari kata “agama” yang mendapat awalan
“ke” dan akhiran “an” sehingga menjadi keagamaan. Menurut Poerwadarminta (1986)
keagamaan adalah sifat-sifat yang terdapat dalam agama atau segala sesuatu mengenai
agama, misalnya tentang soal-soal agama. Atau tingkah laku manusia dengan
bagaimana pola hubungannya dengan Tuhannya, sesama manusia, dan alam.
Jadi, pengajaran keagamaan adalah proses mengajarkan atau
transfer soal-soal agama atau tingkah laku manusia dalam mengenal Tuhannya,
misalnya tentang bagaimana tatacara melaksanakan ibadah sholat, berpuasa,
bagaiamana agar lebih dekat dengan Allah, dan lain sebagainya.
Dalam proses belajar pembelajarannya terlibat antara
pendidik dan peserta didik.
4.
At-Ta’lim
Al-Islamy (Pengajaran Keislaman)
Pengajaran keislaman adalah mengajarkan atau memberi
pengetahuan tentang keislaman, misalnya menanamkan tauhid dan aqidah yang
benar, mengajari bagaiaman tatacara melaksanakan ibadah, mengajarkan tentang
Al-Quran dan hadits, tentang rukun Islam, sejarah penyebaran agama Islam dari
sejak nabi sampai sekarang, bagaiamana Al-Qur’an sejarah turunnya, dan lain
sebagainya
5.
Tarbiyah
al-Muslimin (Pendidikan Orang-orang Muslim)
Pendidikan orang-orang muslim yaitu
pendidikan yang ada atau dilakukan oleh masyarakat atau lingkungan orang-orang
muslim. Misalnya, mendidik berbagai adab dan akhlak mulia, tentang bagaimana hidup berkeluarga yang rukun
6.
Al-Tarbiyah
Fil Islam (Pendidikan dalam Islam)
Pendidikan dalam Islam yaitu pendidikan yang berada dalam
agama Islam, misalnya tentang penetapan suatu hukum dalam Islam
7.
Al-Tarbiyah
al-Islamiyah (Pendidikan Islami)
Pendidikan Islami yaitu pendidikan tentang tatacara
melakukan sesuatu yang islami, misalnya membiasakan anak untuk berpakaian yang
Islami, melarang perbuatan yang diharamkan, bagaimana adab berpakaian dalam
Islam, bagaimana adab berbicara dalam Islam dan lain sebagainya
C.
Ruang Lingkup Pendidikan Islam
1.
Pendidikan Keimanan
“Dan ingatlah
ketika Luqman berkata kepada anaknya diwaktu ia memberikan pelajaran
kepadanya:”hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesengguhnya
mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedzaliman yang nyata.” (Q.S Luqman:13)
Bagaimana cara mengenalkan
Allah SWT dalam kehidupan anak?
a) Menciptakan hubungan yang
hangat dan harmonis (bukan memanjakan). Jalin
hubungan komunikasi yang baik dengan anak, bertutur kata lembut, bertingkah
laku positif. Hadits Rasulullah:
·
“Cintailah anak-anak kecil dan sayangilah
mereka…:” (H.R Bukhari)
·
“Barang siapa mempunyai anak kecil, hendaklah
ia turut berlaku kekanak-kanakkan kepadanya.” (H.R Ibnu Babawaih dan Ibnu
Asakir)
b) Menghadirkan sosok Allah
melalui aktivitas rutin, seperti ketika kita bersin katakan alhamdulillah.
Ketika kita memberikan uang jajan katakan bahwa uang itu titipan Allah jadi
harus dibelanjakan dengan baik.
c) Memanfaatkan momen religius, seperti
sholat bersama, tarawih bersama di bulan ramadhan, tadarus, dan lan sebagainya
d) Memberi kesan positif tentang
Allah dan kenalkan sifat-sifat baik Allah Jangan mengatakan “nanti Allah marah
kalau kamu berbohong” tapi katakanlah “ anak yang jujur disayang Allah”.
e) Beri teladan, anak akan
bersikap baik jika orang tuanya bersikap baik karena anak menjadikan orang tua
model atau contoh bagi kehidupannya. Dalam Al-Qur’an yang artinya “Hai
orang-orang yang beriman mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?
