Sabtu, 21 Mei 2016

ETIKA DAN MANFAAT TIK



ETIKA DAN MANFAAT TEKNOLOGI INFORMASI KOMUNIKASI PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH (PLS)
NAMA                       : Siti Halimah
NIM                            : 1132020139
SMT/Kls                     : VI/D
A.    PENDAHULUAN
Teknologi komunikasi dan informasi (TIK) saat ini memang sudah tak bisa lagi kita pisahkan dari kehidupan manusia modern. Setiap harinya kehidupan kita selalu dipenuhi dengan perangkat-perangkat TIK tersebut. Namun terkait hal itu TIK terikat dengan etika didalamnya. Berlatarbelakang hal tersebutlah maka akhirnya muncul sebuah gagasan dari kalangan yang peduli terhadap kegiatan pembelajaran yang berlangsung bagi peserta didik pendidikan luar sekolah (PLS) untuk mencanangkan sebuah kegiatan pembelajaran berbasis TIK.
Pembelajaran berbasis TIK adalah upaya memanfaatkan kemajuan TIK untuk mendukung proses pembelajaran. Media adalah sebuah perangkat atau alat. Sedangkan pembelajaran adalah sebagai sebuah kegiatan penyampaian informasi terkait ilmu pengetahuan dari tenaga pendidik kepada peserta didik yang dimilikinya. Dengan demikian Media pembelajaran berbasis TIK adalah sebuah alat atau perangkat yang diperlukan dalam proses kegiatan penyampaian informasi berupa ilmu pengetahuan dari seorang tenaga pendidik kepada para peserta didik yang menggunakan teknologi informasi dan komunikasi.

B.     PEMBAHASAN
1.      Pengertian Etika dalam TIK
Etika (ethic) bermakna sekumpulan azas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak, tata cara (adat, sopan santun) nilai mengenai benar dan salah tentang hak dan kewajiban yang dianut oleh suatu golongan atau masyarakat. Sedangkan TIK dalam konteks yang lebih luas, merangkumi semua aspek yang berhubungan dengan mesin (komputer dan telekomunikasi) dan teknik yang digunakan untuk menangkap (mengumul), menyimpan, memanipulasi, menghantar, dan menampilkan suatu bentuk informasi. Komputer yang mengendalikan semua bentuk idea dan informasi memainkan peranan yang penting dalam pengumpulan, pemrosesan, penyimpanan dan penyebaran informasi suara, gambar, teks, dan angka yang berasaskan mikroelektrnik. Teknologi informasi bermakna menggabungkan bidang teknlogi seperti pengkomputeran, telekomunikasi, dan elektronik dan bidang informasi seperti data fakta dan proses.
Jadi etika TIK adalah sekumpulan azas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak, tata cara (adat, sopan santun) nilai mengenai benar dan salah, hak dan kewajiban tentang TIK yang dianut oleh suatu golongan atau masyarakat dalam pendidikan.
TIK tidak terlepas dari berbagai keterbatasan, oleh karena itu dalam penggunaan tekologi informasi terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan, diantaranya adalah:
1.      Kesadaran dalam mengetahui kemampuan dan keterbatasan teknologi informasi dan komunikasi.
2.      Teknologi informasi dan komunikasi agar digunakan secara betul, beretika dan untuk perlindungan terhadap data dan informasi.
.  
2.      Hakikat Teknologi Informasi
Informasi merupakan hasil dari pengolahan data, data dikemas dan diolah sedemikian rupa hingga menjadi sebuah informasi. Data pendukung informasi dapat berupa angka, karakter, simbol, gambar, tulisan, suara, bunyi dan presentasi keadaan yang sebenarnya. Syarat data yang digunakan dalam sebuah informasi adalah akurat dan dapat dibuktikan. Teknologi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yg diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Teknologi bersifat praktis dan mempermudah. Jadi dapat disimpulkan teknologi informasi adalah sarana (perangkat keras) yang digunakan untuk mengolah data, memproses data tersebut untuk menjadi sebuah informasi yang baik.
Sedangkan Wawan Wardiana (2000) mengemukakan bahwa teknologi informasi adalah teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, memanipulasi data berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas.

3.      Hakikat komunikasi
Komunikasi seperti dalam Kamus Bahasa Indonesia diartikan sebagai pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami, jika arti komunikasi dikaitkan dengan teknologi maka penekanan kata teknologi komunikasi lebih tertuju kepada kata “media”. Sehingga teknologi komunikasi didefinisikan sebagai alat (media) yang digunakan untuk melakukan penyampaian informasi kepada orang lain dengan efektif dan efisien.
Dari definisi teknologi informasi dan teknologi komunikasi pada bagian atas, kita dapat menyatakan bahwa kedua definisi tersebut memiliki keterkaitan antara keduanya

4.      Pengertian Pendidikan Luar Sekolah (PLS)
Pendidikan Luar Sekolah ( PLS ) merupakan jenis pendidikan yang tidak selalu terkait dengan jenjang dan struktur persekolahan, namun dapat berkesinambungan. Pendidikan Luar Sekolah menyediakan program pendidikan yang memungkinkan terjadinya perkembangan peserta didik dalam bidang sosial, keagamaan, budaya, keterampilan dan keahlian.
Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 73 Tahun 1991, tentang Pendidikan Luar Sekolah Bab I Pasal I dinyatakan bahwa pendidikan luar sekolah adalah pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah baik dilembagakan maupun tidak. Selanjutnya dalam Bab II Pasal 2 dinyatakan bahwa pendidikan luar sekolah bertujuan :
  1. Melayani warga belajar supaya dapat tumbuh dan berkembang sedini mungkin dan sepanjang hayatnya guna meningkatkan martabat dan mutu kehidupannya ;
  2. Membawa warga belajar agar memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap mental yang diperlukan untuk mengembangkan diri, bekerja mencari nafkah atau melanjutkan ke tingkat dan/atau jenjang pendidikan yang lebih tinggi ;
  3. Memenuhi kebutuhan belajar masyarakat yang tidak dapat dipenuhi dalam jalur pendidikan sekolah.
Melalui Pendidikan Luar Sekolah ( PLS) setiap warga negara dapat memperluas wawasan pemikiran dan peningkatan kualitas pribadi dengan menerapkan landasan belajar seumur hidup. Selanjutnya Pendidikan Luar Sekolah (PLS) mencakup :
a)      Pendidikan keterampilan
b)      Pendidikan perluasan wawasan
c)      Pendidikan keluarga
Pendidikan Luar Sekolah (PLS) menggunakan pembelajaran bermakna, artinya lebih berorientasi dengan pasar, dan hasil pembelajaran dapat dirasakan langsung manfaatnya, baik oleh masyarakat maupun peserta didik itu sendiri.
Berdasarkan fakta di lapangan maka media pembelajaran yang dibutuhkan bagi masyarakat tersebut merupakan media komputer dan media berbasis internet. Model pembelajaran internet dibutuhkan pada model pembelajaran di daerah pedesaan. Karena model pembelajaran media internet mudah dikemas dalam proses pembelajaran, menarik, dan mudah dipahami oleh peserta didik karena masyarakat akan lebih mudah memahami jika contoh pembelajaran secara langsung atau dengan penggambaran secara nyata. Misalnya dalam suatu pelatihan pembuatan kerajinan tas, bros, dan hiasan kita dapat mencari melalui media internet sehingga bermacam-macam bentuk atau model dapat kita lihat melalui berbagai macam. Dalam proses pengajarannya dikemas dengan model media internet, cara pembuatannya kita menunjukkan tahap-tahapannya dan menayangkan video-videonya. Namun hendaknya cara pembelajarannya dicontohkan secara langsung dengan bersama-sama sehingga peserta didik dapat dengan mudah menangkap pelajaran yang di berikan oleh narasumber teknis. Media internet dapat dimanfaatkan peserta didik dalam proses pengembangan keterampilan dan usahanya, karena perkembangan zaman modern ini masih banyak masyarakat yang belum bisa memanfaatkan media internet.
Selain itu, media TV/video sebagai sarana pendidian luar sekolah mampu merebut 94% saluran masuknya pesan atau informasi kedalam jiwa manusia melalui mata dan telinga serta mampu untuk membuat orang pada umumnya mengingat 50% dari apa yang mereka lihat dan dengar dari tayangan program. Pesan yang disampaikan melalui media video dapat mempengaruhi emosi yang kuat dan juga dapat mencapai hasil cepat yang tidak dimiliki oleh media lain.
5.      Masalah-Masalah yang Terjadi di Lapangan
Menurut Yusufhadi (1984) pelaksanaan pembangunan masyarakat terutama yang berkaitan dengan masalah pendidikan masyarakat pedesaan, dalam era pembangunan dewasa ini perlu mendapat perhatian, karena dalam kenyataannya masih banyak terdapat anggota masyarakat yang tingkat pendidikannya relative masih rendah, terutama di daerah pedesaan. Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, kalu kita simak banyak sekali faktor penyebannya, antara lain yang paling mendasar dari kerendahan pendidikan tersebut, adalah  disebabkan karena faktor kesadaran akan pentingnya pendidikan baik untuk dirinya sendiri maupun untuk anggota keluargannya serta kondisi lingkungan mereka.
6.      Manfaat Teknologi Informasi dan Komunikasi bagi Pendidikan Luar Sekolah
Menurut penelusuran UNESCO (2013), ada lima manfaat yang dapat diraih melalui penerapan TIK dalam sistem pendidikan:
1)      mempermudah dan memperluas akses terhadap pendidikan
2)      meningkatkan kesetaraan pendidikan (equity in education)
3)      meningkatkan mutu pembelajaran (the delivery of quality learning and teaching)
4)      meningkatkan profesionalisme guru (teachers’ professional development)
5)      meningkatkan efektifitas dan efisiensi manajemen, tata kelola, dan administrasi pendidikan.