Amat besar di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan”.(Q.S
As-Saf: 2-3)
f) Kreatif dan terus belajar, sejalan
dengan perkembangan anak. Anak akan terus banyak memberikan pertanyaan. Sebagai
orang tua tidak boleh merasa bosan dengan pertanyaan anak malah kita harus
dengan bijaksana menjawab segala pertanyaannya dengan mengikuti perkembangan
anak.
2.
Pendidikan Akhlak
Hadits dari Ibnu Abas Rasulullah bersabda: “… Akrabilah anak-anakmu dan didiklah akhlak mereka.”
Rasulullah saw bersabda: ”Suruhlah
anak-anak kamu melakukan shalat ketika mereka telah berumur tujuh tahun dan
pukullah mereka kalau meninggalkan ketika mereka berumur sepuluh tahun, dan
pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Daud)
Bagaimana cara megenalkan
akhlak kepada anak :
a)
Penuhilah kebutuhan emosinya. Dengan mengungkapkan emosi lewat cara yang
baik. Hindari mengekspresikan emosi dengan cara kasar, tidak santun dan tidak
bijak. Berikan kasih saying sepenuhnya, agar anak merasakan bahwa ia
mendapatkan dukungan. Hadits Rasulullah : “ Cintailah
anak-anak kecil dan sayangilah mereka…:” (H.R Bukhari)
b)
Memberikan pendidikan mengenai yang haq dan bathil. “Dan janganlah kamu campur adukan yang haq dengan yang bathil dan
janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, sedang kamu mengetahui.”(Q.S
Al-Baqarah: 42). Seperti bahwa berbohong itu tidak baik, memberikan sedekah
kepada fakir miskin itu baik.
c)
Memenuhi janji. Hadits Rasulullah :”…. Jika engkau menjanjikan sesuatu kepada mereka, penuhilah janji itu.
Karena mereka itu hanya dapat melihat, bahwa dirimulah yang memberi rizki
kepada mereka.” (H.R Bukhari)
d)
Meminta maaf jika melakukan kesalahan
e)
Meminta tolong/ mengatakan tolong jika kita memerlukan bantuan.
f)
Mengajak anak mengunjungi kerabat
3.
Pendidikan Intelektual
Menurut kamus psikologi istilah intelektual berasal dari
kata intelek yaitu proses kognitif/berpikir, atau kemampuan menilai dan
mempertimbangkan.
Pendidikan intelektual ini disesuaikan dengan kemampuan
berpikir anak. Menurut Piaget
seorang Psikolog yang membahas tentang teori perkembangan yang terkenal juga dengan
“Teori Perkembangan Kognitif”
mengatakan ada 4 periode dalam perkembangan kognitif manusia, yaitu:
a) Periode 1, 0
tahun – 2 tahun (sensori motorik)
Mengorganisasikan tingkah laku fisik seperti menghisap,
menggenggam dan memukul pada usia ini cukup dicontohkan melalui seringnya
dibacakan ayat-ayat suci al-Quran atau ketika kita beraktivitas membaca
bismillah.
b) Periode 2, 2
tahun – 7 tahun (berpikir Pra Operasional)
Anak mulai belajar untuk berpikir dengan menggunakan
symbol dan khayalan mereka tapi cara berpikirnya tidak logis dan sistematis. Seperti
contoh nabi Ibrahim mencari Robbnya.
c)
Periode 3, 7 tahun- 11 tahun (Berpikir Kongkrit
Operasional)
Anak mengembangkan kapasitas untuk berpikir sistematik
d) Contoh : Angin tidak terlihat tetapi dapat dirasakan begitu
juga dengan Allah SWT tidak dapat dilihat tetapi ada ciptaannya.
e) Periode 4, 11
tahun- Dewasa (Formal Operasional)
Kapasitas berpikirnya sudah sistematis dalam bentuk
abstrak dan konsep
4.
Pendidikan Fiksi
Dengan memenuhi kebutuhan makanan yang seimbang, memberi
waktu tidur dan aktivitas yang cukup agar pertumbuhan fisiknya baik dan mampu
melakukan aktivitas seperti yang disunahkan Rasulullah “ Ajarilah anak-anakmu
memanah, berenang dan menunggang kuda.” (HR. Thabrani)
5.