C.    KESIMPULAN
Etika TIK adalah sekumpulan azas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak, tata cara (adat, sopan santun) nilai mengenai benar dan salah, hak dan kewajiban tentang TIK yang dianut oleh suatu golongan atau masyarakat dalam pendidikan. Pendidikan Luar Sekolah ( PLS ) merupakan jenis pendidikan yang tidak selalu terkait dengan jenjang dan struktur persekolahan, namun dapat berkesinambungan.
 Pendidikan Luar Sekolah menyediakan program pendidikan yang memungkinkan terjadinya perkembangan peserta didik dalam bidang sosial, keagamaan, budaya, keterampilan dan keahlian. Berdasarkan fakta di lapangan maka media pembelajaran yang dibutuhkan bagi masyarakat tersebut merupakan media komputer dan media berbasis internet. Sementara manfaat TIK bagi pendidikan luar sekolah adalah mempermudah dan memperluas akses terhadap pendidikan.
D.    DAFTAR PUSTAKA
Miarso, Yusufhadi, dkk. 1984. Teknologi Komunikasi Pendidikan. Jakarta: CV. Rajawali.

Jumat, 29 April 2016

pendidikan dalam prespektif islam



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Hakikat manusia menurut Islam adalah makhluk (ciptaan) Tuhan, hakikat wujudnya bahwa manusia adalah mahkluk yang perkembangannya dipengaruhi oleh pembawaan dan lingkungan. Manusia sempurna menurut Islam adalah jasmani yang sehat serta kuat dan Berketerampilan, cerdas serta pandai.
Tujuan umum pendidikan Islam ialah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah. Jadi menurut Islam, pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia yang menghambakan kepada Allah. Yang dimaksud menghambakan diri ialah beribadah kepada Allah.

B.       Rumusan Masalah
1. Apa pengertian pendidikan dalam perspektif Islam?
2. Bagaimana ruang lingkup pendidikan Islam?
3. Apa tujuan dan fungsi pendidikan yang Islami?
















BAB II
PEMBAHASAN

A.                Definisi Pendidikan Secara Umum
Definisi pendidikan menurut para ahli, diantaranya adalah :
Menurut John Dewey, pendidikan adalah suatu proses pembaharuan makna pengalaman, hal ini mungkin akan terjadi di dalam pergaulan biasa atau pergaulan orang dewasa dengan orang muda, mungkin pula terjadi secara sengaja dan dilembagakan untuk untuk menghasilkan kesinambungan social. Proses ini melibatkan pengawasan dan perkembangan dari orang yang belum dewasa dan kelompok dimana dia hidup.
Menurut H. Horne, pendidikan adalah proses yang terus menerus (abadi) dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi makhluk manusia yang telah berkembang secara fisik dan mental, yang bebas dan sadar kepada vtuhan, seperti termanifestasi dalam alam sekitar intelektual, emosional dan kemanusiaan dari manusia.
Menurut Frederick J. Mc Donald, pendidkan adalah suatu proses atau kegiatan yang diarahkan untuk merubah tabiat (behavior) manusia. Yang dimaksud dengan behavior adalah setiap tanggapan atau perbuatan seseorang, sesuatu yang dilakukan oleh sesorang.
Menurut M.J. Langeveld, pendidikan adalah setiap pergaulan yang terjadi adalah setiap pergaulan yang terjadi antara orang dewasa dengan anak-anak merupakan lapangan atau suatu keadaan dimana pekerjaan mendidik itu berlangsung.

B.                 Definisi Pendidikan Dalam Perspektif Islam
Istilah pendidikan dalam pendidikan Islam pada umumnya mengacu pada Al-Tarbiyah, Al-Ta'dib, Al-Ta'lim. Berikut pengertiannya menurut Bukhari Umar (2010: 21-26):
a)        Pengertian Tarbiyah
Abdurrahman An-Nahlawi mengemukakan bahwa menurut Kamus Bahasa Arab, lafal At-Tarbiyah berasal dari tiga kata, yaitu:
1)   Raba-yarbu yang berarti bertambah dan bertumbuh. Makna ini dapat dilihat dalam firman Allah S.W.T.:
          وَمَآ ءَاتَيۡتُم مِّن رِّبٗا لِّيَرۡبُوَاْ فِيٓ أَمۡوَٰلِ ٱلنَّاسِ فَلَا يَرۡبُواْ عِندَ ٱللَّهِۖ    
“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah”. (Q.S. Ar-Rum [30]: 39).
2)   Rabiya-yarba dengan wazan (bentuk) khafiya-yakhfa, yang berarti menjadi besar. Atas dasar makna inilah Ibnu Al-‘Arabi mengatakan:
 فَمَنْ يَكُ سَائِلًا عَنِّ فَإِنِّ بِمَكَّةَ مَنْزِلِى وَبِهَا رُبِيْتُ
“Jika orang bertanya tentang diriku, maka Mekkah adalah tempat tinggalku dan disitulah aku dibesarkan.”
3)   Rabba-yarubbu dengan wazan (bentuk) madda-yamuddu yang berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun, menjaga, dan memelihara. Makna ini antara lain ditujukan oleh perkataan Hasan bin Tsabit, sebagaimana yang ditulis oleh Ibnu Al-Manzhur dalam Lisan Al-‘Arab:
وَلَاَنْتَ أَحْسَنُ إِذْ بَذَرْتَ لَنَا    يَوْمَ الْخُرُوْجُ بِسَاحَةِ الْقَصْرِ
مِنْ ذُرِّيَّةِ بَيْضَآءِ صَافِيَةٍ    مِمَّا تَرَبَّبَ جَائِرَةُ الْبَحْرِ
“Sesungguhnya ketika engkau tampak pada hari keluar di halaman istana, engkau lebih baik daripada sebutir mutiara putih bersih yang dipelihara oleh kumpulan air laut.”
Kata Ibnu Al-Manzhur “Rababtul amra-arubbuhu rabban wa rabbaban”, berarti aku memperbaiki dan mengokohkan perkara itu. (An-Nahlawi, 1989: 31).
Kata “tarbiyah” merupakan mashdar dari rabba-yurabby-tarbiyatan dengan fa’ala-yufa’ilu-taf’ilan. Kata ini ditemukan dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra’ (17): 24 yang artinya: “Rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidikku waktu kecil.”
Dalam terjemahan ayat di atas, kata tarbiyah digunakan untuk mengungkapkan pekerjaan orangtua yang mengasuh anaknya sewaktu kecil. Pengasuhan itu meliputi pekerjaan memberi makanan, minuman, pengobatan, memandikan, menidurkan, dan kebutuhan lainnya sebagai bayi. Semua itu dilakukan dengan rasa kasih sayang.
Dari ketiga asal kata di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan (tarbiyah) terdiri dari empat unsur yaitu:
a)      Menjaga dan memelihara fitrah anak menjelang baligh;
b)      Mengembangkan seluruh potensi dan kesiapan yang bermacam-macam;
c)      Mengarahkan seluruh fitrah dan potensi anak menuju kepada kebaikan dan kesempurnaan yang layak baginya;
d)     Proses ini dilaksanakan secara bertahap.
Dari kata al-tarbiyah ini terkandung juga unsur dan proses yang terdapat dalam pendidikan yaitu, unsur peserta didik, unsur pendidik, dan unsur caranya. (Abudin Nata, 2011: 20)
b)        Pengertian Ta’lim
Pengertian ta’lim sebagai suatu istilah yang digunakan untuk mengungkapkan pendidikan dikemukakan oleh para ahli, antara lain dapat dilihat sebagai berikut:
1)      Abdul Fatah Jalal mengemukakan bahwa ta’lim adalah proses pemberian pengetahuan, pemahaman, pengertian, tanggung jawab, dan penanaman amanah, sehingga terjadi penyucian (tazkiyah) atau pembersihan diri manusia dari segala kotoran yang menjadikan diri manusia itu berada dalam suatu kondisi yang memungkinkan untuk menerima al-hikmah serta mempelajari segala yang bermanfaat baginya dan yang tidak diketahuinya.
2)      Muhammad Rasyid Ridha memberikan definisi ta’lim sebagai proses transmisi sebagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu, tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu
3)      Muhammad Athiyah Al-Abrasyi mengemukakan pengertian at-ta’lim yang berbeda dari pendapat-pendapat di atas. Beliau menyatakan bahwa at-ta’lim lebih khusus daripada at-tarbiyah karena at-ta’lim hanya merupakan upaya menyiapkan individu dengan mengacu kepada aspek-aspek tertentu saja, sedangkan at-tarbiyah mencakup keseluruhan aspek-aspek pendidikan.
Istilah ta’lim bermakna (Deden Makbullah, 2012) proses transfer pengetahuan, pemahaman, pengertian, tanggung jawab, dan penanaman amanat. Proses tersebut menjadikan diri kita bersih dari segala kotoran sehingga siap menerima al-hikmah. Kita juga siap mempelajari segala sesuatu yang belum diketahui dan berguna. Istilah ta’lim dengan pengertian ini secara praktis merupakan proses pendidikan yang berlangsung dari masa kanak-kanak hingga akhir hayat. Bagi Syed Muhammad Naquib Al-Attas, ta’lim lebih dekat kepada pengajaran, bahkan lebih jauh dikatakan bahwa aspek kognitif yang dijangkaunya tidak memberikan porsi pengenalan secara mendasar. Istilah ta’lim berarti mengajar.
c)         Pengertian Ta’dib
Secara bahasa, kata al-ta’dib merupakan berasal dari kata:
1)   Berasal dari kata dasar “aduba–ya’dubu” yang berarti melatih, mendisiplinkan diri untuk berperilaku yang baik dan sopan santun.
2)   Berasal dari kata “adaba–ya’dibu” yang berarti mengadakan pesta atau perjamuan yang berbuat dan berperilaku sopan.
3)   Kata “addaba” sebagai bentuk kata kerja “ta’dib” mengandung pengertian mendidik, melatih, memperbaiki, mendisiplin dan memberi tindakan. Dalam hadits Nabi disebutkan:
(رواه علي عن العكسري ‎) رَ بّي تَأ دِ يبِى فَأَ حسَنِ أ دَّ بَنِي
Artinya: “Tuhan telah mendidikku, maka ia sempurnakan pendidikanku” ( HR. Al-Askary dari Ali Ra)‎
Dari pengertian dan hadist tersebut, dapat disimpulkan bahwa kata “ta’dib” mengandung pengertian usaha untuk menciptakan situasi dan kondisi sedemikian rupa, sehingga anak didik terdorong dan tergerak jiwa dan jiwanya untuk berperilaku dan bersifat sopan santun yang baik sesuai dengan yang diharapkan.
Orientasi kata al-Ta’dib lebih terfokus pada pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sedemikian rupa, sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan kekuasaan dan keagungan Tuhan di dalam tatanan wujud dan keberadaannya.