Pendidikan Psikis
Dan janganlah kamu bersifat lemah dan jangan pula berduka
cita, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu
benar-benar orang yang beriman.”
(QS. 3:139)
ü Memberikan kebutuhan emosi, dengan cara memberikan kasih
saying, pengertian, berperilaku santun dan bijak.
ü Menumbuhkan rasa percaya diri
ü Memberikan semangat tidak melemahkan
D.
Fungsi dan
Tujuan Pendidikan yang Islami
Abudin Nata (2010) ( Pupuh Fathurrahman, 2007:121-122)
menjelaskan bahwa fungsi pendidikan yang Islmani adalah sebagai penyiapan kader-kader khalifah dalam
rangka membangun kerajaan dunia yang makmur, dinamis, harmonis, dan lestari
sebagaimana diisyaratkan oleh Allah. Maka pendidikan Islam semestinya adalah
pendidikan yang paling ideal, karena kita hanya berwawasan kehidupan secara utuh
dan multi dimensional. Tidak hanya berorientasi untuk membuat dunia menjadi
sejahtera dan gegap gempita, tetapi juga mengajarkan bahwa duna sebagai ladang,
sekaligus sebagai ujian untuk dapat lebih baik di akhirat.
Dengan demikian, pendidikan yang Islami mengemban misi
melahirkan manusia yang tidak hanya memanfaatkan persediaan alam, tetapi juga
manusia yang mau bersyukur kepada yang membuat manusia dan alam.
BAB
III
PENUTUP
Simpulan
Istilah pendidikan dalam
pendidikan Islam pada umumnya mengacu pada Al-Tarbiyah, Al-Ta'dib, Al-Ta'lim.
Istilah “pendidikan” (at-tarbiyah atau tarbiyah) dan “pengajaran”
(at-ta’lim atau ta’lim) kalau dikaitkan dengan atau disandarkan
pada istilah-istilah ad-diniyah/ad-diny (keagamaan), ad-din (Agama),
al-islamy (ke-Islaman), al-muslimin (orang-orang Islam), fi
al-Islam (dalam Islam), ‘inda al-muslimin (dikalangan orang-orang Islam),
dan al-islamiyah (bersifat Islami), akan menimbulkan perspektif yang
berbeda-beda, terutama jika dikaji dari fenomena historik-sosiologik perkembangan
pendidikan Islam.
Adapun ruang lingkup pendidikan Islam yakni:
1.
Pendidikan Keimanan
2.
Pendidikan Akhlak
3.
Pendidikan Intelektual
4.
Pendidikan Fiksi
5.
Pendidikan Psikis
Tujuan umum pendidikan Islam ialah
terwujudnya manusia sebagai hamba Allah. Jadi menurut Islam, pendidikan
haruslah menjadikan seluruh manusia yang menghambakan kepada Allah. Yang
dimaksud menghambakan diri ialah beribadah kepada Allah.
DAFTAR PUSTAKA
Fathurrohman, Pupuh & Sutikno, Sobry. 2007. Strategi Belajar
Mengajar melalui Penanaman Konsep Umum & Konsep Islami. Bandung: Refika
Aditama
Makbullah,
Deden. 2012. Pendidikan Agama Islam Arah
Baru Pengembangan Ilmu dan Kepribadian di Perguruan Tinggi). Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada.
Muhaimin, dkk.
2001. Paradigma Pendidikan Islam upaya mengefektifkan pendidikan agama islam
di sekolah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Nata, Abuddin.
2011. Pemikiran Pendidikan Islam dan Barat. Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada
http://juniarari.blogspot.co.id/2011/11/pendidikan-dalam-pandangan-islam.html
(diunggah, 7 Februari 2016, pukul 10:16 wib )
https://www.academia.edu/8338317/Pendidikan_dalam_perspektif_Islam
(diunggah 7 Februari 2016, pukul 10:46 wib)
https://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan_keagamaan
(diunggah 23 Februari 2016, pukul 13:25 wib)
hasil karya :
Risma Samrotunnajah
Siti Hanah
Sofwan
Wiwi Nurkhanti