Pendidikan dalam Perspektif Islam
Menurut Langgulung (Muhaimin, 2001) pendidikan Islam tercakup dalam delapan pengertian, yaitu At-Tarbiyyah Ad-Din (Pendidikan keagamaan), At-Ta’lim fil Islamy (pengajaran keislaman), Tarbiyyah Al-Muslimin (Pendidikan orang-orang islam), At-tarbiyyah fil Islam (Pendidikan dalam islam), At-Tarbiyyah ‘inda Muslimin (pendidikan dikalangan Orang-orang Islam), dan At-Tarbiyyah Al-Islamiyyah (Pendidikan Islami).
Arti pendidikan Islam itu sendiri adalah pendidikan yang berdasarkan Islam. Isi ilmu adalah teori. Isi ilmu bumi adalah teori tentang bumi. Maka isi Ilmu pendidikan adalah teori-teori tentang pendidikan. Ilmu pendidikan Islam secara lengkap isi suatu ilmu bukanlah hanya teori.
Hakikat manusia menurut Islam adalah makhluk (ciptaan) Tuhan, hakikat wujudnya bahwa manusia adalah mahkluk yang perkembangannya dipengaruhi oleh pembawaan dan lingkungan. Manusia sempurna menurut Islam adalah jasmani yang sehat serta kuat dan berketerampilan, cerdas serta pandai. Tujuan umum pendidikan Islam ialah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah. Jadi menurut Islam, pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia yang menghambakan kepada Allah. Yang dimaksud menghambakan diri ialah beribadah kepada Allah.
1.        At-Tarbiyah al-Diniyah (Pendidikan Keagamaan)
Pendidikan adalah upaya nyata untuk memfasilitasi individu lain, dalam mencapai kemandirian serta kematangan mentalnya. Pendidikan keagamaan adalah memberi pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian, dan keterampilan menurut penguasaan pengetahuan tentang agama dan mengamalkan ajaran agamanya. Pendidikan kegamaan pada pendidikan dasar, menengah, dan tinggi mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan tentang ajaran agama dan/atau menjadi ahli ilmu agama. Yang bertujuan untuk terbentuknya peserta didik yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan atau menjadi ahli ilmu agama yang berwawasan luas, kritis, kreatif, inovatif, dan dinamis dalam rangka mencerdasakan kehidupan bangsa yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia.
Dalam proses belajar mengajarnya biasanya melibatkan pendidik dan peserta didik. Metode yang biasa digunakan beraneka ragam, misalnya metode ceramah, kisah, keteladanan dan lain sebagainya.
2.        Ta’lim ad-Din (Pengajaran Agama)
Pengajaran lebih menekankan kepada aktivitas mengajarkan (transfer knowledge) pengetahuan, teknologi dan keterampilan serta meningkat kecerdasan dan pengendalian emosinya.
Dan proses pembelajaran agar peserta didik dapat secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan dan akhlak mulia. Jadi pengajaran agama adalah aktivitas mengajarakan/menyampaikan wawasan dan pengetahuan tentang agama Islam.
3.        Al-Ta’lim ad-Diny (Pengajaran Keagamaan)
Keagamaan berasal dari kata “agama” yang mendapat awalan “ke” dan akhiran “an” sehingga menjadi keagamaan. Menurut Poerwadarminta (1986) keagamaan adalah sifat-sifat yang terdapat dalam agama atau segala sesuatu mengenai agama, misalnya tentang soal-soal agama. Atau tingkah laku manusia dengan bagaimana pola hubungannya dengan Tuhannya, sesama manusia, dan alam.
Jadi, pengajaran keagamaan adalah proses mengajarkan atau transfer soal-soal agama atau tingkah laku manusia dalam mengenal Tuhannya, misalnya tentang bagaimana tatacara melaksanakan ibadah sholat, berpuasa, bagaiamana agar lebih dekat dengan Allah, dan lain sebagainya.
Dalam proses belajar pembelajarannya terlibat antara pendidik dan peserta didik.
4.        At-Ta’lim Al-Islamy (Pengajaran Keislaman)
Pengajaran keislaman adalah mengajarkan atau memberi pengetahuan tentang keislaman, misalnya menanamkan tauhid dan aqidah yang benar, mengajari bagaiaman tatacara melaksanakan ibadah, mengajarkan tentang Al-Quran dan hadits, tentang rukun Islam, sejarah penyebaran agama Islam dari sejak nabi sampai sekarang, bagaiamana Al-Qur’an sejarah turunnya, dan lain sebagainya
5.        Tarbiyah al-Muslimin (Pendidikan Orang-orang Muslim)
Pendidikan orang-orang muslim yaitu pendidikan yang ada atau dilakukan oleh masyarakat atau lingkungan orang-orang muslim. Misalnya, mendidik berbagai adab dan akhlak mulia,  tentang bagaimana hidup berkeluarga yang rukun
6.        Al-Tarbiyah Fil Islam (Pendidikan dalam Islam)
Pendidikan dalam Islam yaitu pendidikan yang berada dalam agama Islam, misalnya tentang penetapan suatu hukum dalam Islam
7.        Al-Tarbiyah al-Islamiyah (Pendidikan Islami)
Pendidikan Islami yaitu pendidikan tentang tatacara melakukan sesuatu yang islami, misalnya membiasakan anak untuk berpakaian yang Islami, melarang perbuatan yang diharamkan, bagaimana adab berpakaian dalam Islam, bagaimana adab berbicara dalam Islam dan lain sebagainya

C.                Ruang Lingkup Pendidikan Islam
1.         Pendidikan Keimanan
Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya diwaktu ia memberikan pelajaran kepadanya:”hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesengguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedzaliman yang nyata.” (Q.S Luqman:13)
Bagaimana cara mengenalkan Allah SWT dalam kehidupan anak?
a)    Menciptakan hubungan yang hangat dan harmonis (bukan memanjakan). Jalin hubungan komunikasi yang baik dengan anak, bertutur kata lembut, bertingkah laku positif. Hadits Rasulullah:
·   Cintailah anak-anak kecil dan sayangilah mereka…:” (H.R Bukhari)
·   Barang siapa mempunyai anak kecil, hendaklah ia turut berlaku kekanak-kanakkan kepadanya.” (H.R Ibnu Babawaih dan Ibnu Asakir)
b)   Menghadirkan sosok Allah melalui aktivitas rutin, seperti ketika kita bersin katakan alhamdulillah. Ketika kita memberikan uang jajan katakan bahwa uang itu titipan Allah jadi harus dibelanjakan dengan baik.
c)    Memanfaatkan momen religius, seperti sholat bersama, tarawih bersama di bulan ramadhan, tadarus, dan lan sebagainya
d)   Memberi kesan positif tentang Allah dan kenalkan sifat-sifat baik Allah Jangan mengatakan “nanti Allah marah kalau kamu berbohong” tapi katakanlah “ anak yang jujur disayang Allah”.
e)    Beri teladan, anak akan bersikap baik jika orang tuanya bersikap baik karena anak menjadikan orang tua model atau contoh bagi kehidupannya. Dalam Al-Qur’an yang artinya “Hai orang-orang yang beriman mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan”.(Q.S As-Saf: 2-3)
f)    Kreatif dan terus belajar, sejalan dengan perkembangan anak. Anak akan terus banyak memberikan pertanyaan. Sebagai orang tua tidak boleh merasa bosan dengan pertanyaan anak malah kita harus dengan bijaksana menjawab segala pertanyaannya dengan mengikuti perkembangan anak.

2.         Pendidikan Akhlak
Hadits dari Ibnu Abas Rasulullah bersabda: “… Akrabilah anak-anakmu dan didiklah akhlak mereka.”
Rasulullah saw bersabda: ”Suruhlah anak-anak kamu melakukan shalat ketika mereka telah berumur tujuh tahun dan pukullah mereka kalau meninggalkan ketika mereka berumur sepuluh tahun, dan pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Daud)
Bagaimana cara megenalkan akhlak kepada anak :
a)    Penuhilah kebutuhan emosinya. Dengan mengungkapkan emosi lewat cara yang baik. Hindari mengekspresikan emosi dengan cara kasar, tidak santun dan tidak bijak. Berikan kasih saying sepenuhnya, agar anak merasakan bahwa ia mendapatkan dukungan. Hadits Rasulullah : “ Cintailah anak-anak kecil dan sayangilah mereka…:” (H.R Bukhari)
b)   Memberikan pendidikan mengenai yang haq dan bathil. “Dan janganlah kamu campur adukan yang haq dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, sedang kamu mengetahui.”(Q.S Al-Baqarah: 42). Seperti bahwa berbohong itu tidak baik, memberikan sedekah kepada fakir miskin itu baik.
c)    Memenuhi janji. Hadits Rasulullah :”…. Jika engkau menjanjikan sesuatu kepada mereka, penuhilah janji itu. Karena mereka itu hanya dapat melihat, bahwa dirimulah yang memberi rizki kepada mereka.” (H.R Bukhari)
d)   Meminta maaf jika melakukan kesalahan
e)    Meminta tolong/ mengatakan tolong jika kita memerlukan bantuan.
f)    Mengajak anak mengunjungi kerabat

3.         Pendidikan Intelektual
Menurut kamus psikologi istilah intelektual berasal dari kata intelek yaitu proses kognitif/berpikir, atau kemampuan menilai dan mempertimbangkan.
Pendidikan intelektual ini disesuaikan dengan kemampuan berpikir anak. Menurut Piaget seorang Psikolog yang membahas tentang teori perkembangan yang terkenal juga dengan “Teori Perkembangan Kognitif” mengatakan ada 4 periode dalam perkembangan kognitif manusia, yaitu:
a)    Periode 1, 0 tahun – 2 tahun (sensori motorik)
Mengorganisasikan tingkah laku fisik seperti menghisap, menggenggam dan memukul pada usia ini cukup dicontohkan melalui seringnya dibacakan ayat-ayat suci al-Quran atau ketika kita beraktivitas membaca bismillah.
b)   Periode 2, 2 tahun – 7 tahun (berpikir Pra Operasional)
Anak mulai belajar untuk berpikir dengan menggunakan symbol dan khayalan mereka tapi cara berpikirnya tidak logis dan sistematis. Seperti contoh nabi Ibrahim mencari Robbnya.
c)    Periode 3, 7 tahun- 11 tahun (Berpikir Kongkrit Operasional)
Anak mengembangkan kapasitas untuk berpikir sistematik
d)   Contoh : Angin tidak terlihat tetapi dapat dirasakan begitu juga dengan Allah SWT tidak dapat dilihat tetapi ada ciptaannya.
e)    Periode 4, 11 tahun- Dewasa (Formal Operasional)
Kapasitas berpikirnya sudah sistematis dalam bentuk abstrak dan konsep

4.         Pendidikan Fiksi
Dengan memenuhi kebutuhan makanan yang seimbang, memberi waktu tidur dan aktivitas yang cukup agar pertumbuhan fisiknya baik dan mampu melakukan aktivitas seperti yang disunahkan Rasulullah “ Ajarilah anak-anakmu memanah, berenang dan menunggang kuda.” (HR. Thabrani)


5.         Pendidikan Psikis
Dan janganlah kamu bersifat lemah dan jangan pula berduka cita, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. 3:139)
ü  Memberikan kebutuhan emosi, dengan cara memberikan kasih saying, pengertian, berperilaku santun dan bijak.
ü  Menumbuhkan rasa percaya diri
ü  Memberikan semangat tidak melemahkan

D.                Fungsi dan Tujuan Pendidikan yang Islami
Abudin Nata (2010) ( Pupuh Fathurrahman, 2007:121-122) menjelaskan bahwa fungsi pendidikan yang Islmani adalah  sebagai penyiapan kader-kader khalifah dalam rangka membangun kerajaan dunia yang makmur, dinamis, harmonis, dan lestari sebagaimana diisyaratkan oleh Allah. Maka pendidikan Islam semestinya adalah pendidikan yang paling ideal, karena kita hanya berwawasan kehidupan secara utuh dan multi dimensional. Tidak hanya berorientasi untuk membuat dunia menjadi sejahtera dan gegap gempita, tetapi juga mengajarkan bahwa duna sebagai ladang, sekaligus sebagai ujian untuk dapat lebih baik di akhirat.
Dengan demikian, pendidikan yang Islami mengemban misi melahirkan manusia yang tidak hanya memanfaatkan persediaan alam, tetapi juga manusia yang mau bersyukur kepada yang membuat manusia dan alam.

BAB III
PENUTUP

Simpulan
Istilah pendidikan dalam pendidikan Islam pada umumnya mengacu pada Al-Tarbiyah, Al-Ta'dib, Al-Ta'lim. Istilah “pendidikan” (at-tarbiyah atau tarbiyah) dan “pengajaran” (at-ta’lim atau ta’lim) kalau dikaitkan dengan atau disandarkan pada istilah-istilah ad-diniyah/ad-diny (keagamaan), ad-din (Agama), al-islamy (ke-Islaman), al-muslimin (orang-orang Islam), fi al-Islam (dalam Islam), ‘inda al-muslimin (dikalangan orang-orang Islam), dan al-islamiyah (bersifat Islami), akan menimbulkan perspektif yang berbeda-beda, terutama jika dikaji dari fenomena historik-sosiologik perkembangan pendidikan Islam.
Adapun ruang lingkup pendidikan Islam yakni:
1.         Pendidikan Keimanan
2.         Pendidikan Akhlak
3.         Pendidikan Intelektual
4.         Pendidikan Fiksi
5.         Pendidikan Psikis
Tujuan umum pendidikan Islam ialah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah. Jadi menurut Islam, pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia yang menghambakan kepada Allah. Yang dimaksud menghambakan diri ialah beribadah kepada Allah.



DAFTAR PUSTAKA

Fathurrohman, Pupuh & Sutikno, Sobry. 2007. Strategi Belajar Mengajar melalui Penanaman Konsep Umum & Konsep Islami. Bandung: Refika Aditama
Makbullah, Deden. 2012. Pendidikan Agama Islam Arah Baru Pengembangan Ilmu dan Kepribadian di Perguruan Tinggi). Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Muhaimin, dkk. 2001. Paradigma Pendidikan Islam upaya mengefektifkan pendidikan agama islam di sekolah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Nata, Abuddin. 2011. Pemikiran Pendidikan Islam dan Barat. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
https://www.academia.edu/8338317/Pendidikan_dalam_perspektif_Islam (diunggah 7 Februari 2016, pukul 10:46 wib)
https://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan_keagamaan (diunggah 23 Februari 2016, pukul 13:25 wib)














                                                 hasil karya :
Risma Samrotunnajah 
Siti Hanah                  
Sofwan                       
  Wiwi Nurkhanti